PENGAMANAN BANDARA SAM RATULANGI CS DIPERKETAT

Manado, MS

Sulawesi Utara (Sulut) waspada. Aksi bom di sejumlah tempat di tanah air, jadi pemicu. Memegang klaim gerbang terdepan di ujung utara Indonesia, gerak pengamanan masif dijabal. Utamanya, bagi sejumlah objek vital yang digunakan pemerintah, penegak hukum hingga masyarakat.

Langkah antisipasi ini merujuk kondisi wilayah Nyiur Melambai yang dinilai rawan. Secara geografis, jazirah utara Pulau Selebes berbatasan langsung dengan Negara Filipina. Khusus wilayah Mahrawi di Filipina Selatan, pernah menjadi basis pergerakan kelompok radikal Islamic State in Irak and Syria (ISIS). Selanjutnya, Sulut terkoneksi langsung dengan Poso di Sulawesi Tengah (Sulteng). Daerah ini dikenal sebagai ‘tanah suci’ teroris.

Di bidang transportasi, Sulut memiliki berbagai fasilitas pendukung memadai. Memiliki sejumlah bandar udara dan pelabuhan yang menjadi tempat transit masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia.

Pasca aksi bom di beberapa tempat Surabaya Provinsi Jawa Timur (Jatim), status pengamanan terhadap objek-objek vital itu telah dinaikkan. Demikian juga untuk zona perbatasan.

"Jadi untuk pengamanan bandara dan pelabuhan-pelabuhan sudah kami tingkatkan. Dalam giat ini, kita bekerja sama dan bersinergi dengan TNI (Tentara Nasional Indonesia)," terang Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulut Irjen Pol Bambang Waskito, Selasa (15/5).

Khusus perbatasan, jelas dia, pengamanan diperkuat dan penjagaan diperketat. Semisal di Talaud yang seberangnya adalah Filipina. Pihak Polda Sulut, menurut mantan Kapolda Jabar ini, dibantu kapal-kapal milik TNI yang berjaga di zona perairan Indonesia. "Yang menguntungkan kita di sana (Talaud-red), di depan Polsek paling pinggir perbatasan, lautnya terbuka. Sehingga kalau ada kapal yang merapat, langsung dikejar oleh anggota," urai Waskito.

Terkait wilayah Sulut berbatasan dengan Filipina, diakuinya, memang ada indikasi teroris. Sulut merupakan tempat transit. Namun dia sangat bersyukur, publik Sulut sangat sensitif terhadap pendatang baru. Sikap masyarakat inilah yang menurut dia perlu dikembangkan. "Kita sudah menggelar Operasi Aman Nusa di Talaud. Sudah 2 tahap kita mengerahkan Brimob dan Pol Airud di sana. Dulu memang ada sejumlah orang Jawa yang mau ke sana. Akan tetapi kita sudah tangkap di Pelabuhan Manado sebelum mereka berangkat," beber Waskito.

Selanjutnya, Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Ibrahim Tompo menambahkan, untuk menghadang gerak teroris di Sulut, langkah kesiap-siagaan dengan peningkatan kewaspadaan tugas personil dan pengamanan terhadap area publik, sudah dilakukan. “Pengamanan objek vital tetap dilakukan dengan kekuatan personil, peralatan hingga persenjataan,” kunci Tompo.

GEDUNG PUTIH SULUT DIJAGA KETAT

Rentetan aksi bom bunuh diri yang terus terjadi di Surabaya, membuat sejumlah kantor pemerintahan di Sulut dijaga diperketat. Itu termasuk Kantor Gubernur.

Terlihat personil dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) memeriksa setiap kendaraan yang masuk di kompleks ‘Gedung Putih’ Sulut itu. "Saat ini penjagaan diperketat di semua instansi Pemprov Sulut oleh Satpol PP," tandas Kepala Satpol PP Sulut Steven Liow, Senin (14/5).

"Ini instruksi Gubernur (Olly Dondokambey) agar perketat penjagaan di seluruh instansi pemerintah provinsi. Saat ini siaga satu," terangnya, sembari menambahkan telah diadakan rapat singkat yang dipimpin Wakil Gubernur Steven Kandouw dengan menginstruksikan bahwa penjagaan diperketat. Kendaraan yang masuk keluar di kantor wajib diperiksa dan itu berlaku di semua instansi.

Lanjut Liow, di wisma negara akan diperlakukan buka-tutup. "Jam delapan malam tidak ada lagi yang masuk keluar wisma," kata dia.  Selain perkantoran, pihaknya juga akan turun kelapangan guna pengamanan di rumah-rumah ibadah.

POLDA MINTA DUKUNGAN TOKOH AGAMA

Polda Sulut all out melakukan pengamanan. Selain menyiapkan personil dan perlengkapan lengkap, upaya menggaet dukungan masyarakat memberangus radikalisme dan terorisme dilakukan lewat tokoh-tokoh agama se-Sulut.

Selasa (15/5), Kapolda Irjen Pol Bambang Waskito menemui Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), di Tomohon. Kedatangan jenderal bintang dua ini untuk memastikan tingkat kewaspadaan yang dilakukan di lingkup GMIM. Hal ini terkait aksi teror yang terjadi di sejumlah gereja di Surabaya.

"Saya sangat prihatin dengan kejadian akhir-akhir ini. Saya sangat tidak setuju teror ini dikaitkan dengan agama. Ini modus baru. Sekarang sekeluarga jadi pelaku bom bunuh diri. Bahkan, bersama anak-anaknya mati. Ini sangat biadab," ujar Waskito di ruang rapat Kantor Sinode GMIM.

Untuk itu, ia berinisiatif mengunjungi pimpinan organisasi keagamaan di Sulut, termasuk GMIM. Ia berharap, ada kerja sama serta bantuan dari pihak GMIM, mulai dari pimpinan tertinggi, seluruh pejabat staf di Kantor Sinode hingga di jemaat-jemaat. Intinya, mengadakan tindakan pencegahan dan menjaga situasi serta mewaspadai setiap gerakan yang mencurigakan. "Saya yakin, dengan bantuan Ketua BPMS GMIM berserta jajaran yang ada, akan mampu mencegah. Setidaknya, kita tak usah panik dan takut. Tetapi kita harus waspada setiap saat. Kenali sedetil mungkin orang-orang baru di sekitar kita. Yang paling penting kita meningkatkan kewaspadaan," paparnya.

Menyikapi peristiwa bom di Surabaya, Kapolda meminta Sinode GMIM untuk membuat surat edaran ke jemaat-jemaat. Isinya tentang mengingatkan warga jemaat untuk tidak takut dan panik, tapi tetap waspada.

Demi menjauhkan perasaan takut masyarakat, Kapolda pun mencabut status siaga 1 satu. "Siaga 1 di Polda Sulut saya cabut. Tidak boleh siaga 1 di Polda Sulut. Ini agar kesan masyarakat tidak menakutkan. Jadi siaga 1 saya cabut, pelayanan kepolisian tetap berjalan baik, kewaspadaan saya tingkatkan," tegas Waskito yang saat itu didampingi Walikota Tomohon, Jimmy Feidie Eman SE Ak.

"Saya sudah meminta anggota-anggota yang Nasrani untuk ikut dalam misa atau ibadah di gereja-gerja, sekalian menjaga keamanan. Sebab, anggota kepolisian bisa melihat gerak gerik mencurigakan, gestur yang tak biasanya, atau teroris," sambungnya.

Sementara itu, Ketua BPMS GMIM, Pdt Dr Hein Arina menyebut, pihaknya telah mengadakan rapat internal. Tentunya, membahas tentang situasi kekinian pasca bom Surabaya. Ia juga telah merencanakan menyurati seluruh jemaat GMIM. Isi surat pun, kata dia, tak jauh berbeda dengan imbauan Kapolda. Selain itu, akan disampaikannya ke jemaat-jemaat agar meningkatkan kewaspadaan di setap pelaksanaan peribadatan. "Cara kami meningkatkan kewaspadaan, yakni sebelum jam ibadah, petugas atau Pelsus (pelayan khusus) sudah ada duluan di gereja. Setiap Pelsus akan mengidentifikasi jemaat per kolom masing-masing. Jika ada orang yang tak dikenali Pelsus, kita akan langsung melaporkan ke personil Polisi yang bertugas di gereja," sebut Arina.

Ditambahkannya, pihak GMIM akan meningkatkan sinergitas bersama Polda, Pemerintah Provinsi Sulut, Bupati dan Walikota. Ini juga merupakan respons terhadap peristiwa teror yang terjadi. "Kami mengimbau seluruh anggota jemaat se-GMIM, hendaknya mewaspadai setiap perkembangan di sekitar. Jika ada gelagat memcurigakan, secepatnya melaporkan ke Kepolisian. Jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum pasti kebenarannya. Mari kita tingkatkan kewaspadaan. Yang paling penting, gumuli hal ini dalam doa kepada Tuhan," pungkas Arina.

Diketahui, turut hadir dalam kunjungan Kapolda ini, yakni Kombes Pol Marlien Tawas SH MH, Kepala Kepolisian Resor Tomohon, AKBP I Ketut Agus Kusmayadi SIK, Wakapolres Joice Wowor, Sekretaris Sinode Pdt Evert Tangel STh MPdK dan jajaran BPMS GMIM.

TAMBAHAN PERSONIL DI WILAYAH PERBATASAN

Wilayah perbatasan termasuk sebagai fokus pengamanan saat ini. Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) yang berbatasan dengan Provinsi Gorontalo, bakal dilakukan penambahan aparat pengamanan untuk menjaga wilayah ujung selatan Bumi Totabuan itu.

"Untuk daerah perbatasan seperi wilayah kerja Polsek Pinogaluman akan ada penambahan personil," tutur Kepala Bagian (Kabag) Hubungan Masyarakat (Humas) Polres Bolmong, AKP Saiful Tamu, Selasa (15/5).

Itu dilakukan, kata dia, karena Bolmut merupakan merupakan salah satu daerah perbatasan dan berada di jalur Trans Sulawesi.

Sementara, Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Bolaang Mongondow (Bolmong) AKBP Gani F Siahaan berharap, masyarakat yang ada di daerah ini tidak resah terhadap aksi bom yang terjadi di sejumlah tempat di Surabaya. "Himbauan saya masyarakat tidak perlu resah dan tetap bekerja seperti sedia kala tapi tetap waspada kami aparat kemanan siaga 1 jika ada hal-hal yg mengkhawatirkan segera di lapor ke kantor polisi terdekat. Karena musuh kita adalah teror, kalau masyarakat merasa ketakutan, maka pelaku teror merasa tujuannya berhasil oleh sebab itu mari bersama-sama aparat dan masyarakat melawan teror yg terjadi," pungkasnya.

SIAGA, GUBERNUR KELUARKAN EDARAN

Ancaman teriorisme kian meresahkan masyarakat. Serangan bom (bunuh diri) yang dilancarkan oleh para teroris ini membuat stabilitas negara terusik. Akan hal itu, Gubernur Sulut Olly Dondokambey  langsung mengeluarkan surat edaran agar masyarakat dapat berjaga. Surat edaran tersebut disampaikan Wagub, Steven Kandouw.

"Ditujukan kepada Bupati dan Walikota se-Sulawesi Utara. Pertama, diminta kepada Bupati/Walikota agar koordinasi dan kerjasama dengan Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah) dalam menjaga keamanan dan ketertiban wilayah masing-masing. Memperketat pengawasan pada perkantoran serta fasilitas pemerintah, termasuk pusa-pusat keramaian sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur)," ungkap Kandouw, Senin (14/5) kemarin.

Selanjutnya, meningkatkan peran aktif warga dalam keamanan dan ketertiban di Pos Kemanan Lingkungan atau Pos Kamling secara kontinu. Kemudian, menghimbau jemaat dan warga masyarakat  sekitar agar dapat meningkatkan keamanan di rumah-rumah ibadah. terutama saat umat sedang melaksanakan ibadah dapat melibatkan aparat keamanan.

"Bagi tamu yang akan menginap wajib melapor 1X 24 jam. Mengawasi pengguna medsos (media sosial) yang menyebarkan paham radikalisme dan jika didapati terindikasi paham radikalisme agar melaporkan kepada pihak yang berwenang. Melakukan hal-hal yang dapat menciptakan nyaman bagi seluruh warga masyarakat," jelasnya.

"Demikian edaran ini. Tadi Kesbangpol sudah mengumpulkan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) dan BKSUA (Badan Kerja Sama Umat Beragama) untuk merapatkan barisan. Kalau ada hal yang mencurigakan supaya selalu berkoordinasi denga tokoh-tokoh atau pimpinan umat yang ada di Sulawesi Utara," sambung dia.

Secara khusus juga Wagub menghimbau agar kanto-kantor pemerintah, baik di lingkungan instansi Pemprov, instansi vertikal untuk tetap melakukan penjagaan dan pengawasan. "Mari kita percayakan kepada aparat keamanan kita  TNI dan Polri. Yang pasti TNI/Polri mampu menjaga kemanan dan ketertiban. Kita tidak perlu cemas, kita tidak perlu takut kepada teroris. Teroris yang harus takut kepada kita," kuncinya.(tim ms)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.