Unjuk rasa di kantor PT. Pertamina Bitung. ist

Pertamina Bitung Digoyang Demo

Ahli Waris Tuntut Hak, Polisi Bubarkan Paksa

Bitung, MS
Aksi demo kembali goyang Depot Pertamina Bitung. Penyelesaian sengketa lahan Pertamina yang tak kunjung usai, jadi pemicu. Ratusan pendemo pun menyambangi kantor PT Pertamina itu.
Didukung mahasiswa dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), ahli waris melakukan demo. Mereka meminta agar PT Pertamina segera mengambil keputusan terhadap ganti rugi lahan. "Pertamina Bitung harus segera menyelesaikan masalah ini. Kami menilai, Pertamina sengaja mengulur-ulur waktu," sembur Simon Tudus, juru bicara ahli waris.
Demo pun makin panas. Beberapa penyampaian pendemo membuat kuping petugas panas. Disinyalis ada oknum yang melakukan provokasi. Karena mulai tak terkendali, polisi terpaksa membubarkan paksa demo tersebut.
Karena berupaya dibubarkan paksa, sejumlah pendemo tetap malawan. Dorong mendorong antar pendemo dan petugas nyaris tersulut jadi bentrok. Beruntung, suasana tidak menjadi lebih panas lagi.
Selain mulai ada yang memprovokasi, pembubaran massa disebabkan masalah administrasi. Ternyata, demo yang dimulai pada Pukul 09.00 Wita hingga Pukul 14.00 Wita itu, tidak didukung izin kepolisian. "Para pendemo tidak mengantongi izin. Jadi harus dibubarkan," kata Philemon Ginting.
Dia juga mengatakan, jajaran Polres Bitung berupaya mengamakan situasi agar tetap kondusif. "Kawasan ini merupakan salah satu objek yang sangat vital di wilayah Pertamina. Apalagi sekarang menjelang Lebaran dimana distribusi BBM wajib kita amankan," beber Ginting.
Sejak awal, ungkap Ginting, dia tidak keluarkan izin demo yang diajukan. Kendati tak ada izin, pihak ahli waris tetap melaksanakan demi. "Kami dari jajaran Kepolisian Resor Bitung sudah melakukan pencegatan saat massa mau melaksanakan demo. "Tapi kita masih memberikan toleransi. Saat mereka sudah mendorong untuk menerobos masu ke dalam, kita sudah ada pagar betis untuk menghadang dan terdilah gesekan gesekan," paparnya.
Alasan lain pembubaran, tambah Ginting, karena kawasan itu sangat vital. "ita harus membubarkan dengan paksa. Kita semua menjaga kepentingan umum. Semua, bukan hanya satu kepentingan usaha, tapi seluruh Sulawesi Utara kita jaga,"
Sebelum pembubaran selesai, petugas berhasil mengamankan sejumlah pendemo yang dinilai memprovokasi massa. "Mahasiswa yang ditangkap, sampai sekarang masih dalam pendataan," bebernya.
"Berapa yang diamankan oleh petugas, sekarang ada yang sudah tertangkap ada yang masih dalam pengejaran," timpalnya.
Akibat demo itu, sejumlah kendaraan distributor BBM, yang melayani pasokan ke sejumlah daerah, sempat tertahan. "Saya berharap, pasokan BBM ke-15 kabupaten kota di Sulut akan lancar kembali seperti biasa," harapnya.
Penanganan Demo, kata Ginting, harus sesuai aturan. Sebab kata dia, kepentingan hak ahli waris dari kelurga harus. "Kita jaga juga karena sampai sekarang masih berproses. Bukan dengan cara seperti ini atau bisa dikatakan tindakan arogansi. Yang harus kota jaga adalah kepentigan umum bukan perseorangan," terangnya.
Sementra itu, manajemen Pertamina saat konfrensi pers mengatakan, sudah sudah berupaya melakukan penyelesaian, namun belum berhasil. "Kami dari pihak Pertamina merasa sudah mencoba untuk melakukan negoisasi dengan para kuasa hukum dan ahli waris dari keluarga Simon Tudus. Kami juga sudah mengundang mereka untuk berbicara solusi yang kami tawarkan, namun tidak ada titik temu," terang Daniel, salah satu petinggi Pertamina Manado.(joy watania)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.