Salah satu pemuda desa Picuan Lama dengan latar Batu ‘Dasar Desa” yang tetap dijaga mereka

“Pinekuan, Batu Budaya dan Elur Mateup”

Sekilas Tentang Sejarah Desa Picuan Lama

 

Oleh : Iswadi Sual

(Pegiat Budaya Minahasa, Penggerak Sanggar Tumondei Minsel)

 

Pertama kali menginjakkan kaki di desa Picuan Lama Kecamatan Motoling, barangkali akan melahirkan kesan lain dari yang lain dibading saat mengunjungi desa lainnya di tanah Minahasa. Sebab salah satu desa di wilayah pemerintahan kabupaten Minahasa Selatan ini masih diselimuti hutan lebat dan dekapan sunyi.

Kisah-kisah yang masih tersimpan di ingatan tou (orang) Minahasa, keberadaan desa ini berhubungan dengan peristiwa perang Minahasa-Bolmong pada zaman dahulu. “Menurut cerita para tetua, daerah Picuan Lama ini awalnya merupakan ‘steleng’, salah satu lokasi pertahanan para waraney (ksatria Minahasa). Steleng ini secara bergantian didiami oleh waraney-waraney dari Tolour, Tombulu dan Tontemboan. Makanya penduduk di daerah ini merupakan keturunan Tontemboan, Tombulu dan Tolour,” terang Budayawan Minahasa, Matulandi Supit.

 Masyarakat Desa Picuan Lama juga masih mewarisi kisah turun-temurun soal keberadaan kampung mereka. Nicolas Marten Lendo salah seorang tua-tua kampung mengungkapkan, diceritakan bahwa desa Picuan Lama didirikan dengan upacara adat ‘tumani’. Biasanya dalam upacara tumani ada bagian dimana terjadi proses pematahan lidi seho atau enau, yang dimasukan dalam kendi atau kure’ dan dikuburkan di tanah tapi di Picuan ternyata lain. “Leluhur kami menceritakan bahwa saat upacara tumani di desa ini dilangsungkan, menggunakan bayi (orok) yang tak bernafas ketika lahir dan ayam berbulu putih,” terang Lendo.

Ia juga menuturkan, upacara tumani itu dilakukan oleh leluhur mereka bernama Rumondor dan Tompodung. “Picuanasal katanya adalah pinekuan (Dalam bahasa Manado artinya: tampa da sepatah akang lidi/tuis) yang berarti tanda atau batas. “Tanda atau batas ini untuk memisahkan antara Picuan dan Wanga. Dalam upacara ini pula ada semacam mantera yang diucapkan agar supaya setiap orang yang datang ke desa ini sangat menyesal bila akan meninggalkannya. Orang akan merasa susah untuk beranjak dari desa ini. Makanya di gapura masuk desa tertulisElur ma te up. Sebuah ungkapan ‘selamat datang’ yang memiliki makna yang dalam. Selain itu, pinekuan itu juga bertujuan untuk menghalau musah yang memiliki maksud jahat di desa kami. Desa Picuan Baru dan Powalutan katanya juga didirikan dengan upacara adat oleh orang Picuan,” tambah Lendo.

Menurut warga setempat, tempat upacara tumani tersebut diberi tanda dengan didirikannya sebuah batu. Batu tumani desa Picuan Lama hingga kini masih berdiri kokoh. Sampai hari ini masyarakat sekitar masih menghargai peninggalan leluhur mereka dan kadang mereka melakukan ibadah (dalam tradisi Kristen) di batu ini. Tempat upacara tumani ini oleh warga desa sering disebut Batu Budaya atau Batu Dasar Desa. Ini juga tak lepas dari kebiasaan masyarakat yang masih memperlihatkan sikap hormat mereka terhadap budaya warisan leluhur. Hal itu diantaranya diperlihatkan warga desa dalam menjaga situs budaya warisan leluhur tersebut. (**) 

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.