Yasti Mokoagow

Polda Sulut ‘Kuliti’ Bupati Yasti

Manado, MS

Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) Yasti Soepredjo Mokoagow, akhirnya memenuhi panggilan Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (20/6).

Kepala daerah terpilih tahun 2017 ini datang untuk diperiksa, sebagai saksi dalam kasus tindak pidana dan pengrusakan yang dilakukan oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Bolmong di PT Counch North Sulawesi Cement (CNSC).

Pantauan Media Sulut, Yasti mendatangi Mapolda Sulut pada pukul 13.46 WITA, dengan mobil Toyota Fortuner DB 1 D. Dirinya datang mengenakan kemeja biru dan syal warna hitam putih. Saat melihat awak media, Yasti hanya melayangkan senyuman lalu menuju ruangan penyidik Reserse Kriminal Umum Polda Sulut.

Sekitar pukul 16.30 WITA, Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Sulut keluar dari ruangan dan menjelaskan, proses pemeriksaan ini memang panjang. Karena masih dibutuhkan keterangan tambahan, terkait dengan kasus tersebut.

Saat disentil soal peluang Yasti ditetapkan sebagai tersangka, Tompo menyebut itu masih asumsi. Namun dirinya tak menutup kemungkinan, kalau dari hasil keterangan yang didapat dan dikembangkan serta merujuk adanya ketekaitan dimungkinan untuk diangkat menjadi tersangka.

"Tapi ini kan, pemeriksaan masih berlangsung, jadi tergantun hasil pemeriksaan, dan saksi-saksi yang merujuk nanti," jelas Kabid Humas.

Disebut jika memang Yasti adalah otak dari tertangkapnya oknum aparat Satpol PP. Tompo menyebut itu spesifikasi dari hasil penyelidikan dan masih dikembangkan serta ditelusuri.

"Terkait klarifikasi dan penertiban kerusakan. Kita tidak meninggalkan arti penertiban yang dilakukan oleh aparat. Namun bukti yang diangkat di Polda Sulut, itu terkait dengan adanya pengrusakan, sedangkan penertiban yang dilaksanakan dengan tidak bertanggung jawab, itu mempunyai konsekuensi hukum dan ini yang terjadi. Apa yang dilaksanakan Pemda Bolmong, itu terkait penertiban yang tidak sesuai aturan sehingga akhirnya terjadi pengrusakan," ungkapnya.

Saat dimintai klarifikasi apakah pemeriksaan yang dilakukan Polda Sulut sudah meminta izin dari Gubernur dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tompo menjelaskan mekanisme itu tetap dilakukan. Namun apabila pemeriksaan sampai kepada penetapan tersangka, baru pihaknya akan meminta izin kepada Presiden. "Sekarang kan baru diperiksa sebagai saksi, jadi kami belum meminta izin," tandasnya.

Yasti sendiri, dalam acara konferensi pers yang digelar dengan wartawan pos liputan Bolmong, mengakui kalau dirinya tidak gentar menghadapi masalah hukum di PT CNSC.

Itu dikatakan Yasti karena menurutnya, apa yang dilakukan berdasarkan aturan.

 ‘’Saya yang bertanggung jawab atas pengrusakan oleh Polisi Pamong Praja (Pol-PP) soal mess karyawan PT Conch North Sulawesi Cement,’’terang Yasti dalam acara konferensi pers bersama wartawan, Rabu (7/6) lalu.

Yasti juga menjelaskan, bilamana ada panggilan dari pihak Polda, dirinya siap memberikan keterangan. ‘’Yang pasti apa yang dilakukan oleh jajaran saya sudah sesuai dengan aturan yang ada dan atas perintah saya,’’ ungkapnya.

Dia pun menyampaikan kepada Kepala Dinas Sat-Pol PP Imran Nantudju, untuk menyampaikan kepada petugas polisi, kalau semua yang dilakukan pihaknya berdasarkan perintah bupati.

‘’Prosedur yang saya lakukan tidak menyalahi aturan. Harusnya memang bangunan yang tidak ada IMB-nya harus diruntuhkan,’’ tegasnya.

Lebih lanjut dijelaskan Yasti, pihaknya kini sementara menunggu hasil kajian dari Kementerian ESDM. ‘’Hasil kajiannya seperti apa, kita tunggu.  Saya pun lagi tunggu petunjuk dari Gubernur Sulut Olly Dondokambey soal perkembangan kajian layak atau tidak dibangunnya pabrik semen di Bolmong,’’ pungkasnya.

Pantauan media, hingga pukul 21.30 WITA, Bupati Yasti belum juga keluar dari ruangan pemeriksaan. Sementara, kehadirannya di Mapolda Sulut ikut didampingi Wakil Bupati Yanny Tuuk. (rhendi umar)

Banner Media Sulut

Komentar