HAG dan JWS

RIVAL SEPADAN

Minahasa, MS

 

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Minahasa, sudah didepan mata. Tahapan pesta demokrasi rakyat di Tanah Malesung itu, akan mulai digulir bulan juni 2017 ini. Tensi politik pun kian meninggi. Sederet figur mulai dielus untuk uji tarung di ajang lima tahunan itu.

Malah ada kandidat yang intens turun lapangan untuk menarik simpatik warga. Baliho-baliho beraroma Pilkada kini menghiasi wajah Tanah Toar Lumimuut.  Jantje Wowiling Sajow (JWS) jadi kandidat yang paling menonjol. Maklum, sang petahana itu, makin gencar menyosialisasikan diri untuk maju kembali di Pilkada serentak yang akan dihelat juni 2018 mendatang.

Disusul, nama-nama lainnya seperti, Careig Naichel Runtu (CNR), Ivan Sarundajang (Ivansa), dan Hangky Arther Gerungan (HAG).  Sosok-sosok yang sudah populer di kalangan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) itu juga getol digaungkan untuk berjibaku merebut DB 1.

Ada pula wajah baru, kayak Robby Dondokambey, Erick Maliangkay, Youla Lariwu, serta sejumlah calon kontestan lainnya. Dinamika politik jelang Pilkada Minahasa pun makin panas.

Meski begitu, dimata pemerhati politik, lawan seimbang jika terjadi head to head  itu, ada pada kandidat JWS dan HAG. Bila keduanya bersaing di arena, pertarungan di Pilkada Minahasa dinilai akan berlangsung ketat.

“Tak bisa dipungkiri, rival sesungguhnya JWS itu ada pada sosok HAG. Apalagi kalau hanya mereka berdua yang maju di Pilkada,” ungkap Taufik Tumbelaka, salah satu pengamat politik Sulut, kepada harian ini, Kamis (15/6) kemarin.

“CNR dan Ivansa juga sosok yang populer. Tapi mereka agak tertutupi dengan nama besar orang tuanya (Stefanus Vreeke Runtu dan Sinyo Harry Sarundajang, red). Kalau yang wajah baru, perlu tambah sosialisasi lagi agar bisa dilirik parpol,” sambung alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Pilkada Minahasa 2012 lalu, dinilai jadi salah satu gambaran kekuatan HAG. Meski diusung gabungan partai yang kala itu tergolong kecil, namun salah satu pengusaha sukses asal Kakas itu mampu meraih dukungan 55 ribu lebih suara dan menempati urutan ketiga di Pilkada.  “Apalagi kalau HAG diusung oleh salah satu partai besar seperti Golkar atau PDIP yang eksistensi telah mengakar di Minahasa. Peluangnya tentu semakin besar,” terang Bang Taufik, sapaan akrabnya.

“Peluang itu ada (Diusung Golkar atau PDIP, red). Sebab HAG dikenal dekat dengan Golkar. Beliau itu kan pernah menjabat Ketua Kosgoro Sulut yang notabene organisasi yang berafiliasi dengan Golkar. Di PDIP juga, HAG dekat dengan Ketua PDIP Sulut, Olly Dondokambey. Bahkan menjadi tim pemenangan OD-SK di Pilkada Sulut  2015 lalu,” tambahnya.

Begitu pula dengan JWS. Politisi Moncong Putih itu dinilai masih menjadi kandidat yang paling diperhitungkan. Selain incumbent,  ia juga merangkap Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Minahasa. “Dari sisi peluang, JWS yang paling berpotensi besar diusung PDIP.  Selain pimpinan partai,  petahana lagi. Itu kredit pointnya,” ulas Taufik.

“Dari segi massa juga banyak. Baik dari militan partai, maupun PNS. Utamanya yang menduduki jabatan. Pasti semuanya akan berjibaku untuk mendukung JWS,” sambung Putra Gubernur pertama Sulut itu.

Ia pun meyakini, banyak masyarakat yang mendambakan JWS dan HAG untuk maju di Pilkada Minahasa. “Sebab itu dua sosok yang paling populis di Minahasa saat ini. Kalau mereka bertarung, pasti Pilkada akan seru dan berjalan ketat. Politik itu kan dinamis. Semua bisa terjadi. Kita tunggu saja,” tandasnya.

Diketahui di Pilkada Minahasa 2012 lalu, HAG yang berpasangan dengan Recky Janeman Montong diusung partai Partai Gerindra, PDS, Barnas dan PPRN. Sementara pasangan JWS –Ivansa diusung PDIP. Golkar dan Demokrat mengusung CNR dan Denny Johnlie Tombeng. Sedangkan pasangan Johana Anna Youcke Kaseger dan Ferdinand Novi Mewengkang dari partai gabungan non parlemen (non seat, red), dan pasangan Arianne Frederik Nangoy dan Jefry Jani Mentu (AFN-JJM) maju melalui jalur perseorangan atau independen.

KANS JADI ARENA UJI TARUNG PDIP VS GOLKAR

Pilkada Minahasa diprediksi akan menjadi arena pertarungan PDIP dan Golkar. Dua partai yang telah mengakar di Minahasa itu, dinilai akan bersaing sengit untuk memperebutkan kursi DB 1.

Meski tak menafikan akselarasi dari partai besar lainnya, seperti Partai Demokrat dan Gerindra. Namun rivalitas dua musuh bebuyutan di Tanah Toar Lumimuut, kans tak terelakkan. Mengingat ‘dendam’ politik antar kedua partai itu, sudah merambah hingga ke akar rumput.

“PDIP dan Golkar sulit untuk menyatu di Minahasa. Sudah ada dendam diantara keduanya. Golkar pasti bertekad merebut kembali kejayaannya. Mengingat Golkar sempat 10 tahun berkuasa di Minahaasa saat masa kejayaan SVR. PDIP sendiri juga tentu tak mau melepaskan tahta yang kini ada digenggaman ,” tanggap Taufik Tumbelaka.

“Kelihatan kader-kader Golkar masih berdiam diri. Tapi kalau sudah ada kandidat, pasti mereka akan muncul semua. Dan umumnya kader-kader Beringin yang sempat berkuasa di jaman SVR itu, umumnya memiliki pengaruh di wilayahnya masing-masing,” sambungnya.

Pun begitu, kans Golkar untuk menang di Pilkada, sangat memungkinkan terjadi, bila pertarungan dilakukan head to head dengan PDIP. “Kalau ada beberapa parpol yang mengusung calon, Golkar harus kerja super extra. Tapi jika hanya bertarung dengan PDIP, peluang menangnya akan lebih besar.  Jadi Golkar harus bermanuver agar Pilkada Minahasa hanya mengusung dua pasangan calon,” urai Taufik.

“Tapi tentu harus mengusung kandidat yang populis. Kan Golkar sudah ada pengalaman positif di Pilkada Sangihe. Selain mengusung calon yang populer,  pilkada hanya mengusung dua kandidat. Disana (Sangihe, red) PDIP kalah. Incumben lagi,” terangnya lagi.

Ia pun sedikit menyinggung soal HAG. “Tapi dipungkiri, sosok HAG itu sangat menjual. Kalau Golkar kasih peluang HAG jadi calon bupati dengan berpasangan dengan kader golkar yang potensial, itu bisa jadi ancaman besar bagi PDIP,” imbuhnya.

PDIP sendiri, utamanya JWS, diyakini menginginkan Pilkada Minahasa diikuti beberapa kontestan. “Kalau banyak calon yang ikut PDIP yang lebih berpeluang untuk menang. Dan besar kemungkinan PDIP akan bikin Pilkada diikuti lebih dari dua pasangan calon,” timpalnya.

Selain itu, faktor papan dua juga akan ikut menentukan di Pilkada Minahasa. “Jika PDIP atau Golkar salah pilih papan dua, itu juga berbahaya. Karena di Minahasa, papan dua sangat berpengaruh dalam menentukan suatu kemenangan,” ungkap Taufik.

“Yang pasti, Pilkada Minahasa itu selalu panas. Dinamika politik disana sangat tinggi. Dan banyak elit yang berkepentingan disana. Sebab Minahasa merupakan salah satu daerah yang memiliki jumlah pemilih terbesar di Sulut,” kuncinya.

BERINGIN BUKA PELUANG BAGI HAG

Bak gayung bersambut, Partai Golkar membuka peluang bagi HAG, untuk menjadi kandidat bupati Beringin di Pilkada Minahasa 2018 mendatang. Hasil survei akan menjadi salah satu tolak ukur dalam penentuan  cabup Golkar.

Sinyal itu diungkapkan  Sekretaris DPD II Golkar Minahasa, Febry Suoth. “Ya, bisa saja. Selama HAG bisa memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan partai, kenapa tidak,” ungkap Febry kepada harian ini, Kamis (15/6) kemarin.

“Golkar itu partai terbuka. Jadi figur eksternal partai yang potensial juga kita perhitungkan,” sambungnya.

Ia pun mengakui, Golkar intens berkomunikasi dengan figur eksternal, seperti HAG, Ivan Sarundajang, Robby Dondokambey, hingga petahana Jantje Wowiling Sajow. “Itu namanya komunikasi politik,” mantan anggota legislator Minahasa dari Golkar itu.

Sementara dari internal partai, Febry juga mengaku memiliki kader potensial yang juga berpeluang diusung sebagai kandidat. Seperti Careig Naichel Runtu, James Kojongian dan Ivone Andries. "Yang pasti dalam perekrutan calon Bupati dan Wakil Bupati di Pilkada nanti, Golkar akan mengacu pada aturan dan mekanisme partai," paparnya.

Menurutnya, kemenangan di Pilkada Minahasa 2018 sudah menjadi harga mati.   "Kekalahan di Pilkada 2012 lalu kami jadikan motivasi untuk semakin mempersiapkan diri meraih kemenangan pada Pilkada 2018 mendatang. Kemenangan itu harus direbut kembali," tegas South.

Sejumlah persiapan, diakuinya, sementara dilakukan kubu Beringin Minahasa guna suksesi Pilkada nanti. Salah satunya soal penguatan kelembagaan di internal partai.

Suoth menjabarkan bahwa sudah ada langkah-langkah strategis yang disiapkan untuk pemenangan Pilkada nanti. "Intinya semua lini terus dipersiapkan. Golkar Minahasa sudah merapatkan barisan dalam suksesi Pilkada nanti," sebutnya.

"Konsolidasi di tingkat kecamatan sudah selesai dilakukan, dan saat ini Golkar sementara dalam tahap konsolidasi ditingkat desa dan kelurahan. Pada intinya partai Golkar siap mengerahkan semua infrastruktur yang dimiliki untuk memenangkan Pilkada nanti," kuncinya.

Senada disampaikan Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulut, Eddyson Masengi. Penetapan pasangan calon di Pilkada Minahasa akan mengacu dari hasil survei. “Semua tergantung hasil survei. Yang pasti kita target menang disana (Minahasa, red),” singkatnya.

Ditempat terpisah, Ketua DPD I Partai Golkar Sulut, Stefanus Vreeke Runtu (SVR) juga ikut menegaskan Beringin dipastikan akan mengusung pasangan calon di Pilkada Minahasa. Dan salah satu penentuan penetapan kandidat, melalui hasil survei. “Kita pasti mengusung pasangan calon. Tentu kita akan melirik calon yang menguntungkan dan berpotensi menang. Karena di Minahasa (Pilkada, red), kita target menang,” lugasnya.

Disinggung soal nama HAG, SVR menyebut sudah pernah berkomunikasi. “Kami sudah menanyakan kepada bapak (HAG, red), tapi beliau sampaikan waktu itu tidak akan maju. Tapi kita tetap berkomunikasi,” tandasnya.

Diketahui, HAG sendiri hingga kini belum menyatakan diri untuk maju di Pilkada di Minahasa. Namun arus bawah yang menginginkan HAG maju di pesta demokrasi rakyat itu terus mengalir deras. Salah satu datang dari salah satu tokoh generasi muda langowan, Franky Sumual.

"Sosok seperti pak Hangky Gerungan sangat dibutuhkan untuk pembaharuan di Minahasa. Masyarakat butuh seorang pemimpin seperti beliau," katanya.

Sosok rendah hati dan sifatnya yang dekat dengan rakyat jadi alasan utama Franky mendukung HAG dalam Pilkada nanti. "Intinya kita siap mengawal jika benar pak HAG ingin maju dalam Pilkada," tandasnya.

Diketahui, syarat parpol mengusung pasangan calon di Pilkada Minahasa, minimal memiliki 7 kursi atau 20 persen dari 35 kursi di DPRD Minahasa. Dan hanya 2 partai yang dipastikan bisa mengusung pasangan calon. Yakni PDIP (11 kursi) dan Golkar (9 kursi). Sementara parpol lain harus gabung bila akan mengusung pasangan calon. Seperti Demokrat (5 Kursi), Gerindra (5 Kursi), Nasdem (3 Kursi), PKPI (1 Kursi) dan Hanura 1 Kursi.(tim ms)

 

 

 

 

Banner Media Sulut

Komentar