Sinangiang Ratun Taroda disambut secara adat.

Rrangkattu Tonna Mengalun di Bumi Porodisa

Sinangiang Ratun Taloda Tegaskan Komitmen Melestarikan  Adat

 

Laporan: Jos Tumimbang

Pesta adat Rrangkattu Tonna kembali tersaji di Bumi Porodisa. Berbagai elemen masyarakat menyatu dalam ekspresi syukur itu. Tak terkecuali sang Sinangiang Ratun Taloda. Komitmen untuk melestarikan tradisi adat yang ada di Talaud pun ditegaskan.

Acara adat Rrangkattu Tonna 2017, digelar di Kelurahan Beo, Kecamatan Beo, Jumat (27/1). Bupati Talaud, Sri Wahyumi Maria Manalip, SE hadir dalam kegiatan tersebut sekaligus menggariskan komitmen pemerintah bagi eksistensi tradisi adat dan budaya di wilayahnya.

Rrangkattu Tonna merupakan tradisi adat turun-temurun yang setiap tahunnya dilaksanakan oleh masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud. Hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur tahun baru oleh karena penyertaan Tuhan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

2017 ini, Rrangkattu tona mengambil tema, "Paairralla Maola Aranransangu Soa, Surimbuattu Sanggaroma," (Perbedaan itu menjadi satu keindahan kampung, kalau ada semangat persatuan), dengan sub tema "Mabiatta supaairrala latio uasanggaroma mawu mariappu aramanne," (Masyarakat hidup rukun dan damai dalam perbedaan, Tuhan mencurahkan berkatnya).

Bupati Sri Wahyumi Maria Manalip, SE yang didaulat sebagai Sinangiang Ratun Taloda pada kesempatan tersebut, disambut secara adat oleh Ratum Tampa dan Ratum Banua yang diiringi dengan tambur, tarian perang dan tarian lenso, sebelum duduk di kursi kehormatan.

Dalam sambutannya Bupati Talaud mengatakan, Rrangkattu Tonna merupakan warisan budaya para leluhur yang tidak boleh dianggap sebagai upacara adat biasa saja. "Acara ini harus dimaknai karena sarat dengan nilai-nilai historis budaya, sebagaimana kilas balik peristiwa yang terjadi di tahun 2016 lalu. Dan tentunya lewat kesempatan ini kita menatap perjalanan yang baru di tahun yang baru dengan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kiranya diberikan kemurahan dan pengharapan sehingga tahun 2017 ini menjadi tahun berkat, tahun rahmat Tuhan yang penuh kedamaian," ujar Sinangiang Ratun Taloda ini.

Orang nomor satu di Bumi Porodisa ini pun, meminta kepada masyarakat di Kecamatan Beo untuk benar-benar memaknai tradisi budaya Rrangkattu Tonna tersebut. Sebab menurut dia peran pemerintah, tokoh adat dan masyarakat bersama-sama harus bersinergi dalam acara ini.

"Saya menghimbau agar ke depannya ketika melaksanakan acara adat seperti ini masyarakat harus memiliki kesadaran yang tinggi akan peran adat di tengah- tengah kehidupan berbangsa dan bernegara karena setelah dilihat banyak sekali masyarakat yang tidak menghadiri acara ini," ujar Srikandi ini.

Dikatakannya, di tahun 2016 telah terukir catatan sejarah dalam berbagai peristiwa, suka maupun duka berbagai kegagalan dan kesuksesan telah dialami, namun demikian peristiwa tersebut menjadi pijakan dari suatu perubahan, wawasan untuk membangun nilai-nilai budaya yang berkarakter, adat budaya nusantara yang beralaskan semangat untuk mendapatkan kesejajaran dalam dunia modern ini.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Sekretaris Daerah Ir Adolf Binilang ME, Wakil Ketua Dekab Talaud Jakob Mangole SE dan Capt. Gunawan Talenggoran SE MMar serta beberapa Anggota DPRD Talaud yang lain seperti Semuel Bentian SH MH, Meike F Manganguwi, Stevy F. Manahampi SH, Jim W. Maatuil SPd dan Denny R. Marthin, Pejabat Tinggi Pratama, Perwira Penghubung Kodim 1301 Sangihe dan Talaud Sigfried Panaha, Pejabat Eselon III dan IV di Lingkungan Pemkab Talaud, Camat Beo bersama Jajaran, Pentua Adat Se- Kecataman Beo. (*)

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado