FS alias Salindeho

Salindeho Resmi Huni Rutan Malendeng

Manado, MS

Perkara korupsi pengadaan Solar Cell jilid 2 di Manado, dipacu. Kasus yang menyeret tersangka FS alias Salindeho yang ditangani Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut), kini telah masuk tahap II, yakni penyerahan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulut. Salendeho pun berpindah dari Rumah Tahanan (Rutan) Polda Sulut ke Rutan Malendeng, Senin (27/11) kemarin.

Berdasarkan informasi yang diterima, Salindeho dibawa ke Kejati Sulut setelah menyelesaikan administrasi di Kejaksaan Negeri (Kejari) Manado. Dari situ ia langsung digiring ke Rutan Malendeng. Salindeho dibawa dengan mobil milik seorang Jaksa dari Kejari Manado sekira pukul 17.00 Wita. Tersangka turut dikawal Jaksa Kejati Sulut Alexander Sulung.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) ketika dikonfirmasi, membenarkannya. "Perkara sollar cell, hari ini sudah diserahkan tersangka dan barang bukti dari Polda Sulut ke Kejati Sulut. Kejari Manado telah lakukan penahanan," jelas Malaka.

"Tersangka dijerat Pasal 2, Pasal 3 Juncto Pasal 18 Undang-Undang Tipikor Juncto Pasal 55 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, red),” ungkap Malaka.

Diketahui, dalam kasus korupsi Solar Cell Manado jilid II, selain Salindeho, penyidik Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda Sulut, telah menjerat mantan Kepala Dinas (Kadis) Tata Kota (Takot) Manado, BM alias Mailangkay sebagai tersangka. Namun, berkas perkara Mailangkai belum kunjung diserahkan ke Kejati untuk diteliti. Pasalnya, Mailangkay telah menghilang. Alhasil, polisi memberikan status Daftar Pencarian Orang (DPO) kepada Mailangkay.

Hanya saja, surat DPO bernomor: DPO/3/IX/2017/Dit Reskrimsus, ditandatangani Direktur Ditreskrimsus Polda Sulut, Kombes Pol Dedi Sofiandi, 7 September lalu, tidak membuahkan hasil. Sebab, sampai saat ini keberadaan mantan pejabat Pemkot Manado itu belum diketahui.

Keterlibatan Salindeho dan Mailangkay terendus dalam proses persidangan yang menjerat terpidana Paulus Iwo, Aryanti Marolla, Robert Hendrik Wowor dan Lucky Martolomius Dandel. Dimana, Salindeho yang saat itu berperan sebagai Ketua Pojka ULP, sedangkan Mailangkay selaku Kuasa Pengguna Anggaran.

Dalam amar putusan Majelis Hakim, disebutkan kalau perbuatan melawan hukum Iwo cs secara bersama-sama, berawal dari adanya pertemuan di Hotel Quality Manado, yang dihadiri Ariyanti, Robert, Lucky, Salindeho dan Mailangkay. Herannya, pertemuan tersebut digelar sebelum proses tender atau lelang dilakukan.

Pelanggaran lain yang juga menerangkan tentang keterlibatan Fence, ikut dibeberkan Majelis Hakim. Dengan menyebutkan kalau Pokja ULP tidak pernah melakukan pengecekan ke Bank Mandiri atas dokumen penawaran yang diajukan PT Subota Contractor Internasional dengan nomor MBG774029164814N, tanggal 12 September 2014. 
Padahal itu merupakan kewajiban Pokja ULP. Dan setelah pihak kepolisian melakukan pengecekan langsung ke Bank Mandiri, pihak Bank langsung mengeluarkan surat resmi Nomor 4.Br.Jm/0502016 tanggal 16 Mei 2016, yang menyatakan bahwa di data base Bank Mandiri ternyata banggaransi atas nama PT Subota dengan Nomor MBG774029164814N tidak tercatat dalam administrasi PT Bank Mandiri.

Namun, pihak Pokja ULP justru berani meloloskan PT Subota sebagai pemenang tender. Alhasil, ketika proyek Solar Cell berbanderol Rp 9,6 miliar dikerjakan, terjadi kerugian negara sebesar Rp 3 miliar lebih. (rhendi umar)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado