Vladimir Putin dan Donald Trump

Serang Suriah, Putin Kecam Donald Trump

Suriah diserang. Sejumlah fasilitas militer luluh lantak dirudal Amerika Serikat (AS). Hawa panas kemarahan menyembul hingga ke Rusia.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, angkat suara menanggapi serangan udara Amerika Serikat ke Suriah. Menurut dia, serangan AS itu kembali menegaskan, Negeri Paman Sam bertanggung jawab atas serangkaian pembantaian di sejumlah negara, seperti juga di Suriah.

"Sejarah akan mencatat, Washington bertanggung jawab atas pembantaian di Yugoslavia, Irak, dan Libya," ujar Putin, Minggu (15/4).

Komentar Putin itu muncul setelah ada dugaan serangan senjata kimia di Kota Douma, Suriah, yang dijadikan dalih bagi AS untuk menyerang. “Aksi militer sepihak ini berdampak buruk bagi keseluruhan sistem hubungan internasional,” ujar Putin.

Serangan AS ini terjadi sebelum para ahli dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) memulai pencarian fakta atas di Douma atas dugaan serangan senjata kimia itu. "Sejumlah negara Barat memutuskan melakukan aksi militer tanpa menunggu hasil dari penyelidikan," tambah Putin.

Sejumlah sumber dari pihak pro-militan atau pemberontak, termasuk kelompok White Helmets mengklaim, pasukan pemerintah Suriah menjatuhkan bom mengandung klorin yang menewaskan puluhan warga sipil.

Permintaan Putin kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar serangan itu dikutuk, ditolak. Hanya China dan Bolivia mendukung rancangan resolusi yang diajukan Rusia.

Penyidik internasional dari pengawas senjata kimia global tengah berada di Suriah untuk melaksanakan tugas mereka. Sementara itu, Suriah dan Rusia menegaskan, tidak ada bukti bahwa serangan senjata kimia telah terjadi.

Selama tatap muka Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris membela kebijakan mereka untuk menyerang Suriah. Mereka menyebutnya legal.

"Kami yakin bahwa kami telah melumpuhkan program senjata kimia Suriah. Kami siap untuk mempertahankan tekanan ini jika rezim Suriah cukup bodoh untuk menguji tekad kami," terang Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley.

Diplomat perempuan itu melanjutkan, jika rezim Suriah kembali melancarkan serangan gas beracun, maka Amerika Serikat siap meluncurkan rudal lagi.

Tembakan rudal mewarnai langit ketika serangan udara koalisi Barat diarahkan ke ibu kota Damaskus, Suriah, Sabtu (14/4). Pemerintah AS, Inggris, dan Prancis memutuskan untuk melakukan serangan militer terhadap rezim Bashar al-Assad.

Dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mendesak seluruh negara "dalam keadaan yang berbahaya ini untuk menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat meningkatkan masalah dan memperburuk penderitaan rakyat Suriah".

Sebanyak delapan negara dilaporkan memilih menentang rancangan resolusi yang diajukan Rusia. Adapun Peru, Kazakhstan, Ethiopia, dan Republik Guinea Khatulistiwa menyatakan abstain.(mdk)

 


Komentar