Para siswa penulis, Kepsek SMK St Familia dan penggerak Komunitas MAPATIK di acara launching buku.

Siswa St Familia dan Penulis Perempuan Tomohon Luncurkan 2 Buku

 

  • ‘Menampar’ di HUT Komunitas Penulis Muda Minahasa MAPATIK

Sebuh kejutan tersaji di penghujung 2017. Sejumlah siswa di Kota Bunga luncurkan dua buku. Goresan karya sastra buah kreatifitas itu tersaji di momen hari ulang tahun Komunitas Penulis Muda Minahasa MAPATIK. Beragam apresiasi pun mengalir, menyambut pencapaian luar biasa itu.

Jejak kiprah Komunitas Penulis Muda Minahasa MAPATIK kian bertanda. Tatkala menyusuri pengembaraan membangkitkan gairah menulis para teruna. Kini, perjalanan mereka (MAPATIK, red) telah melewati masa 2 kalender kabisat. Merefleksikan syukur itu, MAPATIK menginisiasi peluncuran dua buah buku antologi puisi di SMK Katolik St Familia Tomohon, Selasa (12/12).

Buku pertama dengan judul “Litera” merupakan kumpulan puisi para penulis perempuan komunitas MAPATIK di SMA Kristen 1, SMA Negeri 1 dan SMK Dharma Bhakti Tomohon. Sedangkan buku kedua bertajuk ‘Khayal Dalam Sajak’ adalah karya para siswa SMK Katolik St Familia Tomohon yang ikut terlibat dalam pelatihan menulis ‘MAPATIK Goes to School’ yang digelar di sekolah tersebut, Senin (11/12) – Rabu (13/12).

Kepala Sekolah (Kepsek), Herald Nixon Aray MPd menyambut baik gerakan menulis yang digiatkan itu. Kata dia, antusiasme MAPATIK yang masuk ke sekolah-sekolah dan membentuk komunitas-komunitas menulis, perlu direspons. Sebab, terobosan itu sangat membantu lembaga pendidikan dalam upaya pembiasaan siswa untuk mencintai aktivitas menulis.

"Menulis, walau dianggap sebagai hobi, tapi tidak dikembangkan, pasti suatu saat akan kiamat. Yang paling penting, niat. Itu merupakan spirit utama. Jadi, jangan padamkan semangat menulis yang membuncah ini," ungkap Aray dalam sambutannya.

Kepsek berlatar pengajar Bahasa Indonesia ini berpesan, seluruh siswa yang ditempa, hendaknya menjaga dan memelihara kemampuan menulis. Diyakininya, para siswa bisa menelurkan, menciptakan ruang kreasi, bahkan memotivasi teman-teman lain yang mungkin masih adem ayem.

"Kalau menulis, buang jauh-jauh perasaan tidak percaya diri. Bila sudah niat, mulailah. Mau diawali dengan kata apa pun, tulis saja. Pasti akan mengalir. Yang penting ada kemauan. Kuncinya, memang harus ada ketersediaan ruang-ruang kreativitas," sebut Aray yang sudah pernah melahirkan buku kumpulan puisi berjudul ‘Aku Pulang Aku Kalah’.

Selaku ‘mapatu’ sekolah yang bernaung di Yayasan Joseph Yeemye, ia menyadari, pihaknya harus menghargai kreatifitas siswa. Secara maksimal, dirinya berupaya menyiapkan ruang akses untuk siswa berkreasi. Ia berusaha mendorong siswa memasuki rubrik imajinasi.

Ditegaskannya, aktivitas penting yang mendukung kemampuan menulis, yakni keterampilan membaca. Memahami tulisan itu bukan hanya terbatas pada membaca huruf, angka-angka dan sebagainya. Tapi juga mampu membaca tanda-tanda yang terjadi. Semisal, fenomena sosial hingga berbagai pengalaman sehari-hari.

"Kecemerlangan kita, ketika merespons fenomena dengan mengangkatnya ke wilayah imajinasi. Selanjutnya diungkapkan dengan media kata-kata sampai membentuk sebuah karya yang spektakuler. Itu adalah pekerjaan kreativitas cemerlang," tandas Kepsek yang karyanya pernah terpilih di ajang baca tulis dan apresiasi sastra Indonesia Timur.

Sementara, penulis muda Minahasa, Kalfein Wuisan MPd yang menjadi editor buku ‘Litera’, menjelaskan soal buku tersebut. Menurutnya, arti kata ‘Litera’ bisa merujuk pada huruf dan karakter. Di kemudian hari, muncul gerakan literasi. Baik literasi siswa, guru maupun di lokus sekolah.

Katanya, akhir-akhir ini, di tingkat kabupaten dan kota gencar dengan kegiatan yang bertemakan literasi. Namun disayangkan, di balik itu semua, makna penting literasi justru terabaikan. Ada miss atau kurang paham soal literasi. Hanya dipahami sampai pada membaca. Padahal, literasi seyogyanya, yakni membaca, menulis dan berucap.

Dijelaskannya, MAPATIK memilih kata ‘Litera’ sebagai bentuk refleksi dari sebuah realitas kehidupan. Ini tentu memiliki dasar ketika para siswa menulis kata demi kata yang kemudian menjadi puisi, bahkan buku.

Isi kata pengantar pun sengaja dibubuhi kata-kata yang dapat menggugah persekolahan di Sulawesi Utara yang sibuk dengan aksi-aksi literasi yang belum paripurna. Pikirnya, sejumlah siswa di SMK St Familia, SMK Dharma Bhakti, SMAKER dan SMANTO telah melakukan literasi yang sebenarnya.

"Mereka (siswa, red) telah mencontohkan bahwa literasi itu tindakan nyata. Bukan aksi baliho. Kedua buku yang dilaunching merupakan tamparan keras bagi dunia pendidikan di Sulut, di Tomohon yang meriah dengan gaung-gaung literasinya," cetus Wuisan yang juga Dosen di Universitas Negeri Manado ini.

Fredy Wowor, penyair Sulut yang hadir dan ikut memberi apresiasi dalam kegiatan tersebut bertutur, perayaan HUT sekaligus peluncuran 2 buku puisi ini sarat kontemplasi. Ia menyebut, itu bentuk refleksi soal bagaimana orang semakin mendekatkan diri dengan puisi. Selaku penyair, ia berasa semakin bertambah sahabat.

Menurutnya, penyair itu menulis dalam kesepian. Tetapi mereka sangat takut dengan keadaan yang sepi. Seorang penyair mestinya punya banyak teman dan intens bergaul. Sesudahnya, barulah bisa mengenalkan dirinya dengan pengalaman-pengalaman baru yang bisa saja pernah dialami.

"Pengertian tertua dan paling pribadi, puisi itu kata hati. Kemudian, dimaknai sebagai getaran sukma. Puisi adalah wujud dari ungkapan terdalam tentang kita memahami sesuatu hal. Puisi juga merupakan ucapan bahasa dari orang yang tercerahkan. Puisi juga bentuk teguran tajam namun dikemas dengan kata-kata halus," papar Wowor yang juga dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi.

Ia menekankan, jika siswa mampu bertindak sesuai yang dipuisikan dalam 2 buku itu, mereka akan tumbuh. Menjadi orang yang sangat cerdas.

“Sejak dahulu, puncak pembelajaran diuji dengan menulis puisi. Dalam tradisi-tradisi, seseorang bisa jadi teladan di masyarakat, bila mampu berpuisi dan bersyair. Sebab, untuk menjadi pemimpin, seseorang itu harus bisa memahami hati masyarakat. Jadi, tidak boleh membuat orang lain tersinggung," papar budayawan yang bergiat di Mawale Cultural Center ini.

Ichiko Wenas, salah satu siswa penulis mengaku sangat bersyukur. Apalagi ketika khayalan mereka (siswa, red) yang dituangkan dalam kata-kata boleh terfasilitasi oleh sanggar sastra SMK Katolik St Familia.

"Kami sangat berterima kasih kepada Kepsek, guru-guru di Sanggar Sastra. Terima kasih juga buat kakak-kakak bersama teman-teman di MAPATIK yang telah menyaranai launching buku puisi kami," ucap Wenas yang juga pengurus OSIS di SMK Katolik St Familia ini. (tr-1)


Komentar