Sosialisasi Dengan PWNU, BRANI Bahas Santri dan Ponpes

Manado, MS

Senator Sulawesi Utara Benny Ramdhani kembali melaksanakan sosialisasi dengan konstituennya di Sulawesi Utara. Kali ini ia menggandeng Pengurus Wilayah NU (PWNU) Sulut. Acara digelar di Kota Manado (3/12/2017) sekitar pukul 09:00 WITA.

Brani menjelaskan, berdasarkan ketentuan pasal 5 Undang-Undang nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD (MD3) MPR mempunyai empat tugas utama.

"Pertama memasyarakatkan ketetapan MPR, kedua memasyarakatkan Pancasila Undang-undang Dasar 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, ketiga mengkaji sistem ketatanegaraan undang-undang Negara Republik Indonesia serta pelaksanaannya, keempat menyerap aspirasi masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan undang-undang Negara Republik Indonesia tahun 1945," ungkapnya.

Dalam rangka melaksanakan tugas tersebut, anggota MPR berkewajiban melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat.

"Kegiatan ini juga merupakan wadah untuk dialog dengan masyarakat agar anggota MPR lebih dekat dengan masyarakat," ujarnya.

Dalam pertemuan ini, Brani mendapat banyak masukan dari para peserta. Salah satunya soal Santri. Santri disebut memiliki keunggulan dibandingkan dengan siswa lainnya yang menimba ilmu di sekolah umum.

"Kelebihan itu adalah pengetahuan agama yang lebih dalam dan kebiasaan beribadah yang taat. Inilah yang membentuk karakter para santri. Karena itu santri dan pesantren merupakan benteng pancasila dan NKRI," kata seorang peserta.

Sslain itu, ada juga masukan tentang Pondok pesantren dan santri harus jadi garda terdepan melawan intoleransi sekaligus mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin.

Santri sebagai orang saleh yang mendalami Islam, harus mampu menyeimbangkan ibadah mahda, seperti; puasa, salat dan ibadah sosial lainnya.

"Selain itu, kontribusi santri dan pesantren dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan harga mati dan diharapkan pondok pesantren bisa berperan menjadi garda terdepan dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan kebinekaan yang mulai memudar guna memerangi intoleransi," kata peserta lainnya.

Peran media juga dianggal sangat dibutuhkan dalam rangka membangun optimisme kebangsaan dan memperkuat rasa toleransi antar sesama umat beragama di sulawesi utara.

"Media punya peran penting dalam mengkampanyekan sulawesi Utara sebagai daerah yang toleran, egaliter dan merupakan laboratorium kerukunan antar umat beragama yang ada di Indonesia," kata seorang peserta.

Organisasi keagamaan pun disebut merupakan garda terdepan dalam membendung masuknya paham fundamentalise maupun radikalisme ditengah-tengah masyarakat. Radikalisme yang mengacu pada pemahaman seseorang atau kelompok yang secara ekstrim tidak puas dengan kondisi masyarakat yang ada dan tidak sabar untuk menanti perubahan yang fundamental sehingga menjadikan agama sebagai alat kekerasan terhadap kelompok lainnya.

"Optimalisasi peran organisasi keagaaman dalam upaya merawat dan melestarikan semangat persaudaraan dalam kebhinekaan Indonesia dapat dilakukan melalui kegiatan dialog atau kerjasama lintas iman dengan semangat Torang Samua Basudara," papar seorang peserta menyarankan.(phee)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado