Taufik Tumbelaka

Strategi dan Tim Kunci Kemenangan di Pilkada


Tondano, MS

Bursa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Minahasa makin ramai. Sederet calon petarung terus bermunculan. Sebut saja petahana Jantje Wowiling Sajow (JWS) dan Ivan Sarundajang (IvanSa). Keduanya paling santer diprediksi akan berjibaku di ring pertarungan iven pesta demokrasi rakyat Minahasa tahun 2018 mendatang.

Nama lain yang kian mengkirstal yaitu Careigh Naicel Runtu (CNR) yang kini sedang populer disandingkan dengan sosok IvanSa melalui Partai Golkar. Selain dua petahana, bursa papan satu ikut ramaikan dengan sederet figur lain seperti James Arthur Kojongian (JAK), Robby Dondokambey, Denny Tombeng, Youla Lariwa Mantik (YLM) dan Mecky Onibala (M2O).

Sementara figur papan dua mencuat nama Imelda Novita Rewah (INR), Jeffry Robby Korengkeng (JRK), Robby Longkutoy (RL), Jeany Mumek (JM), Lucky Aldrin Senduk (LAS), hingga Gerrard Mentang (GeMa). Menariknya, selain GeMa figur-figur papan dua ini kans bersaing ketat merebut 'tiket' Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Munculnya figur-figur petarung ini dinilai akan membuat persaingan di arena Pilkada Minahasa berlangsung sengit. Namun pengamat Politik Pemerintahan Sulawesi Utara Taufik Tumbelaka mengatakan, para figur calon bupati maupun wakil jika ingin dikenal masyarakat Minahasa, hendaknya mempunyai strategi dan tim khusus untuk mensosialisasikan sampai ke desa dan kelurahan.

"Strategi dan infrastruktur berupa tim pemenangan akan menjadi penentu para kandidat untuk menang dalam pilkada. Jika tidak mempunyai dua unsur ini dan hanya mengandalkan sosialisasi melalui baliho, tentunya figur itu tidak akan dikenal oleh masyarakat," kata Tumbelaka.

"Artinya, jika masyarakat belum mengenal calonnya, berarti ada strategi yang salah diterapkan oleh calon itu sendiri," tambahnya.

Sosialisasi yang hanya bergantung pada baliho saja menurut Tumbelaka memang tidak begitu efektif. "Para calon harus membentuk tim untuk mensosialisasikan ke masyarakat yang ada di desa-desa dan kelurahan," kata alumni Universits Gajah Mada (UGM) ini.

Di Minahasa, Tumbelaka menilai, sebagian besar calon bupati dan wakil bupati memang belum dikenal luas oleh masyarakat. "Fenomena yang terjadi di Minahasa sama seperti dengan Sitaro. Banyak sekali calon yang akan bertarung di pilkada disana, namun hanya beberapa figur yang dikenal oleh masyarakat, dan sebagain besar tidak dikenal. Sama halnya dengan Kotamobagu," terangnya.

Kondisi itu dinilai berlaku pula untuk figur-figur papan dua di Minahasa yang bermunculan sekarang ini. Mereka, kata dia, masih butuh sosialisasi agar lebih dikenal oleh masyarakat karena banyak figur di Minahasa yang 'tenggelam'.

"Calon papan dua seperti JRK, CNR, JM, INR dan RL semuanya belum terlalu di kenal oleh masyarakat. Oleh karena itu, harus lebih banyak mensosialisasikan diri lewat tim, agar dikenal oleh masyarakat Minahasa," tutur Tumbelaka.

Contoh kecil untuk mengetahui para calon dikenal oleh maayarakat adalah mendatangi pasar atau turun langsung ke desa-desa.  "Survey yang sangat sederhana adalah mendatangi tempat keramaian, dan disitulah bisa mengetahui seberapa populer dan di kenal para calon yang akan bersaing di pilkada mendatang," sebutnya.

Pilkada Minahasa dilihat dari pengalaman berpotensi lebih dari dua pasangan calon. Sebab, kalau cuma dua pasangan calon bisa saja berpengaruh pada masalah sosial dan politik.

"Sebaiknya kalau cuma dua calon, akibatnya akan berpengaruh pada masalah sosial dan politik, takutnyanakan terjadi pertarungan tidak sehat di Pilkada nanti," pungkasnya. (jackson kewas)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado