Jenny Karouw

Sulut Masih Mendatangkan Produk Cabe dari Luar


Manado, MS

Harga cabe yang begitu melambung tinggi di pasaran jadi keluhan masyarakat. Saat Dinas  Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Utara (Sulut) ternyata karena menurunya produksi bahan pangan ini. Di Bumi Nyiur Melambai sendiri masih sangat bergantung pada produk luar daerah.

Kepala Dinas  Disperindag Sulut, Jenny Karouw menjelaskan, Sulut ternyata masih mendatangkan  produk cabe dari Gorontalo dan Surabaya. Pada beberapa bulan terakhir, Surabaya tidak masuk dikarenakan harga cabe di Pulau Jawa cukup tinggi. “Jadi untuk saat ini paling banyak dari Bolmong Raya khususnya Kabupaten Bolmut (Bolaang Mongondow Utara) untuk komoditi lokal dan dari Gorontalo untuk komoditi dari luar Sulut,” jelasnya.

Atas masalah ini,  Disperindag Sulut melakukan pengecekan di lapangan. Namun hingga kini tidak ditemukan unsur kesengajaan selama kenaikan harga cabe. “Yang kita lakukan cuma melihat dan memantau terus  kemudian menjaga distribusinya  jangan sampai ada penumpukan di satu tempat. Tapi kelihatan ini bukan karena masalah distribusi melainkan masalah ketersediannya saja yang memang kurang," ujar Karouw.

"Cabe dan tomat bukan barang seperti beras yang boleh ditampung atau ditahan di gudang. Dia cuma paling bisa bertahan  satu minggu, setelah itu kalau tidak jual  pasti akan rusak dan tidak ada pengusaha atau pedagang cabe yang mau rugi, biasanya mereka tetap lempar ke pasar," tuturnya seraya menjelaskan untuk kisaran harga ada penuruanan untuk tomat yang menjadi Rp.12.000 dari Rp.14.300 dan harga cabe rawit merah turun menjadi Rp 87.650 dari Rp.123.000, sedangkan cabe merah keriting Rp.47.450 dari Rp.48.500. (sonny dinar)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado