DPP GOLKAR RESTUI IVANSA-CNR

SVR Didorong ke Senayan  

 

Manado, MS

Isu pencopotan Stefanus Vreeke Runtu (SVR) dari jabatan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sulawesi Utara (Sulut), sempat menggelinding liar. Rumor itu ikut merembet ke bursa pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang akan diusung Golkar di enam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Sulut. Utamanya di Kabupaten Minahasa.

Beredar kasak kusuk, posisi Careig Naichel Runtu (CNR)  sebagai calon wakil bupati Golkar di Minahasa, akan digoyang. Isu tersebut sempat menimbulkan reaksi keras dan protes dari mayoritas kader Beringin di Tanah Toar Lumimuut.

Namun kabar burung itu tertepis. Senin (4/9) kemarin, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar telah menetapkan Ivan Sarundajang dan Careig Naichel Runtu sebagai Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Beringin di Pilkada  Minahasa.

Putra Sinyo Harry Sarundajang (SHS) dan SVR itu, jadi pasangan calon pertama yang diusung Golkar di  pilkada serentak  yang akan dihelat di 6 kabupaten kota se Sulut tahun 2018 mendatang.

“Ivan Sarundajang dan Careig Naichel Runtu telah resmi ditetapkan oleh Tim Pilkada DPP Golkar sebagai calon bupati dan calon wakil bupati Minahasa dari Partai Golkar,” ungkap Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Golkar Sulut, Victor Rompas, kepada Media Sulut, Senin (4/9) kemarin.

Penetapan Ivansa-CNR itu, lanjut Victor diputuskan dalam rapat Tim Pilkada DPP Golkar yang dipimpin Ketua Harian Golkar, Nurdin Halid yang didampingi Sekretaris Jendral Idrus Marham. “Untuk Sulut, baru dua daerah yang sudah ditetapkan pasangan calon. Kabupaten Minahasa dan Kepulauan Sitaro. Tapi Sitaro baru calon Bupati. Untuk empat daerah lainnya (Mitra, Kotamobagu, Bolsel dan Talaud, red) akan ditetapkan akhir September ini,” tukas Viktor yang hadir mewakili DPD I Golkar Sulut itu.

Sesuai mekanisme partai, penetapan itu akan disusul dengan penerbitan Surat Keputusan (SK) dari DPP Golkar. "Tinggal menunggu SK. Tapi kalau mekanisme Golkar, siapa pasangan calon yang sudah ditetapkan, maka mereka yang akan menerima SK tersebut," tandas mantan Legislator Minahasa tersebut.

IvanSa sendiri saat dikonfirmasi soal penetapan dirinya bersama CNR sebagai calon bupati dan wakil bupati dari Golkar mengaku sangat bersyukur dan menyambut hal itu dengan penuh sukacita iman.

"Puji Tuhan saya sangat bersyukur atas kepercayaan yang sudah diberikan partai Golkar kepada saya. Ini merupakan kehendak Tuhan dan saya amini ini merupakan rancangan indah yang telah dipersiapkan Tuhan," ungkap IvanSa.

Ia pun berterimakasih kepada jajaran pengurus Partai Golkar, mulai dari pengurus di tingkat DPP, pengurus Golkar Sulut, hingga DPD II Minahasa. "Terima kasih pak Ketum Setya Novanto, Ketua Harian Pak Nurdin Halid bersama pengurus DPP, juga kepada pak SVR, CNR dan seluruh pengurus Golkar Sulut dan Minahasa,” ujarnya dengan nada penuh kegembiraan.

 

“Dibalik kepercayaan ini tentu ada sebuah tanggungjawab yang besar yang harus saya lakukan, baik saya sebagai calon maupun jika Tuhan berkenan terpilih nanti sebagai Bupati," tandas IvanSa yang juga mengaku sudah saling memberikan selamat dengan SVR dan CNR kala mendengar hasil rapat pleno tersebut.

RENE: PILKADA BERBEDA RESTRUKTURISASI ORGANISASI

Sesepuh senior Golkar, Rene Manembu ikut angkat suara menyikapi dinamika isu pergantian SVR yang dikait-kaitkan dengan bursa pencalonan Golkar di 6 kabupaten kota di Sulut, teristimewa di Minahasa.

Restrukturisasi organisasi itu dinilai sangat berbeda dengan masalah pencalonan. “Kalau calon kepala daerah itu dipilih oleh rakyat. Sedangkan penyegaran organisasi itu urusan partai. Jadi dua hal itu sangat berbeda,”  tanggap anggota Dewan Pakar Golkar, kala dikonfirmasi harian ini, Senin (4/9) tadi malam.

“Kan penetapan pasangan calon Golkar itu mengacu dari hasil survey. Jadi penetapan pasangan calon di Minahasa (Ivansa-CNR) itu berarti sudah melalui mekanisme partai. Terutama dari hasil survey. Dan itu harus didukung penuh oleh seluruh kader dan akar rumput partai,” sambung  eks Koordinator Wilayah Wilayah Timur Partai Golkar itu.

Apalagi, lanjut Rene, CNR merupakan Ketua DPD II Partai Golkar Minahasa. “Kan Careig itu kader partai. Ketua DPD lagi. Selain hasil surveinya baik, ia juga merepresentasikan partai. Apa yang sudah diputuskan DPP, pasti itu yang terbaik yang diinginkan rakyat Minahasa,” timpal politisi senior Golkar asal kawanua itu.

“Sekali lagi urusan organisatoris dan pencalonan itu dua hal yang berbeda. Kader juga harus bijak dalam menyikapi hal itu,” tambah mantan Ketua Ketua DPP Partai Golkar hasil munas Ancol tersebut.

Ketika disinggung soal beredarnya Surat Keputusan (SK)  Pemberhentian SVR sebagai Ketua DPD Golkar Sulut dan pengangkatan Hamka Kadi sebagai pelaksana tugas?  “Kan disitu (SK, red) sudah ditanda-tangani oleh Ketum dan Sekjen. Mau apa lagi?,” sergahnya.

Penunjukkan Plt Ketua DPD Golkar disebut juga terjadi di sejumlah Provinsi. Seperti di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat dan Babel. “Pergantian itu lumrah. Tujuannya tentu untuk membenahi partai sekaligus memberikan kesempatan kepada kader muda potensial untuk membesarkan partai,” bebernya.

“Itu namanya regenerasi, reorganisasi. Beri kesempatan kepada darah baru. Pasti motivasinya akan lebih tinggi lagi. Tapi itu tentu melalui mekanisme partai, yakni Musdalub,” tambah Rene lagi.

Menurutnya ada alasan mendasar dari partai sehingga menunjuk Plt Ketua DPD Golkar Sulut. “Itu tertera di SK. Ada penurunan performa partai di Sulut. Mulai dari kekalahan di Pilpres, Pileg, Pilkada Provinsi Sulut dan Pilkada Kabupaten Kota lalu. Terakhir, hanya Sangihe yang menang. Jadi partai menilai perlu ada reorganisasi. Karena  partai mematok target menang 60 persen di 171 Pilkada serentak yang akan dilaksanakan tahun depan,” tandasnya.

Diketahui, dalam SK DPP nomor 242/DPP/Golkar/VIII/2017 tentang Pemberhentian SVR serta Penunjukan Hamka B Kadi sebagai Plt Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Sulut, tertuang dua alasan yang dijadikan pijakan oleh DPP.  Pertama, adanya penyampaikan mosi tidak percaya dari  2/3 (dua per tiga) DPD Kabupaten Kota se Sulut, terhadap kepemimpinan SVR sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulut.

Menurut yang menyampaikan mosi, roda organisasi dibawah kepemimpinan SVR tidak berjalan dengan baik, sehingga mengakibatkan kondisi Partai Golkar Sulut dinilai makin terpuruk. Itu dibuktikan dengan kekalahan-kekalahan Golkar di setiap pemilu, baik legislatif, pilpres hingga pilkada.

Yang kedua, adanya permintaan 10 DPD Partai Golkar Kabupaten Kota di Sulut untuk mengganti. Atas dasar itu, DPP melakukan rapat dan memutuskan untuk memberhentikan SVR sebagai Ketua DPD I PG Sulut dan menunjuk Hamka B Kadi sebagai Plt Ketua DPD PG Sulut.

Dalam SK DPP, Hamka ditugaskan untuk melakukan konsolidasi secara menyeluruh di jajaran pengurus DPD Golkar Sulut dan melakukan penataan kelembagaan organisasi. Apabila dianggap perlu, Hamka dapat melakukan revitalisasi pengurus DPD Golkar Sulut.

Tugas kedua, yakni mempersiapkan dan menyelenggarakan Musyawarah Daerah Luar Biasa Partai Golkar Sulut selambat-lambatnya tiga bulan setelah terbitnya surat keputusan tersebut. SK itu ditandatangani Ketua Umum Setya Novanto dan Sekretaris Jenderal Idrus Marhan, tertanggal 21 Agustus 2017.

APRESIASI KINERJA SVR

Meski begitu Rene Manembu, mengapresiasi sepak terjang SVR terhadap partai. Politisi senior Golkar, menilai Bupati Minahasa dua periode itu, sudah banyak berbuat bagi partai dan masyarakat Sulut, khususnya di Tanah Toar Lumimuut.

Kemampuan berpolitik SVR, dinilai sudah cukup mumpuni. Jadi sudah sepatutnya salah satu tokoh politik Sulut itu untuk didorong berkiprah di level nasional. “Wawasan kedaerahan SVR sudah paten. Sudah saatnya beliau ke pusat.  Jadi calon legislator senayan dari Golkar untuk tahun 2019 mendatang,” tanggapnya.

Apalagi SVR pernah menjabat Ketua Golkar Sulut serta masih menduduki posisi strategis sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulut utusan Fraksi Golkar. “Jadi beliau itu sudah punya massa dan jaringan hingga ke seluruh kabupaten kota di Sulut. Jika SVR maju sebagai calon anggota DPR RI, peluang untuk duduk sebagai legislator senayan akan sangat besar,” urai mantan Wakil Bendahara Umum Partai Golkar hasil munas Ancol tersebut.

Menurut Rene, Golkar akan membidik 2 kursi DPR dari daerah pemilihan (Dapil) Sulut di Pileg 2019 mendatang. Sebab kini tinggal menyisakan 1 anggota DPR Dapil Sulut dari Golkar di Senayan, yakni Aditya Anugrah Moha atau Aditya Didi Moha (ADM). “Pileg tahun 2009 lalu, Golkar masih mengutus 2 anggota DPR, Aditya Moha dan Edwin Kawilarang. Tapi Pileg tahun 2014, tinggal Aditya yang ke senayan. Jadi tahun 2019 nanti, partai  targetkan merebut 2 kursi lagi di DPR,” ungkapnya.

“Jadi partai akan dorong kader-kader potensial partai untuk maju di Pileg nanti. Salah satunya SVR. Tentu kader-kader yang akan maju akan ditopang penuh oleh mesin partai dari pusat hingga daerah dan wajib didukung oleh kader sekaligus akar rumput partai di Sulut ,” tandasnya.(jackson kewas/tim ms)

Komentar