Launching ‘TARTARUS’ dan sejumlah kegiatan yang digelar di Tolombukan.

TARTARUS Hentak Tanah Patokan Esa

  • Jadikan Rumah Sebagai Pusat Kebudayaan

Pasan, MS
Sebuah gebrakan diperagakan sejumlah teruna. Rangkaian kegiatan luar biasa yang dikemas dalam iven bertajuk ‘TARTARUS Launching Party’ itu, dimotori para pemuda Desa Tolombukan Kecamatan Pasan Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra). Beberapa komunitas kreatif di bumi nyiur melambai hadir dan ikut menghangatkan suasana.

Rabu (3/1) – Kamis (4/1), generasi muda kampung Tolombukan, kembali menunjukkan kreativitas dan menegaskan eksistensinya. Launching ‘TARTARUS’ diwarnai workshop (artwork dan menulis), pameran karya (puisi, artwork dan fotografi), live perform (musikalisasi puisi), perpustakaan kaget dan diskusi.

“Ini kegiatan launching komunitas baru, Tartarus, di Desa Tolombukan 1, Jaga 2. Iven ini diinisiasi teman-teman ‘Gilingan Skateboard’. Partisipannya anak-anak sekitar kampung. Luar biasa. Apresiasi buat kawan-kawan muda Tolombukan,” ujar Hizkia Tumiwa, salah satu seniman Komunitas Wale XI yang hadir dan ikut menggerakkan kegiatan tersebut.

Joshua Koluku dan Pangky Koluku, anak negeri ‘Patokan Esa’ yang mengotaki iven itu menjelaskan, tujuan kegiatan ini sebenarnya untuk memberikan referensi dan edukasi tentang seni dan berkreativitas bagi kawan-kawannya di kampungnya.

“Ya, sekalian ada launching komunitas baru, Tartarus. Komunitas ini berfokus kepada edukasi dan pergerakan sosial atau lingkungan,” terang Koluku bersaudara.
“Mungkin iven seperti ini adalah iven yang pertama diadakan di Mitra. Dalam ingatan, setau saya belum pernah ada iven seperti ini sebelumnya,” ungkap keduanya.

Ia berharap, kegiatan ini bisa membawa dampak positif dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lain. “Semoga iven seperti ini bisa terus diadakan di tempat-tempat lain agar bisa menjangkau atau mengedukasi lebih banyak teman-teman,” ucap mereka.

Gelora kreativitas sejumlah partisipan ikut menyala. ‘TARTARUS’ mampu membakar semangat mereka untuk berkarya. “Kegiatannya bagus sekali. Banyak yang kita dapat dari iven ini. Salah satunya menambah wawasan. Harapan saya secara pribadi, iven ini kita boleh biking di sekolah. Kita da termotivasi dari kegiatan ini. Masakkan deng Tartarus boleh kong torang di sekolah nimbole,” tutur Macelino Amac.

Gelombang apresiasi mengalir deras. Jempol para seniman ikut menyasar kaum muda di Desa Tolombukan. Salah satunya datang dari Kalfein Wuisan. Penulis buku ini mengakui, kegiatan tersebut luar biasa. Ini bukti bahwa generasi hari ini, di kampung, sangat sadar bagaimana membangun kampungnya. Salah satu caranya dengan menjadikan rumah sebagai pusat aktivitas dan poros gerakan kebudayaan.

“Rumah, dijadikan sebagai ruang belajar, ruang berkarya dan ruang pertunjukan. Memilih rumah sebagai pusat kebudayaan merupakan sebuah kesadaran membangun manusia dari kampung. Rumah, dalam alam berpikir Minahasa, merupakan ruang dimana seorang Minahasa memulai proses menjadi tou dan menjadi tonaas. Dalam konteks inilah, Pangky dan kawan kawan, memulai semua upaya berkebudayaan dari rumah,” tegas akademisi Universitas Negeri Manado (UNIMA) ini.

Wuisan berpendapat, pemilihan rumah sebagai pusat belajar dan pertunjukan, juga merupakan sebuah kritik atas iven-iven kesenian yang berpatron pada orang, tempat tertentu bahkan gedung tertentu. Sehingga demi suksesnya sebuah acara seni/budaya di suatu tempat dan didukung orang tertentu, seseorang kadang harus menggadaikan nilai hidupnya sebagai seorang manusia.

“Pangky, bersama rekannya sadar betul bahwa rumah juga merupakan 'tempat suci', dimana ia bisa melayani (memenuhi kebutuhan dan kerinduan) generasi muda di kampungnya untuk belajar, berkarya, berekspresi dan menyatakan diri,” tandas penggerak Komunitas MAPATIK yang kini giat membangun komunitas-komunitas film dari kampung ke kampung di Minahasa.

Hadir dalam kegiatan tersebut, sejumlah mahasiswa Unsrat dari Wale IX, Terakota dan Fase Media, para penggerak Komunitas Felem Orang Gunung seperti CC KGPM, Manado Expression, Kawanua Kreatif, Wuisan Felem dan Wuwuk Film, seniman dan budayawan Sulawesi Utara. Anak kecil sampai orang dewasa juga tumpah ruah di acara ini. (rikson karundeng)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.