TEBAR ‘PSYWAR’, JWS: DUNIA BELUM KIAMAT

Manado, MS

Langkah Jantje Wowiling Sajouw (JWS) menuju pentas pemilihan kepala daerah (Pilkada) Minahasa terhenti. Senyum legowo dilontar sang petahana namun awan kecewa tampak membelenggu. ‘Psywar’ pun ditebar.

Selasa (9/1), massa pendukung JWS padati bandara internasional Sam Ratulangi Manado. Dukungan bagi jagoannya dikumandangkan.

Di hadapan masyarakat yang menyambutnya, JWS mengungkapkan rasa haru. “Saya tidak duga dan merasa terharu karena begitu luar biasa. Saya berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang mendukung. Yang sudah datang menjemput dan memang tidak bisa dinilai dengan uang,” tutur JWS didampingi sang istri, Olga Sajow-Singkoh sambil berlinang air mata.

Ia mengaku sangat berterima kasih karena mendapat kesempatan memimpin Minahasa 5 tahun. “Walaupun ada kerinduan untuk melanjutkan tapi kita ini orang kecil yang tidak punya kuasa. Kita menerima saja apa yang menjadi keputusan. Tidak berarti apa yang terjadi secara pribadi menerima. Berharap kiranya Minahasa tetap aman,” ucap Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI-P Minahasa ini dengan wajah sedih.

Ia mengaku, tidak pernah menduga kisah ‘pilu’ ini akan terjadi karena sampai pada detik-detik terakhir tidak kelihatan. Sekalipun ia sudah bisa rasakan.

“Ada suasana yang tidak seperti biasanya. Ditambah lagi banyak kelompok-kelompok yang memang berupaya agar JWS tidak jadi. Tapi saya tidak melihat hal itu, bagi saya jabatan itu biasa. Kalau pun tidak diakomodir, tidak masalah,” tandasnya.

“Itu biasa yang penting harus disampaikan. Supaya ada langkah yang kita ambil. Tapi karena itu sudah jadi keputusan undang-undang, kita bicara seperti itu. Saya kira dunia belum kiamat,” sambungnya.

JWS mengamini, ia masih punya waktu lagi untuk berbakti. Cerita yang kini tengah dilakoninya merupakan pelajaran penting. Nada ‘psywar’ (psychological warfare) pun meletup dari politisi senior ini.

“Semoga ini akan menjadi pelajaran demokrasi kita di Indonesia, secara khusus kepada PDI-P,” tegasnya.

TETAP DIRUNDUNG KECEWA
Kalimat legowo mengalir dari JWS, merespon sikap Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P yang tidak mengakomodirnya sebagai calon kepala daerah di Minahasa. Namun, aroma kekecewaan ikut menyeruak tajam.

“Saya sudah bertemu dengan gubernur (Olly Dondokambey) tadi malam. Saya sudah banyak bicara tapi apa yang dibicarakan sifatnya itu tidak perlu disampaikan di sini. Tapi kalau mau ditanya, hati saya kecewa, sedih,” keluh JWS.

Kekecewaan itu mengusik bukan karena tidak jadi bupati. JWS merasa masih punya hutang kepada rakyat.

“Rancangan yang dibangun tidak bisa berjalan. Mudah-mudahan bupati yang baru bisa melanjutkan itu. Semoga komitmen bupati yang baru bisa melanjutkan apa yang jadi komitmen kami di bidang pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, terutama dalam membangun soliditas birokrasi. Ini yang paling sulit dalam demokrasi,” tuturnya.

Sampai seminggu sebelum hari ‘H’ pikiran JWS penuh keyakinan. Apalagi lagu jaminan didendangkan DPP PDI-P di telinganya.

“Karena Pak Mindo Sianipar, Ketua DPP sekarang pernah bilang kepada saya, bupati Jantje, selama tidak buat pelanggaran di partai tidak ada halangan bagi bupati incumben. Apalagi saya katanya sudah berbuat terbaik bagi partai. Itu pegangan. Tapi siapa menduga di injury time, tiba-tiba keputusan rapat DPP saya tidak diakomodir,” ketusnya.

SIKAP POLITIK JWS
JWS memastikan akan menyelesaikan tugas sebagai petugas Ketua DPC PDI-P Minahasa. Bahkan, jagoan banteng yang akan didaftarkan di KPU Minahasa Rabu hari ini, akan ia kawal secara langsung.

“Calon saya akan antar dan tanda tangan berita acara. Saya sudah bilang kepada gubernur. Sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai ketua partai,” ungkapnya.
Berat untuk melangkah namun sebagai wujud tanggungjawab, JWS akan mengawal pasangan banteng di Minahasa.

“Tanggun jawab saya sebagai ketua partai, saya sudah koordinasi dengan Sekretaris, hari ini saya akan tanda tangan. Dan saya tidak mau menghambat. Kalau menghambat, saya menghambat demokrasi. Karena itu calon akan saya antar juga. Suka tidak suka, saya akan antar sebagai tanggung jawab ketua partai,” terangnya.

Soal sikap politik, kemana arah dukungan JWS nanti, ia mengaku belum bisa memastikannya. “Nanti kita akan koordinasi dengan teman-teman relawan. Bagaimana sikap politik ke depan tentunya belum bisa dibilang sekarang. Suasana tidak nyaman, suasana hati masyarakat, hati hamba-hamba Tuhan, sukarelawan dan pendukung. Kalau saya katakan sekarang, malah bolanya balik kepada saya,” jelas JWS.

Saat ini JWS tidak bisa mengambil keputusan karena begitu banyak orang yang kecewa. Ketika ia mengambil keputusan sekarang, akan banyak orang balik marah kepadanya. “Nanti kita coba diskusikan seperti apa langkah politik ke depan. Yang pasti, saya katakan tadi walaupun saya punya kerinduan yang sangat besar untuk melanjutkan, menyelesaikan, terutama menjaga ketenangan birokrasi tetapi saya tidak punya kekuasaan apa-apa,” kata JWS dengan nada keluh.

Ia tak bisa ambil keputusan dalam keadaan emosi. Diakui, mengambil keputusan dalam kondisi marah tidak baik. “Jadi kita menunggu. Mungkin ada solusi-solusi. Mudah-mudahan DPP bisa melihat sesungguhnya hati masyarakat tidak suka dengan keputusan DPP. Saya cuma petugas partai,” ucap JWS.

“Bicara politik jangankan bicara dua hari, satu jam pun masih bisa berubah. Kalau DPP melihat ini merugikan partai dan tidak sesuai dengan suasana hati masyarakat maka merugikan ke depan bagi partai. Bisa saja hari ini atau malam ada keputusan baru. Itu kan kewenangan DPP.”

JWS menegaskan, ia tidak bicara meninggalkan PDI-P. Karena ini suasananya lain. Berbeda dengan yang ia alami dulu di Golkar. Menurutnya, ketika itu ia tidak meninggalkan partai tapi ditinggalkan.

“Di partai ini juga saya harus ada kajian-kajian. Obsinya kan dua, paling baik kalau saya keluar akan menjadi independen, lebih baik melayani Tuhan. Daripada terjun di partai. Lebih baik memberitakan Firman bagi seluruh jemaat. Dan melupakan semua riak-riak di partai. Ternyata di partai kadang mengenakan, kadang juga menyakitkan,” sebut JWS.

Ia mengakui, pernyataan sebelumnya akan mengundurkan diri dari PDI-P itu bukan hoax. Itu benar. “Tapi itu kan sikap emosional. Saya ada tanggung jawab, kalau saya tidak tanggung jawab saya jadi munafik,” ujarnya.

JWS memastikan, akan menandatangani dulu berkas calon PDI-P. Kalau proses sudah berjalan, nanti ia akan mengambil sikap. “Yang pertama kita tenang dulu. Berdoa selama tiga bulan, saya akan pamit ke masyarakat. Saya punya waktu sampai 17 Maret. Dua bulan lebih nanti saya akan sampaikan paling tidak minta maaf kepada masyarakat tidak bisa karena begitu keputusan partai,” bebernya.

Dipastikan, keputusan yang akan diambil akan mendengar kemauan pendukungnya, bukan kemauannya. Sebab ia tidak mau mengecewakan pendukung.
JWS meyakini banyak masyarakat yang kecewa, emosi namun ia berharap tidak ada yang melakukan sesuatu yang tidak baik.

JWS juga mengungkapkan, sejak Senin malam kemarin banyak yang menelepon dia. Ada dari kubu Ivan Sarundajang dan Roy Oktavianus Roring, namun belum ia layani.

“Tidak enak kalau diangkat nanti kalau dijebak, nanti dululah. Pokoknya, apa yang terbaik bagi rakyat Minahasa akan saya ambil keputusan ke depan,” pungkasnya.

Signal akan memeberikan dukungan bagi pasangan tertentu, dilempar JWS. Namun, dukungan itu bukan tanpa syarat.

“Paling tidak saya harus tanya dulu ke calon, apa yang akan dibangun untuk rakyat Minahasa. Jangan sampai apa yang kita bangun, dianggap tidak baik, tiba-tiba dihilangkan. Kalau seperti itu, minta maaf. Tapi kalau ada komitmen yang sama bisa meneruskan apa yang telah kita bangun? Atau bisa saja (saya) tidak bisa mengambil keputusan apa-apa. Tapi terserah rakyat,” kunci JWS.

OLLY PASTIKAN JWS MASIH PDI-P
Kabar tentang niat hengkang JWS dari rumah banteng moncong putih, direspon petinggi PDI-P Sulut. Di sisi lain, sikap legowo JWS diapresiasi.

“Keputusan ini sebenarnya adalah kewenangan DPP, kami belum tahu. Semuanya kan berproses. Kami pun di DPD belum ada gambaran siapa yang akan diusung (dalam Pilkada Minahasa). Namun kami sangat mengapresiasi sikap Pak JWS akan mengantar calon yang diusung. Ini bentuk tanggungjawab dan kebesaran hati JWS. Kami terus terang salut,” aku Sekretaris DPD PDI-P Sulut, Franky Wongkar, Selasa (9/1).

Nada tegas disampaikan Ketua DPD PDI-P Sulut, Olly Dondokambey (OD). Ia menyatakan JWS, telah bertemu empat mata dengan dirinya di Jakarta, baru-baru ini.  "JWS hingga saat ini masih tetap sebagai Ketua DPC PDI-P Minahasa. Dalam pertemuan tersebut, JWS sudah menyatakan menerima semua keputusan dari pimpinan DPP PDI-P terkait penetapan pasangan calon bupati/wakil bupati Minahasa yang menetapkan pasangan ROR-RD (Roy O Roring - Robby Dondokambey). Saya pun mengajak JWS untuk tetap siap bersama PDI-P sebagai Ketua DPC PDI-P Minahasa," beber Olly via telepon seluler, Selasa kemarin.

Bendahara Umum DPP PDI-P ini pun menghimbau seluruh kader banteng dan masyarakat Minahasa untuk tetap bergandeng tangan dan bersama menjaga situasi keamanan tetap kondusif di tanah Minahasa jelang Pilkada. 

JWS JADI KUNCI
Meski diprediksi tak ikut serta di arena pertarungan Pilkada Minahasa Juni 2018 nanti, nama JWS masih diperhitungkan. Pendukung calon petahana yang secara mengejutkan didepak PDI-P dari kursi calon bupati itu dinilai akan jadi penentu.

JWS dipandang akan jadi kunci utama kemenangan dalam pertempuran dua poros besar, Golkar Cs yang mengusung pasangan Ivan Sarundajang (IvanSa) - Careig Naichel Runtu (CNR) dan gerbong PDI-P Cs yang pada akhirnya memilih menjagokan pasangan Royke Oktavianus Roring (ROR) - Robby Dondokambey (RD).

Pengaruh JWS dalam pertarungan dua kubu itu menurut akademisi sekaligus pengamat politik, Goinpeace Tumbel, yaitu dari sisi pendukung militannya. Sebab sejauh ini JWS masih memiliki basis massa yang jumlahnya cukup signifikan.

"Perlu diingat, JWS telah meniti karir birokrasinya di Minahasa sejak lama. Elektabilitasnya semakin naik selama menjabat wakil bupati dan kemudian bupati Minahasa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sedangkan di internal partai, sebagai ketua DPC dia memiliki kader-kader yang loyal. Dalam artian dia masih berpengaruh di birokrasi dan jejaringan partai, dalam hal ini PDIP," papar Tumbel.

Tak hanya itu, dia menilai JWS masih memiliki kolega-kolega di luar jajaran birokrasi dan parpol. Bahkan menurut Tumbel, militan pendukung eksternal itu jumlahnya jauh lebih besar daripada jaringan birokrasi dan parpol yang dimiliki JWS.

"Pendukung eksternal ini yang justru sifatnya tetap. Sebab pendukung di jajaran birokrasi atau partai bisa dengan mudah berubah haluan karena tekanan atasan. Sebaliknya militan eksternal akan lebih setia mendukung kemana arah kebijakan JWS nanti," ujar Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi itu.

Kubu militan JWS akan sangat mempengaruhi konstelasi politik di Pilkada Minahasa. Sebab poros yang menerima suplai dukungan otomatis akan menjadi lebih kuat dan berpeluang merebut kemenangan.

"Jadi sekarang tergantung JWS arahnya mau kemana. Apakah akan mengarahkan massa militannya mendukung poros Golkar atau tetap konsisten memenangkan PDI-P. Disinilah JWS yang walaupun tak ikut bertarung namun justru akan jadi pemegang kunci kemenangan," tutur Tumbel.

Di sisi lain ia melihat, jika militan pendukung JWS lebih memilih untuk golput maka kubu Partai Golkar akan jadi pihak yang lebih diuntungkan. "Karena bagaimana pun pendukung JWS juga didominasi jejaring PDI-P. Jika nanti mereka tetap kecewa terhadap keputusan partainya dan kemudian memilih golput, maka otomatis kekuatan PDI-P tak akan maksimal. Nah, ini tentu keuntungan buat koalisi Golkar," timpalnya.

Namun Dosen Ilmu Administrasi Negara di Universitas Negeri Manado (Unima) itu menilai, hal tersebut tergantung lobi-lobi yang akan dilakukan masing-masing poros, baik PDI-P maupun Golkar.

"Kita lihat saja siapa pihak yang mampu melakukan bargaining politik terhadap JWS. Jika PDI-P bisa menawarkan sesuatu yang dianggap JWS menguntungkan karir politiknya ke depan. Bukan tak mungkin militan pendukungnya diarahkan untuk memenangkan paslon yang diusung PDI-P. Sebaliknya, jika Golkar mampu memanfaatkan kondisi ini maka peluang kemenangan akan semakin besar," pungkas Tumbel. (arfin tompodung/jackson kewas/sonny dinar)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.