Salah satu pementasan musikalisasi puisi.


Terakota ‘Telurkan’ Buku ‘Anomali’

  • Peringati HUT ke-6

Manado, MS
Garapan acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-6 Komunitas Terakota, banjir kreatifitas. Karya-karya baru kembali ditelurkan para personilnya. Suasana Incubator Bisnis Area Foodcourt di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado pun sejenak riuh ramai.

Sejak sore sampai malam, Jumat (29/9), pementasan silih berganti mengisi momen bersejarah ini yang mengangkat tema ‘Anomali’. Mulai musikalisasi puisi, pentas teater, monolog, launching buku hingga diskusi bersama. Sementara, karya-karya grafi seni rupa dan fotografi, menghiasi pintu masuk ruangan acara itu. “Acara ini dalam rangka memperingati 6 tahun Terakota. Di sini kita ada pameran karya-karya grafi dari teman-teman selama 6 tahun,” kata Prasetio Lintong selaku koordinator sekaligus juga salah satu motor pelaksanaan acara HUT Terakota ini.

Ia berharap, anggota Terakota dapat tetap berkarya, memulai hal baru dan terus berinovasi. Jangan hanya berhenti di usia yang ke-6 tahun. “Seperti tema kita ‘Anomali’, memberikan juga arti bagi kita untuk terus berkarya, melawan arus dan menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda,” ucapnya.

Presetio juga mengapresiasi dan berterima kasih kepada teman-temannya yang telah mengambil bagian dalam penulisan buku berjudul ‘Anomali’. Buku berisi karya grafi dan 48 judul puisi ini, merupakan karya dari 18 penulis. Didalamnya ada David Singal, Rocky Panduu, Nisa Assagaf, Rachel Solang, Marissa Leba, Lovely Tampung, Rini Tumimbang, M. Farid Al Asy Ari, Hizkia Tumiwa, Henri Adam, Prasitio Lintong, Firmansyah Arbie, Syalm Kario, Daniel Mawati, Amoret Paraeng, Dirk Misa, Chelsea Evanglista dan Michiko Rorimpandey. “Bagi teman-teman yang menulis, diharapkan tetap semangat dan jangan malas berkarya,” kunci Lintong.

Kalfein Wuisan, salah satu undangan yang menghadiri acara tersebut mengatakan, dalam rangka merefleksikan makna ‘Anomali’, Terakota telah menjadi katalisator baru di Minahasa terlebih di Sulawesi Utara. “Perjalanan 6 tahun cukup lama namun Terakota masih tetap eksis. Sementara ada begitu banyak komunitas-komunitas lain, orang-orangnya mungkin masih ada tapi komunitasnya sudah tidak eksis lagi,” ungkap dosen di Universitas Negeri Manado ini.

Agar komunitas ini bisa terus bertahan, ia mengingatkan supaya Terakota dalam gerakan, jangan ada orang yang menjadi patron. Hal itu supaya teman-teman lain bisa mengekspresikan diri. “Jangan kita terpaku pada satu atau beberapa orang. Harus selalu ada yang baru karena itu juga bisa memberi ruang apresiasi bagi kerja-kerja kreatif lainnya,” tutupnya. (arfin tompodung)

Komentar