Terdakwa Solar Cell Dituntut 9 Tahun Penjara


Manado, MS

Jerat hukum untuk terdakwa korupsi kasus Solar Cell, telah rampung. Tak tanggung-tanggung, salah satu terdakwa, bahkan dituntut hingga 9 tahun penjara. Sidang kasus korupsi yang cukup menghebohkan itu pun dilanjutkan.

Sempat mengalami penundaan, sidang tuntutan perkara korupsi berbanderol Rp9,6 miliar lebih, dimulai Rabu (21/6) kemarin. Sidang itu dipimpin Majelis Hakim Alfi Usup, Vincentius Banar dan Wennynanda.

Dalam agenda tersebut, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diketuai Melly Ginting, dengan lantang membacakan ancaman sanksi pidana yang pantas dikenakan terhadap terdakwa Paulus Iwo, Ariyanti Marolla, Robert Wowor dan Lucky Dandel.

Terdakwa Iwo dituntut lebih tinggi dari tiga terdakwa lainnya, dengan kalkulasi tuntutan 9 tahun penjara lebih. “Mengajukan tuntutan pidana 6 tahun dengan Uang Pengganti sebesar 2,9 miliar rupiah lebih, subsidair 3 tahun. Dan denda 50 juta rupiah, subsidair 3 bulan,” sebut JPU Melly Suranta Ginting, memperjelas kembali tuntutan yang dibacakan JPU Alexander Sulung saat persidangan.

Ginting juga menyebutkan bahwa penerapan pasal 3 juncto (jo) pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 1999, jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana, dalam tuntutan juga berlaku atas terdakwa Ariyanti, Robert dan Lucky.

“Ariyanti kita tuntut 5 tahun disertai Uang Pengganti 300 juta rupiah,;subsidair 2,6 tahun dan denda 50 juta rupiah, subsidair 3 bulan. Untuk Robert dituntut 5 tahun berserta denda 50 juta rupiah, subsidair 3 bulan. Sedangkan, Lucky 4,6 tahun denda 50 juta rupiah, subsidair 3 bulan,” tambah Ginting.

Ditanya soal tuntutan sanksi pidana Ariyanti, Lucky dan Robert yang terbilang cukup berat. Ginting pun ikut menerangkan mengenai penerapan juncto 55. Menurutnya, penggunaan juncto pasal 55 adalah satu rangkaian yang tak terpisahkan, sekalipun berkas para terdakwa split.

Diketahui, kasus ini bergulir hingga ke Pengadilan Negeri Manado, berawal dari langkah penyidik Tipidkor Polda Sulut melakukan pengusutan atas indikasi korupsi dalam proyek Solar Cell di Dinas Tata Kota (Distakot) Manado Tahun Anggaran 2014.

Dalam proses pengusutan, telah didapati tiga kejanggalan. Pertama, dipicu adanya pertemuan sebelum proses pelelangan dimulai. Kedua, pengadaan baterai tidak sesuai spesifikasi kontrak. Ketiga, adanya kerugian Negara sebesar Rp3 miliar lebih dalam pengerjaan proyek tersebut.

Menurut dakwaan JPU, semua berawal ketika terdakwa Iwo memperoleh informasi dari lelaki PN alias Nelwan tentang adanya proyek ini sebelum ditenderkan. Dari situ, terdakwa Iwo langsung bergerak dan menghubungi pihak PT Subota Contractor Internasional, dengan tujuan meminjam bendera perusahaan.

Selanjutnya, terdakwa Iwo, menggandeng terdakwa Ariyanti dan menjadikannya sebagai Kuasa Direksi PT Subota.

Hebatnya lagi, proses tender belum dimulai, tapi terdakwa Ariyanti telah bertandang ke Manado atas perintah terdakwa Iwo, guna menawarkan brosur solar cell kepada eks Kepala Distakot, BJM alias Mailangkay. Dalam pertemuan itu, turut hadir terdakwa Lucky dan Robert bersama saksi Fentje Salindeho.

Begitu tender dimenangkan dan proyek dikerjakan. Usut punya usut, ternyata proyek dikerjakan tak sesuai kontrak. Diduga kuat terdakwa Iwo telah berani merubah spesifikasi baterai, yang dalam kontrak harusnya menggunakan baterai 12120 Ah merk Best Solution Batery (BSB).

Tapi diubah menjadi baterai Bulls Power atau BSBp 120 (SNI). Akibatnya, baterai hanya mampu bertahan 3 sampai 6 jam, yang semestinya menyala 10 jam per hari. (rhendi umar)

 

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado