TERORISME MERAJALELA TNI TURUN TANGAN

Jakarta, MS

 

Teroris di Indonesia, semakin menggila. Hanya dalam tempo sembilan hari, sederet aksi teror guncang nusantara. Belasan nyawa melayang. Baik dari warga sipil, aparat, termasuk pelaku teror. Pemerintah bereaksi. Dorongan pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam tindak pemberantasan terorisme   akhirnya direspon.

Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI, resmi dibentuk. Tim khusus yang bertugas membantu Polri dalam penanggulangan terorisme, akan di bawah komando langsung Panglima TNI. Pembentukan Koopssusgab itu pun telah direstui Presiden Joko Widodo, tanpa menunggu pengesahan Revisi Undang Undang (RUU) Terorisme, yang masih mengendap di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Itu menyusul rentetan aksi teroris yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, telah meresahkan bangsa. Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, membenarkan hal tersebut. "Untuk komando operasi khusus gabungan TNI, sudah direstui oleh presiden dan diresmikan kembali oleh Panglima TNI," beber Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (16/5) kemarin.

Pembentukan Koopssusgab disebut tidak perlu menunggu pengesahan RUU Terorisme. Pembentukan itu diinisiasi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan dibahas dengan Kapolri. "Nggak perlu nunggu. Sekarang ini, pasukan itu sudah disiapkan. Mereka setiap saat bisa digerakkan ke penjuru manapun dalam tempo yang secepat-cepatnya," tutur Moeldoko.

"(Komando) di bawah Panglima TNI. Itu inisiasi penuh Panglima TNI. Di dalamnya, kekuatan dari pasukan khusus darat, laut, dan udara yang terpilih," sambungnya.

Koopssusgab bisa untuk operasi perang selain militer atau sebaliknya. "Bisa untuk operasi perang dan operasi selain perang," tutur mantan Panglima TNI itu.

Ia pun meminta masyarakat untuk tenang dan tidak resah akibat rentetan teror yang telah terjadi. "Intinya serahkan pada aparat keamanan. Kita siap menghadapi situasi apapun. Masyarakat nggak perlu resah. Sekali lagi percayakan pada kami," tandasnya.

Itu diperkuat dengan pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto. Malah Setyo, mengaku salah satu pasukan khusus TNI sudah ikut membantu Polri dalam operasi antiterorisme beberapa waktu belakangan ini. "Kopassus sudah ikut masuk. Pak Kapolri sampaikan," ungkap Setyo  kepada wartawan, Rabu kemarin.

Kopassus disebut ikut membantu Polri dalam operasi penangkapan dan penggerebekan. Satuan Polri yang bersentuhan langsung dengan Kopassus adalah Brimob. "Sudah bekerjasama dengan Brimob di lapangan untuk penggerebekan-penggerebekan. Saya lupa tadi sampaikan bahwa kami sudah kerjasama dengan kopassus. Penangkapan-penangkapan itu sudah melibatkan Kopassus," jelas Setyo.

Namun Setyo tidak menjelaskan secara detail, sejak kapan dan operasi penangkapan atau penggerebekan di lokasi mana saja, yang melibatkan Kopassus. Satuan Koopssusgab itu pernah dibentuk oleh Moeldoko pada tahun 2015. Mereka adalah tim antiteror gabungan dari tiga matra TNI, masing-masing dari Sat-81 Gultor Komando Pasukan Khusus milik TNI AD, Detasemen Jalamangkara punya TNI AL, dan Satbravo 90 Komando Pasukan Khas dari TNI AU.

Seperti diketahui, aksi teror bermula pada kericuhan antara petugas dan terpidana terorisme terjadi di rumah tahanan cabang Salemba di Kompleks Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Selasa, 8 Mei 2018.

Kerusuhan itu diduga memicu rentetan tiga bom bunuh diri di tiga gereja berbeda di Surabaya, Jawa Timur pada Ahad, 13 Mei 2018. Tidak berselang lama aksi bom bunuh diri terjadi pula di Rumah Susun Wonocolo, Sidoarjo, pada malam harinya.

Adapun pada Senin pagi, 14 Mei 2018, giliran kantor Kepolisian Resor Surabaya menjadi sasaran aksi bom bunuh diri. Teranyar  pada Rabu pagi, 16 Mei 2018, Markas Kepolisian Daerah Riau diserang oleh sekelompok terduga teroris. Dalam peristiwa itu, seorang polisi tewas dan empat terduga teroris ditembak mati polisi.

33 TERDUGA TERORIS DITINDAK, 1 TRUK BOM DIAMANKAN

Operasi antiteroris gencar dilakukan aparat penegak hukum, pasca teror yang terjadi dalam 9 hari terakhir ini. Teranyar penangkapan 9 orang terduga teroris yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88.

Penangkapan itu terkait rentetan mulai dari rusuh napi di Rutan Mako Brimob, bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya yang disusul bom meledak di rusunawa di Sidoarjo, serta aksi bom bunuh diri di markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya, hingga penyerangan ke Mapolda Riau kemarin.

"33 jumlahnya sampai hari ini," ungkap Wakapolri Komjen Syafruddin, usai pemakaman Iptu Anumerta Auzar di TPU yang ada di Kelurahan Bambu Kuning, Tenayan Raya, Pekanbaru, Riau, Rabu (16/5) kemarin.

Jaringan teroris itu ditangkap di berbagai wilayah. Baik di Jakarta, Jawa Timur, maupun Riau. "Tersebar, termasuk di Riau, di Riau itu 4 (orang) sudah, kemudian ada pengembangan 7 di Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Tangerang dan sebagainya," ujarnya.

Syafruddin mengatakan rentetan peristiwa ini diduga memiliki keterkaitan. Namun begitu, pihaknya masih menyelidiki lebih jauh. "Ini sedang dikembangkan oleh aparat, kait-mengait kemungkinan besar kait-mengait, tapi tidak sampai kepada kesimpulan yang komprehensif, ada kaitannya," ujarnya.

Sementara, 9 orang anggota Polri menjadi korban. Lima di antaranya gugur. "Tindakan sporadis yang dimulai dari hari Selasa Minggu lalu di tahanan Salemba Cabang Kelapa Dua, Depok yang bertepatan di Mako Brimob Polri, itu rentetannya, memakan korban sampai 9 anggota polri, 5 gugur 4 luka-luka masuk RS," timpalnya.

Tak hanya itu, Densus 88 juga berhasil menemukan rangkaian bom sebanyak hampir satu truk di rumah para pelaku pemboman di Surabaya dan teroris Sidoarjo.  "Saat ini sudah dikumpulkan, lalu didisposal untuk jadi barang bukti. Sekarang rangkaian ini tidak didisposal dulu, tapi masih disimpan di Mako Brimob karena jumlahnya banyak," beber Kabid Humas Polda Jatim Frans Barung Mangera saat jumpa pers di Mapolda Jatim, Rabu kemarin.

Penemuan ini ujar Barung, usai Densus 88 menemukan satu koper bom pipa yang berjumlah total 54 bom yang sudah dijinakkan. Dalam satu truk ini, terdiri dari ratusan rangkaian bom yang ditemukan dari rumah pelaku pengeboman, rumah para teroris yang ditangkap atau rumah kontrakan teroris yang telah dilumpuhkan polisi.

Namun ketika ditanya detail jumlahnya, Barung belum bisa memastikannya sebab bom tersebut belum didisposal atau dijinakkan. "Yang jelas jumlahnya banyak. Pagi tadi dibawa ke Markas Brimob Watu Kosek. Kalau sudah didisposal baru kami detailkan. Barang bukti terlalu banyak. Kesimpulannya lebih dari satu truk," tutupnya.

TERORIS GUNAKAN MODUS BARU

Aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya dan Mapolrestabes Surabaya yang melibatkan anak-anak merupakan modus baru di Indonesia. Masyarakat diimbau untuk lebih pro aktif dalam melindungi anak-anak.

"Komnas Perlindungan Anak mewaspadai sebagai modus baru yang didoktrin selama terus-menerus oleh pelaku. Karena itu kami imbau masyarakat supaya lebih waspada. Karena anak-anak ini merupakan korban dari doktrinasi yang sedemikian rupa, sehingga pola berpikirnya berubah," ungkap Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait saat jumpa media di Mapolda Jatim, Rabu (16/5) kemarin.

Tak hanya itu, Arist mengungkapkan usia anak-anak memang sangat rawan untuk dan mudah untuk dipengaruhi sebab mereka masih memasuki usia masih rentan. "Usia-usia anak di SD, SMP, maupun SMA ini masih mudah untuk dipengaruhi pikirannya. Jadi nggak bisa disalahkan kalau mereka juga terlibat. Ini adalah korban dari orang tua yang salah," lanjutnya.

Kendati demikian, Arist berpesan pada elit politik dan negara untuk bersama-sama menerapkan satu visi dalam memberantas aksi teroris ini. "Ini adalah kejahatan kemanusiaan, bukan pengalihan isu. Karena itu kami mendukung Presiden membuat Perppu," tegasnya.

Sedangkan untuk polisi, Arist meminta agar pihak berwajib ini memperlakukan anak-anak sebagai korban, bukan pelaku. "Kami sampaikan bahwa mereka adalah korban bukan pelaku," tutupnya.

Pengamat terorisme Universitas Indonesia (UI) Solahudin, ikut angkat suara. Salah satu alasan teroris memakai anak dan perempuan untuk melakukan bom bunuh diri, dinilai untuk mendapatkan sorotan dari media.

"Jadi teroris membutuhkan media untuk menyebarkan rasa takut. Kemudian, Apakah teroris tahu news value, nilai berita? Tahu dan mengerti. Itu sebabnya teroris memakai anak-anak dan perempuan itu ada beberapa alasan. Salah satu alasannya. Karena mereka tahu laki-laki dewasa meledakkan diri itu sudah biasa," terang Solahudin, di Kantor Kemenkominfo, Jakarta, Rabu kemarin.

"Semua pelaku bom bunuh diri di Indonesia rata-rata lelaki dewasa. Tetapi kemudian Kalau seandainya pelakunya ibu dan anak itu kan baru luar biasa. Baru akan dapat covarage yang luas. Itu sebabnya media-media asing saja meliput kasus tersebut. karena buat mereka ini punya news value yang tinggi," lanjutnya.

Selain untuk mendapatkan sorotan media, keamanan juga menjadi alasan mengapa kelompok ekstrimis merekrut perempuan dan anak-anak untuk melakukan aksi teror bom. Perempuan dan anak-anak akan sulit diidentifikasi.

"Orang tidak menaruh curiga, apalagi dilakukan oleh satu keluarga. Misalnya Dita itu sudah di surveillance selama 4 bulan tapi tidak ada tindakan mencurigakan. Akhirnya tidak jadi disurveillance. Kenapa? Karena dia melakukan aksinya bersama-sama keluarga," tuturnya.

Selain itu, kata Solahudin, menggunakan anak-anak dan perempuan sebagai 'pengantin' juga bertujuan untuk menyampaikan pesan ke jaringan-jaringan teroris yang lain.

"Apa pesannya? Pesan pentingnya Provokasi kepada jaringan-jaringan kelompok ekstrimis. Bahasa sederhananya 'anak-anak saja berani, perempuan saja berani masa lu kagak laki-laki saja tidak berani'," tandasnya.

Hal itu pun diakui Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Aksi teror terjadi lantaran pelaku menggunakan metode kerja baru sehingga sulit dideteksi. Moeldoko mencontohkan pengeboman tiga gereja di Surabaya yang dilakukan satu keluarga.

"Kalau itu dimunculkan dari satu keluarga, sel-sel itu dalam satu keluarga. Dia tidak perlu menggunakan alat-alat komunikasi sehingga sulit dideteksi," ujar Moeldoko di Kantor Wakil Presiden, Rabu, kemarin.

Seperti diketahui, aksi bom bunuh diri di Surabaya menggunakan perempuan dan anak-anak. Dita Oeprianto (48) dan istrinya, Puji Kuswati (43) membawa serta keempat anaknya berinisial YF (18), FA (16), FS (12) dan FR (9) untuk meledakkan tiga gereja di Surabaya.  Selain Dita yang membawa anak dan istrinya, Pelaku teror bom di Mapolresta Surabaya Tri Murtiono (50) dan istrinya yang bernama Tri Ernawati (43) juga membawa tiga anaknya.

JOKOWI PERINTAHKAN POLRI, TNI, BIN KENDALIKAN KEAMANAN

Situasi keamanan di Indonesia masih terguncang akibat sederet aksi teror dari terduga teroris. Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan untuk mengendalikan keamanan.

Tiga pucuk pimpinan korps keamanan di Indonesia diminta untuk menjaga semangat persaudaraan dan kerukunan di tengah masyarakat. Perintah Jokowi pun bukan tanpa sebab.

Menurut dia, kondisi keamanan diperlukan karena umat Islam Indonesia akan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan mulai Kamis besok hingga satu bulan ke depan. "Sehingga kami harapkan umat Islam bisa menunaikan ibadah puasanya dengan rasa aman dan penuh kedamaian," ungkap Jokowi saat membuka rapat kabinet terbatas di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, (16/5) kemarin.

Tak hanya itu, seluruh jajaran menteri diperintahkan untuk menyampaikan pesan soal situasi keamanan di Indonesia. Ia ingin seluruh kementerian dan lembaga negara menyampaikan pesan bahwa Indonesia tetap aman. "Narasi ke dunia internasional sangat penting sekali bahwa Indonesia aman dan kita semua fokus untuk bekerja," tandasnya.

Diketahui, aksi teror terakhir terjadi di Mapolda Riau, Rabu kemarin. Para terduga teroris melakukan penyerangan dan menerobos masuk ke Mapolda menggunakan mobil. Akibat penyerangan, dua polisi luka-luka, yakni Brigadir John Hendrik dan Kompol Faridz. Satu polisi gugur atas nama Ipda Auzar.

Dua jurnalis dari tvOne dan MNC TV juga terluka akibat peristiwa ini. Sementara empat orang pelaku penyerangan ditembak mati aparat, karena menyerang polisi menggunakan pedang. Sedangkan satu orang terduga teroris ditangkap saat berusaha kabur.

 

 

 

 

Terduga teroris yang menyerang Mapolda Riau disebut tergabung dalam kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang berafiliasi dengan ISIS. "Keterangan kelompok ini Negara Islam Indonesia (NII) yang afiliasi dengan ISIS Dumai," kunci Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, Rabu kemarin.(dtc/tmp)

 

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.