Terpidana Solar Cell Banding

Manado, MS

Perkara pidana korupsi Solar Cell, belum berakhir. Putusan Majelis Hakim tidak diterima terdakwa Paulus Iwo. Terdakwa mengambil langkah banding.

Langkah hukum atau banding yang ditempuh Paulus Iwo, satu dari empat terpidana korupsi proyek Penerangan Jalan Umum (PJU) sistem Solar Cell di Dinas Tata Kota (Distakot) Manado, tak membuat gentar Tim Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kota Manado.

Ketika ditemui awak media, Jumat (7/7) lalu, Ketua Majelis Hakim Alfi Usup menerangkan kalau vonis Majelis Hakim pada sidang, Kamis (6/7) di Pengadilan Negeri Manado, sudah berdasarkan fakta persidangan. Usuppun  menuturkan, baterai Bulls Power yang dibeli terdakwa paulus Iwo di Cina bersama saksi Irene Netty tidak sesuai dengan kontrak. Di mana, dalam kontrak yang harusnya terpasang yakni baterei merk Best Solution Batery (BSB). Parahnya lagi, barang yang didatangkan dari Cina itu justru tidak melalui proses uji laboratorium (lab). Padahal, sudah menjadi ketentuan bahwa setiap barang dari luar negeri wajib mendapat uji lab. Sehingga, Majelis Hakim dalam pertimbangannya mengemukakan adanya unsur korupsi yang dilakukan Iwo bersama tiga terpidana lainnya dalam proyek tersebut.

“Hasil audit ahli berhasil menemukan adanya kerugian Negara sebesar 3 miliar rupiah lebih dalam proyek Solar Cell Tahun Anggaran 2014 ini. Belum lagi ditambah fakta lapangan bahwa baterai yang didatangkan dari Cina itu telah direkayasan dengan cara ditempel stiker merek BSB,” terang Humas Pengadilan Tipikor ini.

Tak hanya itu, kekuatan baterei hanya sanggup bertahan 3 sampai 6 jam. Sedangkan dalam kontrak proyek, baterei seharusnya bertahan hingga 10 jam per harinya.

“Pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim tersebut, jelas sulit terbantahkan. Hal ini membuat langkah banding yang diajukan Iwo, hanya akan membuat sanksi pidana bertambah, bukan berkurang. Upaya hukum atau banding hanya memungkinkan tiga hal, bisa saja Pengadilan Tinggi menguatkan putusan Majelis Hakim PN Manado dalam perkara Solar Cell ini, bisa juga sanksi pidananya bertambah dan bisa juga berkurangan,” tanggap Usup, sembari menambahkan kalau dari sekian banyak perkara korupsi yang banding, dominan sanksi pidananya malah bertambah.

Kendati demikian, Majelis Hakim tetap menghargai langkah banding yang ditempuh Iwo bersama Penasehat Hukum (PH)nya. “Itu hak mereka dan itulah yang dinamakan Hak Asasi,” pungkasnya.

Sebelumnya diketahui, pengadilan Tipikor Manado telah memvonis empat terdakwa pada Kamis (6/7)

Masing terdakwa yaitu Hendrik Wowor, Lucky Dandel, Aryanti Marola, dan Paulus Iwo dijatuhi hukuman berbeda.  Untuk Hendrik Wowor divonis 4 tahun penjara denda Rp50 juta, Subsidaer 3 bulan penjara tanpa uang pengganti. 

Sementara Lucky Dandel divonis 3 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp50 juta subaidair 3 bulan yang juga tanpa uang pengganti. Sedangkan Aryanti Marola divonis 4 tahun penjara denda Rp50 juta subsidair 3 bulan. Tak hanya itu, Aryanti juga diwajibkan mengganti kerugian negara sebesar Rp300 juta subsidaer 1 tahun 6 bulan penjara. Dan untuk terdakwa Paulus Iwo diganjar hukuman  5 tahun penjara denda Rp50 juta subsisair 3 bulan. Uang pengganti Rp2,4 miliar sekian, subsidaer 2 tahun penjara. Mereka telah terbukti melanggar ketentuan pasal 3 juncto (jo) pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambahkan dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 1999, jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Dari hasil putusan hakim tersebut tiga terdakwa masih pikir-pikir dan ada yang telah menerima putusan tersebut. Hanya Paulus Iwo yang menyatakan banding dengan putusan hakim tersebut.(rhendi umar)

 

Banner Media Sulut

Komentar

Populer hari ini

Sponsors

Banner Media Sulut

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.