Kantor Pusat Unima

Tim Saber Unima Dicap Tak Bertaji

Aksi Pungli Diduga Masih Marak

 

Laporan: Jackson KEWAS

 

TEROBOSAN pucuk pimpinan Universitas Negeri Manado (Unima),  Prof Dr Julyeta Runtuwene MS DEA membentuk tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Siber Pungli), sempat membawa asa baru di salah satu institusi pendidikan tinggi ternama di Sulawesi Utara (Sulut). Gebrakan positif yang diprakarsai rektor perempuan pertama di Unima itu pun menuai beragam apresiasi.

Baik dari kalangan mahasiswa, politisi, hingga aparat penegak hukum. Salah satunya datang dari Jaksa Agung Muda bidang Pengawasan (Jamwas) Kejaksaan Agung,  Prof DR R Widyopramono SH MM MHum. Langkah istri Walikota Manado itu dinilai sebagai suatu inovasi cemerlang yang dapat memutuskan rantai pungli di Unima.

Namun impian dari berbagai kalangan, utamanya mahasiswa pupus. Aksi pungli, ditengarai masih marak terjadi di wadah pendidikan tinggi yang menghasilkan generasi penerus bangsa itu. Pelakonnya diduga oknum-oknum petinggi dan dosen.

Inovasi Runtuwene terkesan diabaikan oleh sejumlah oknum-oknum petinggi serta dosen di lembaga pendidikan tinggi yang dinahkodainya itu. Tim siber pungli, terkesan tak berkutik. Mahasiswa pun yang tidak berdaya melawan aksi pungli, karena takut dipersulit dalam penyelesaian kuliah.

Teranyar, laporan dugaan pungli yang terjadi di salah satu fakultas di Unima. Beredar informasi, setiap mahasiswa  yang akan mengikuti ujian di fakultas itu, diwajibkan membayar uang pendaftaran sebesar Rp500 ribu per orang. Tak hanya itu, ada pula oknum-oknum dosen yang ditengarai masih meminta jatah kepada mahasiswa peserta ujian dengan dalil uang terima kasih.

Kabar memiriskan bagi dunia pendidikan itu terendus Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Tondano. Organisasi kemahasiswaan itu mengaku telah menerima laporan masih adanya dugaan pungli di Unima.

“Kita sudah mendapat info soal itu. Ternyata di kampusku masih gemar tradisi pemberian ‘ucapan terima kasih’ kepada penguji ujian proposal, seminar hasil sampai ujian komprehensif. Bagaimana kampus ini mau maju kalau hal ini masih mengakar,” sembur Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Tondano Hanry Liunsanda SH dengan nada kesal.

“Apalagi dengar-dengar masih ada oknum dekan dan pimpinan program studi yang meminta-minta jatah ucapan terima kasih dari mahasiswa. Pakai patokan lagi,” sambungnya kepada wartawan, Rabu (14/6) kemarin.

Praktik pungli itu, lanjut Hanry, sudah sangat menyiksa mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang disebut putus kuliahnya, akibat adanya pungutan-pungutan seperti itu. “Banyak mahasiswa yang tak bisa melanjutkan kuliah, karena adanya permintaan biaya-biaya extra seperti itu. Umumnya mereka dari keluarga yang pas-pasan,” ungkapnya.

Ironinya lagi, tak sedikit oknum pelaku pungli  yang  juga pelayan Tuhan di gereja.  “Makanya sangat mengherankan, kenapa mereka itu tidak peduli terhadap mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Mungkin yang ada dipikirannya, yang penting dapat uang,” sesal Hanry.

Ia mengajak mahasiswa Unima untuk berani melapor ke aparat penegak hukum, bila diperas oleh oknum-oknum petinggi maupun dosen di Unima. “Jangan takut. Apalagi Rektor sangat mendukung program pemberantasan pungli di kampus ini,” tantangnya.

Hanry berharap kasus itu mendapat perhatian serius dari Rektor. “Semoga hal ini menjadi perhatian dari Ibu Rektor.  Tim siber pungli harus dioptimalkan lagi. Berantas semua oknum-oknum di civitas Unima yang masih kedapatan melakukan pungli dalam bentuk dan dalil apapun juga,” pinta anggota kelompok cipayung itu.

“Yang pasti kami tetap mendukung Rektor dalam upaya pemberantasan pungli di Unima. Kita berharap dan berdoa, Unima akan benar-benar bebas dari segala bentuk pungli dan korupsi,” tandasnya.

Sayangnya pihak Unima yang dikonfirmasi hingga berita ini diturunkan belum memberikan jawaban. (jackson kewas)

 

 

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado