1. Peserta pendidikan pemilih pemula diruang baku beking pande 2. Salah satu display Wale Pawowasan

Tinangon: Demokrasi Indonesia Awalnya dari Mina

Hadirkan ‘Wale Pawowasan’ Pemilu

 

Tondano, MS

Sebelum menjadi Negara Indonesia, para leluhur di Tanah Toar Lumimuut ternyata telah lebih dulu mempraktekkan demokrasi. Gambaran historis itu, tersaji pada ruang display, Rumah Pintar Pemilu (RPP) yang dirancang Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Minahasa.  Sejarah dan kultur  Minahasa begitu erat melekat di dalamnya.

Wadah belajar tersebut diberi nama ‘Wale Pawowasan Pemilu’. Diambil dari bahasa Toulour-Tondano, artinya ‘rumah pembelajaran’ Pemilu. Media khusus pendidikan Pemilu dan demokrasi tersebut, diresmikan penggunaannya oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa, Jefry Korengkeng, mewakili Bupati Drs Jantje Wowiling Sajow, Jumat (24/2). Muatan pameran dalam RPP KPU Minahasa ini, menurut Ketua KPU Kabupaten Minahasa, Meidy Yafeth Tinangon, terinspirasi dari ungkapan mantan Ketua KPU RI, Almarhum Husni Kamil. Hal itu disampaikan Kamil, dalam suatu kesempatan kunjungannya ke Sulawesi Utara (Sulut) dan membawakan kuliah umum di Universitas Sam Ratulangi Manado, 27 Mei tahun 2016 yang lalu.

Kala itu ia mengatakan, demokrasi di Indonesia berawal dari Minahasa. “Almarhum Husni Kamil Manik, pernah menegaskan bahwa demokrasi Indonesia awalnya dari Minahasa. Hal ini sangat beralasan karena sebelum Indonesia merdeka tahun 1945, jauh sebelumnya kultur, struktur dan praktek demokrasi telah ada di tanah Minahasa,” ungkap Tinangon.

Demokrasi di Minahasa, lanjut Tinangon, memang sudah lama dikenal. "Di tingkat desa kita telah lama mengenal pemilihan ukung tu’a atau hukum tua atau kepala desa. Juga struktur lembaga pemusyawaratan tempo dulu di Minahasa telah ada dengan sebutan Dewan Wali Pakasaan yang merupakan forum tertinggi dalam struktur masyarakat Minahasa tempo dulu," tuturnya.

Kemudian di masa Belanda dirombak dan diganti dengan lembaga perwakilan lainnya dengan nama Dewan Minahasa atau Minahasa Raad yang eksis sampai setelah Indonesia merdeka. Dimana, anggota-anggotanya dipilih melalui pemilu.

"Pemilu di Minahasa pernah juga dilaksanakan di masa RIS di kala Minahasa masuk dalam Negara Indonesia Timur. Setelah itu kita memasuki masa demokrasi dan Pemilu orde baru hingga kini Pemilu di orde reformasi,” jelas Tinangon.

Tinangon menyebut, atas dasar itulah maka RPP KPU Minahasa berusaha memberikan muatan pembelajaran sejarah demokrasi di Minahasa. Sehingga ditampilkan juga muatan-muatan lokal sejarah demokrasi Minahasa di ruang display. Nampak koleksi foto sejarawan muda Bodewijn Talumewo SS, terpampang di media display. Ada juga rangkuman sejarah demokrasi Minahasa yang dihimpun dari berbagai literatur. Tak ketinggalan, buku-buku tentang sejarah dan kebudayaan Minahasa terpajang di lemari perpustakaan mini ruang 'Baku Beking Pande'.

RPP Wale Pawowasan sendiri, dirancang menyesuaikan ketersediaan ruangan. Masing-masing ruangan diberi nama dengan bahasa lokal. Bagian-bagian ruangan tersebut meliputi ruang tunggu, dengan nama Ruang Sumaba-Sabar (Ruang Bersabar-sabar), ruang display  yang dirancang dengan model jalan lorong dinamakan 'Lalan Sumekolah Demokrasi' atau jalan bersekolah demokrasi. Ruang simulasi diberi nama 'Ruang Papendangan-Tou Ngaasan Mapeleng' yang artinya ruang pembelajaran manusia cerdas memilih dan ruang audio-video yang digabung dengan ruang diskusi serta perpustakaan mini, diberi nama Ruang Baku Beking Pande. Diangkat dari filosofi yang dipopulerkan Tokoh Minahasa, HN Ventje Sumual yaitu Baku Beking Pande. (jackson kewas)

Banner Media Sulut

Komentar