TNI-POLRI SIAGA DI NUSA UTARA

Manado, MS

 

Kejutan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Filipina memantik reaksi cemas publik Bumi Nyiur Melambai. Dipastikan, ketegangan di negeri tetangga itu kans menyerempet ke jazirah utara selebes. Jarak ‘sedepa’ dengan Indonesia memungkinkan milisi ISIS menyeberang ke wilayah Nusa Utara. Aparat keamanan pun ‘pasang kuda-kuda’. Gelombang personil TNI-Polri didorong ke Sangihe dan Talaud.

 

Gejolak yang terjadi di Kota Marawi Filipina antara pasukan ISIS dan pemerintah setempat, membuat Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut) menurunkan ratusan personil demi menjaga perbatasan yang ada di Kabupaten Sangihe dan Kabupaten Talaud.

 

Wakapolda Sulut Brigjen Pol Refdi Andri, memimpin apel pelepasan operasi yang diberi nama ‘Aman Nusa Tiga’ itu, Senin (29/5), pukul 13.30 Wita, di Markas Komando Polda Sulut. 100 anggota Brimob ditugaskan ke wilayah perbatasan, untuk membac-up aparat keamanan lain di wilayah tersebut. “Mereka nantinya akan bertugas di tiga Polsek yang berbatasan langsung dengan Filipina,” ungkap Wakapolda.

 

Para personil ini nantinya akan memeriksa setiap nelayan yang keluar masuk di perbatasan Sulut dan Filipina. “Kami juga libatkan Polisi Air dalam operasi kali ini. Selain itu Sabhara dan Intel juga akan kami kirim untuk memantau situasi,” kata Wakapolda.

 

Dijelaskannya, para personil ini nantinya akan bertugas selama 90 hari di Sangihe dan Kepulauan Talaud. “Kurang lebih tiga bulan, tapi kalau situasi sudah kondusif mereka bisa pulang secepatnya. Sebaliknya bila situasi tidak terkendali maka pasukan akan ditambah lebih banyak lagi,” jelasnya.

 

Jenderal bintang satu ini berharap, para personil yang diutus nantinya bisa bekerja sesuai prosedur. “Yang paling utama, harus ada langkah antisipasi dini. Agar kejadian seperti Marawi, maupun Kampung Melayu tidak terjadi di Sulut,” tandasnya. 

 

 

WARGA PERBATASAN BERAHARAP TNI SIAGA


Kontak senjata antara pasukan pemerintah dan ISIS di Kota Marawi, Filipina, membuat warga Sulut di perbatasan dihantui kecemasan. Aparat TNI pun diminta terus siaga di wilayah Nusa Utara.

"Satgas Keamanan Perbatasan TNI dari beberapa kesatuan harus diaktifkan kembali," ujar tokoh masyarakat Siau, Tommy Mohede, Senin (29/5).

Menurutnya, wilayah perbatasan utara Indonesia sangat terbuka. Oleh karena itu, demonstrasi kesiagaan menjadi penting agar bisa mendorong partisipasi masyarakat.

"Polisi misalnya, bisa melakukan razia untuk mendeteksi orang asing yang dapat saja menjadi pelaku penyerangan. Hanya dengan kesiagaan besar, maka kelompok teroris tidak akan bangkit," jelas Mohede.

Senada dilontarkan tokoh muda Talaud, Alfrid Manein. Pengawasan aparat diminta ditingkatkan. Perhatian serius dari semua stake holder juga diharapkan.

"Intinya bahwa pengawasan harus intens dilakukan baik melalui darat ataupun laut. Ini menjaga agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak boleh terjadi," singkat Manein.


LANAL MELONGUANE TINGKATKAN PATROLI DI PERBATASAN


Mengantisipasi pergerakan ISIS masuk di Wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Melonguane secara intens melakukan patroli di perairan Talaud. 

"Kami secara intens melakukan patroli bersama tim Bea Cukai dan Imigrasi di sekitar Pulau Miangas," beber Pasintel Lanal Melonguane, Kapten Ismail Hamid, saat di temui Media Sulut di ruang kerjanya, Senin (29/5).

Di samping itu, kata Ismail, pihaknya selalu berkoordinasi dengan sesama aparat di Kabupaten Talaud, baik dari pihak Kepolisian, TNI-AD, Badan Intelegen Negara (BIN) maupun pemerintah daerah.

"Kalau ada apa-apa mereka selalu koordinasi dengan kita. Misalkan ada orang asing dicurigai kita saling memberikan informasi," tandasnya, sembari meminta kerja sama dengan para jurnalis di daerah perbatasan.  

FORKOPIMDA SANGIHE BAKAL GELAR PATROLI GABUNGAN


Bupati Sangihe, Jabes E Gaghana menghimbau kepada seluruh masyarakat Sangihe yang berada dimana saja agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap situasi yang ada, serta menguatkan tali persaudaraan yang selama ini sudah terjalin dengan baik.

"Buktinya Sangihe saat ini masih tetap sangat kondusif, sementara di sisi lain perlunya keterlibatan dan peran dari para tokoh agama yang ada, agar terus memberikan pengajaran-pengajaran agama, serta dengan tegas kita warga Sangihe menolak kehadiran ISIS di wilayah Sangihe,“ papar Gaghana. 

Sebagai langkah antisipasinya, Gaghana akan melakukan kunjungan kerja dengan mengajak seluruh Forkopimda untuk mengunjungi Marore dan sekitarnya. "Inti dari kunker perdana di wilayah Marore ini adalah untuk memberikan penguatan bagi masyarakat yang ada di sana,“ tutur Gaghana.

Sementara, Dandim 1301/Satal, Letkol Inf Saiful Parenrengi mengakui, aparat TNI yang bertugas di wilayah perbatasan, serta beberapa titik lainnya yang dianggap rawan perlu perhatian ekstra.

"Untuk penjagaan, para petugas yang selama ini bertugas dan ditempatkan sesuai dengan wilayahnya terus kita perketat,“ tegas putra Makasar ini.

Kapolres Sangihe, AKBP I DW Adnyana kepada sejumlah media saat melaksanakan buka puasa  bersama  seluruh anggota Polres, tokoh agama, masyarakat, serta insan pers di aula Bhayangkara Mapolres Sangihe, Sabtu (27/5), mengatakan pihaknya kini tengah meningkatkan penjagaan di beberapa titik yang dianggap rawan. Di antaranya dengan memaksimalkan Babinkamtibmas yang berada di kampung-kampung, serta memantau setiap keluar masuk orang baik melalui pelabuhan laut dan pelabuhan udara.

"Di samping itu pula kami melakukan koordinasi dengan pihak TNI guna mengambil langkah dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk yang akan terjadi di wilayah Sangihe secara khusus mengenai sepak terjang ISIS,“ terang Adnyana.

Dan Lanal Tahuna, Kolonel laut (P) Setiyo Widodo menjelaskan pihaknya akan melaksanakan koordinasi dengan pihak Kodim 1301/Satal, Polres Sangihe bersama dengan pemerintah untuk melaksanakan patroli gabungan, yang nantinya akan ikut disupport oleh KRI. 

"Wilayah perairan kita akan selalu ditempatkan petugas guna mengantisipasi pergerakan organisasi ISIS, dengan demikian siapa saja warga asing yang akan masuk melalui wilayah Sangihe akan terus kita pantau dan langsung kita ketahui mengenai identitasnya serta aktifitasnya seperti apa,“ ungkap Widodo.

 

MINUT WASPADA, PENGAWASAN ORANG ASING DIPERKETAT

Eksitensi ISIS yang mulai menghuni Marawi Filipina, menjadi tanda awas masuknya komplotan berbahaya itu di wilayah Sulut. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah Sulut, termasuk Pemkab Minahasa Utara (Minut). Sebab daerah ini terbilang rentan sebagai sasaran masuknya orang asing dan barang-barang selundupan berbahaya seperti senjata.

Sikap siaga pun mulai diperagakan pemerintah Minut. Himbauan penting juga sudah disampaikan kepada para Camat dan Hukum Tua, apalagi bagi mereka yang berada di wilayah pesisir, seperti Likupang, Wori dan Kema. "Himbauan sebelumnya sudah disampaikan apalagi saat ini penyebaran warga negara asing, sudah mulai merambah daerah Sulut dan tidak menutup kemungkinan akan sampai di Minut. Karena geografis daerah ini berbatasan langsung laut. Untuk itu pemerintah Minut saat ini tegas memerintahkan Hukum Tua dan Camat untuk mengawasi wilayah pesisir, lebih serius diawasi masuknya barang-barang selundupan dan orang asing," tegas Wakil Bupati Minut, Joppi Lengkong, Senin (29/5).

Dua hal ini menjadi perhatian serius dalam pertemuan Pemkab Minut dan unsur Kominda, belum lama ini. Kepala Badan Kesbangpol Minut, Marthino Dengah mengatakan, pengawasan orang asing perlu dilakukan secara berkesinambungan guna mencegah terjadinya tindak pidana yang dilakukan orang asing maupun penyelundupan melalui imigran gelap. Apalagi saat ini penyebaran teroris ISIS sudah sampai di Filipina yang notabene berbatasan langsung dengan Sulut.

“Kami pemerintah bersama unsur aparat kepolisian dan TNI terus melakukan monitoring. Demi mendapatkan aktual data dan informasi keberadaan orang asing. Penguatan serta penyelarasan tugas dan fungsi instansi terkait dalam pemantauan orang asing di wilayah Kabupaten Minut juga terus dioptimalkan,” tandasnya.

“Koordinasi menyangkut hal ini melibatkan semua pihak khususnya instansi teknis terkait, termasuk di dalamnya unsur pemerintahan kecamatan hingga desa dan pihak berwajib,” jelasnya.

Pengawasan yang dilakukan pemerintah dalam rangka penguatan koordinasi, keterpaduan, penyelarasan tugas dan fungsi, serta pertukaran perkembangan menyangkut keberadaan orang asing demi terciptanya stabilitas keamanan di tengah-tengah masyarakat.

“Melalui monitoring dan evaluasi, kita bisa mengetahui keberadaan mereka. Untuk itu juga dihimbau agar para Camat dan Hukum Tua berperan aktif,” pintanya.

 

Wiranto: Perbatasan Sulut-Filipina Diperketat

Sulut menjadi salah satu wilayah paling dekat dengan Filipina. Pasca gempuran hebat yang dilancarkan militer Filipina ke Marawi, muncul kekhawatiran jika ISIS kans terurai dan masuk Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto, mengatakan pemerintah mengantisipasi larinya kelompok ISIS pascaserangan militer Filipina ke Marawi. Menurut Wiranto, ini juga mengantisipasi basis baru di perairan Kepulauan Sulu, Filipina.

"Dengan adanya Kepulauan Sulu sebagai basis baru ISIS, yang sedang digempur militer Filipina habis-habisan, ada kekhawatiran ini terurai masuk ke Indonesia," kata Wiranto, Minggu (28/5).

Wiranto mengatakan, telah memperkuat posisi militer Indonesia termasuk kepolisian Indonesia dan aparat teritorial untuk waspadai larinya jaringan teroris Filipina ke Indonesia pasca serangan militer Filipina. "Kita tidak usah terlalu khawatir permasalahan itu," kata dia.

Selain itu, menurutnya pemerintah Indonesia dan Filipina berkomitmen menjaga daerah perbatasan dengan Patroli Maritim Bersama. "Jadi kita memperkuat patroli di wilayah perbatasan agar tidak ada kelolosan dari Filipina ke Indonesia," terangnya.

Pertempuran besar-besaran pasukan militer Filipina menghadapi kelompok pemberontak Maute di Kota Marawi terjadi sejak 25 Mei 2017. Pertempuran menewaskan 44 orang, 11 di antaranya pasukan militer Filipina.

Pertempuran untuk membebaskan Kota Marawi dari cengkeraman kelompok Maute masih berlangsung hingga hari ini. Filipina mengerahkan beberapa tank dan helikopter dalam operasi militer di Marawi, kota yang dihuni mayoritas muslim. Wiranto mendukung Filipina untuk menggempur basis ISIS di negara tersebut.

Panglima Kodam XIII/Merdeka, Mayjen TNI Ganip Warsito menyatakan, masyarakat tidak perlu gentar dengan aksi-aksi terorisme. Ganip mengimbau masyarakat agar bahu-membahu dengan TNI/Polri untuk menangkal aksi-aksi tersebut. "Kita jangan takut. Kalo kita takut mereka berhasil. Kita perlu bahu-membahu untuk menangkal semua ini," harap Ganip.

Ia juga menegaskan bahwa TNI telah mengantisipasi apa yang terjadi di Marawi. Sulut merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Filipina. Beberapa pulau seperti Miangas dan Marore bahkan lebih dekat ke Filipina dibandingkan dengan ke Manado. Jalur perairan terbuka sangat sering menjadi jalur pasokan barang selundupan dan ilegal dari Filipina ke Talaud dan Sangihe. Nelayan Filipina yang menangkap ikan di perairan Sulut juga sudah sangat lumrah.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan, pemerintah akan memperketat daerah perbatasan terkait dengan serbuan militer Filipina ke Kota Marawi. TNI dan Polri akan berkoordinasi dengan masyarakat di daerah pulau terluar. Polri akan mengantisipasi milisi dari Mindanao masuk ke Indonesia. "Mianggas dan Marore itu hanya lima jam dari Davao, Filipina Selatan," jelas Setyo saat konferensi pers di Mabes Polri,  Minggu (28/5).

Militer Filipina menyebut adanya milisi asing asal Indonesia. Setyo membenarkan kabar ada warga negara Indonesia yang meninggal di Marawi. Namun, hal tersebut masih menunggu adanya verifikasi ulang. "Perlu verifikasi lagi, Ayman Marjuki apakah dia WNI," tutur mantan Kapolsek Tomohon itu. (tim ms/tmp/trb)

 

 

Banner Media Sulut

Komentar

Populer hari ini

Sponsors