Dep. Director Business and Collection Team 5 Oper. And Coll, Sulawesi and Kalimantan, Renal Kandijo (kemeja hitam), bersama dua ‘Papa Angkat’ Roy Kader dan Hanny Pontoh serta Pimpinan Bank Artha Graha Internasional Cabang Manado, Reymond Christoffel (keme

Topang Pelaku Usaha Mikro, Bank Arta Graha Kucur KUR 500 M di Sulut

Komitmen Bank Artha Graha Internasional untuk menjadi mitra rakyat dalam mengembangkan usaha, tak sekedar isapan jempol.  Perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa keuangan perbankan itu, kini tengah getol menjalankan program Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang memihak ke pelaku usaha mikro.

Tak  tanggung-tanggung KUR, yang diberikan oleh bank yang berpusat di Jakarta itu, tanpa jaminan.  Program itu berlaku secara nasional, termasuk di Sulawesi Utara (Sulut). Malah Bumi Nyiur Melambai, tergolong mendapat atensi lebih dari bank yang berdiri sejak tahun 1973 itu.

Dari total Rp250 miliar dana KUR yang dikucurkan di seluruh Indonesia di 118 cabang KUR, Sulut kecipratan Rp500 Miliar. Khusus di Sulut, KUR untuk usaha Mikro para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah diberikan kredit modal kerja atau investasi dengan plafond sampai 25 juta dan jangka waktu maksimal 5 tahun.

“Ini program Artha Graha Peduli untuk mendukung program Presiden Joko Widodo dalam membantu mengembangkan usaha rakyat kecil,” ungkap Dep. Director Business and Collection Team 5 Oper. And Coll, Sulawesi and Kalimantan Bank Artha Graha Internasional, Renal Kandijo, kepada sejumlah pimpinan Media Cetak di Rumah Makan Wahaha Manado, Kamis (7/9) kemarin.

Khusus untuk KUR Mikro di Sulut, diprioritaskan pada usaha kecil menengah pada sektor pertanian. Dan sistem penyaluran KUR melalui mekanisme ‘Papa Angkat’. “Kalau penyalurannya kita pakai pola yang namanya Papa Angkat. Saat ini ada dua Papa Angkat yang jadi Mitra kerja kita di Sulut. Satu di wilayah Minahasa, Hanny Pontoh dan satunya lagi di Bolaang Mongondow, Roy Kader,” ungkap putra kawanua itu.

Dijelaskan Renal, tugas Papa Angkat yakni menjadi fasilitator bagi warga yang akan mengambil KUR mikro. “Mereka juga  yang bertanggung-jawab jika terjadi kredit yang bermasalah,” ujarnya. “Tapi sejauh ini program KUR usaha pertanian di wilayah Minahasa dan Bolmong berjalan lancar. Karena KUR yang diberikan langsung dikonversi ke bahan-bahan pertanian, seperti pupuk, obat-obatan dan bibit pertanian,” sambungnya.

Papa Angkat, tak hanya bertugas membantu mulai dari proses pengadaan bahan pertanian, tapi juga harus membeli hasil pertanian dengan harga yang ideal. “Contoh baru-baru ini di Kawangkoan Minahasa, Bulog membeli harga jagung Rp3.100 per kilogram, Papa Angkat membelinya Rp3.100 per kilogram,” bebernya lagi.

“Papa Angkat juga menyediakan tim ahli pertanian untuk membantu petani untuk mengembangkan hasil pertanian. Semisal di Bolmong. Ada petani yang biasa menghasilkan panen gabah basah 4 ton dalam panen, kini bisa menghasilkan hingga 7 ton,” timpalnya.

Sementara untuk kinerja ‘Papa Angkat’, akan diawasi langsung oleh pihak Bank Artha Graha. “Kalau kinerja Papa Angkat, kita pantau langsung. Kalau bermasalah, kita ambil alih,” tambah Pimpinan Bank Artha Graha Internasional Cabang Manado, Reymond Christoffel.

“Kita tidak ingat kejadian NPL (Non Performing Loan atau kredit bermasalah) yang dikelola bank plat merah lalu, terulang. Kita sudah belajar dari pengalaman itu. Jadi untuk KUR mikro, kita gunakan pola Papa Angkat. Ada PKS (perjanjian Kerja Sama) yang dibuat bersama,” urainya lagi.

‘Papa Angkat’ disebut jadi ujung tombak dari program KUR Mikro khusus di bidang pertanian tersebut. “Untuk menerima KUR Mikro harus mendapat rekomendasi dari Papa Angkat. Tapi jika terjadi masalah dengan debitur, Papa Angkat juga yang bertanggung-jawab,” tegasnya.

“Kita juga membuka ruang bagi perorangan atau perusahaan yang ingin menjadi Papa Angkat. Tapi harus memiliki visi dan misi yang sama , yakni untuk membantu dan memberdayakan rakyat, khususnya petani,” tandas Reymond.

Sementara untuk KUR Retail atau kredit modal kerja atau investasi untuk para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah dengan plafond 25 juta hingga 500 juta dan jangka waktu maksimal 5 tahun, itu tanpa melalui Papa Angkat. “Kalau itu pengajuannya langsung ke Bank dan harus dengan jaminan. Bunganya tetap 9 persen,” terang Renal Kandijo.

Disinggung soal besaran KUR Artha Graha yang sudah teralisasi di Sulut, Renal mengaku masih minim. “Baru Rp50 Miliar. Jadi masih terbuka bagi pelaku usaha kecil untuk mengambil KUR tersebut,” tandasnya.(aldy)

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado