‘Usut Proyek Tol Manado-Bitung’

Diduga Tak Sesuai Bestek dan Sarat Kongkalikong 

 

Manado, MS
Overpass atau jalan layang di atas konstruksi tol Manado-Bitung ambruk. Aroma kejanggalan dari mega proyek itu menyengat. Terendus tak sesuai bestek dan sarat kongkalikong. Aparat hukum didesak usut tuntas.
Letupan geram publik nyiur melambai menyeruak. Kritik tajam terdengar. Menyasar pelaksana hingga pengawas proyek tol Manado-Bitung. Seperti yang didendangkan Taufik Tumbelaka, salah satu pemerhati pembangunan di Sulawesi Utara (Sulut). Kasus ambruknya overpass yang menelan korban jiwa tersebut, dinilai merupakan tanggung jawab dari PT Wijaya Karya (Wika), sebagai pengelola proyek.
Tak hanya itu, Balai Jalan Nasional (BPJN) XV Manado sebagai instansi pengawas juga harus bertanggung-jawab. Itu menyusul klaim manager proyek Bayu Hermawan, yang menyebut pekerjaan proyek itu telah diinspeksi oleh konsultan dan BPJN.

“Apakah ini suatu kelalaian atau tidak, kontraktor harus bertanggung-jawab. Begitu pula dengan BPJN. Karena faktanya, kontruksi itu ambruk,” sembur jebolan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.
“Kontraktor juga jangan terlalu jemawa serta lips service dalam memberi informasi. Bilang sudah bereslah. Sudah diperiksa konsultan dan BPJN-lah. Tapi kenyataannya tak sesuai dengan realita. Ini menunjukkan perusahaannya tidak professional,” ketusnya lagi.

Ia menduga ada yang tak beres atas ambruknya konstruksi jalan layang itu. Aparat penegak hukum didorong untuk mengusut kejanggalan tersebut. “Kan bilang sudah diinspeksi oleh konsultan dan BPJN. Kok bisa ambruk. Ini bisa jadi ada yang tidak beres dalam proyek itu. Aparat harus mengusutnya. Jangan-jangan proyek itu tak sesuai bestek,” beber salah satui aktivis yang dikenal sangat vokal itu.
Pengusutan secara hukum dinilai untuk mencegah berbagai praduga yang berkembang di publik. Karena proyek tol Manado-Bitung yang berbandrol triliunan rupiah itu, cukup menyedot perhatian khusus dari masyarakat Sulut.

“Ini harus diusut hingga tuntas. Supaya tidak akan menimbulkan berbagai persepsi dan opini di tengah masyarakat. Harus diungkap alasan mendasar baik teknis maupun non teknis atas ambruknya konstruksi itu. Supaya masyarakat bisa paham dan tenang,” tegasnya.

Jika ditemukan ada unsur penyimpangan atau permainan, aparat mesti memproses secara hukum. “Kan sudah rahasia umum, banyak proyek yang dimain-mainkan. Tak sedikit kontraktor nasional dan oknum-oknum BPJN di berbagai daerah yang ditangkap KPK, sebab mempermainkan proyek demi memperkaya diri sendiri. Jadi jika ditemukan ada permainan di proyek yang ambruk ini, aparat harus mengusutnya sampai tuntas,” lugas Bang Taufik, sapaan akrabnya.

“Ini harus jadi perhatian serius aparat dan pemerintah Sulut untuk ke depan. Kalau proyek tol ini tak sesuai bestek, maka ini jadi ancaman bagi masyarakat Sulut,” tambahnya.
Pemerintah Sulut juga didesak untuk melaporkan ke pemerintah pusat agar mengevaluasi kinerja BPJN Manado dan PT Wijaya Karya (Wika) sebagai kontraktor.

“Baik kontraktor dan BPJN Manado, harus dievaluasi. Karena kedua pihak itu jelas-jelas telah mencoreng program nawacita dari Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kala yang telah berkomitmen membangun infrastruktur yang berkualitas,” tandas putra Gubernur pertama Sulut itu.
Nada kritis ikut terdengar dari Bupati Minahasa Utara (Minut), Vonnie Anneke Panambunan (VAP). Dari hasil pengamatannya, VAP menegaskan bahwa peristiwa memilukan itu akibat kelalaian.

"Kalau buat saya ini kelalaian. Karena mengejar target dan tidak teliti. Kalau masalah cor tidak boleh sekali, akan tetapi harus pelan-pelan dan kalau sudah kering baru bisa. Karena masih basah beginilah kejadian," sembur VAP, ketika meninjau lokasi runtuhnya overpass jalan tol Tumaluntung itu, Rabu (18/4).
Di lokasi tersebut Bupati menyalahkan pihak pengawas proyek jalan tol. Ia mengakui ada orang Minut kerja di proyek tol itu, akan tetapi masalah teknis harus orang dari luar. "Warga saya banyak yang kerja di sini, akan tetapi masalah teknis kita harus serahkan kepada arsitek dan ahli jalan," pungkasnya seraya berharap peristiwa itu tidak terulang kembali.

Legislator Minut ikut angkat bicara. Desakan kuat mengalir. Mendorong aparat hukum mengusut tuntas proyek tol Manado-Bitung dan jangan pandang bulu. Joseph Dengah, Wakil Ketua Komisi II DPRD Minut yang membidangi pembangunan mengatakan, kejadian ambruknya jembatan penghubung jalan tol itu merupakan bukti perencanaan kerja yang tidak baik. Perusahaan sebesar PT Wika kenapa tidak melakukan kroscek lebih dalam terhadap pembangunan tol tersebut.

“Kami dewan mendesak aparat kepolisian dapat mengusut tuntas kenapa sampai terjadi ambruk bangunan jembatan itu,” tegas Dengah.

Ditegaskan, Dewan Minut akan terus memantau perkembangan penyelidikan kasus ambruknya jembatan tersebut. Jangan sampai ada kongkalikong antara pihak kontraktor dengan BPJN.
“Pihak aparat kami juga ingatkan agar konsen mengusut masalah ini dan kami minta dilakukan secara transparan,” ujar Dengah.

KEMENTERIAN PUPR SIAP INVESTIGASI
Insiden yang terjadi di proyek jalan tol Manado - Bitung, Selasa (17/4), menggemparkan masyarakat Sulut. Banyak tanda tanya yang muncul. Masyarakat sangat menyayangkan proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) hanya terbuang begitu saja di insiden tersebut.

Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memastikan akan memeriksa seluruh pelaksanaan proyek jalan tol Manado-Bitung. Hal tersebut diungkapkan pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) Provinsi Sulut di Grand Kawanua International City (GKIC) Manado, Rabu (18/4).
"Kami siap melakukan pengecekan semua pekerjaan mega proyek yang menggunakan APBN yang ada di Sulut serta jajaran pejabat yang dibawahi kementerian PUPR," aku Bobby Prabowo, CES, Kepala Pusat Perencanaan Infrastruktur Kementerian PUPR, pada acara Musrembang tersebut.

"Kami atas nama Kementerian PUPR mengucap berbela sungkawa atas insiden runtuhnya jalan yang sudah ada korban jiwa. Kami ke depan akan melakukan pengecekan terhadap seluruh pengerjaan pembangunan di Sulut, termasuk Bendungan Kuwil dan Bendungan Lolak juga," terang Prabowo.
Kepala Dinas PUPR Provinsi Sulut, Steve Kepel ketika dimintai tanggapan, menolak berkomentar. Ia menyatakan pelaksana pekerjaan proyek nasional pembangunan jalan tol Manado-Bitung itu urusan pihak BPJN XI Manado dan PT Wika. "Bukan kapasitas saya menjawab. Saya no coment," singkatnya.

Nada keras dilontarkan Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw. Ia menegaskan, manager proyek harus mengevaluasi managemen proyeknya. Karena keselamatan harus nomor satu diperhatikan.
"Selaku pemerintah, kami mempertanyakan pekerjaan tersebut. Karena sudah memakan korban. Untuk manager proyek, harus evaluasi pekerjaan tersebut," tandas Kandouw.
Diapun meminta, demi keselamatan pemakaian jalan tersebut hendaknya pemegang proyek harus kerjakan sesuai bestek. "Kerjakan sesuai yang direncanakan. Ini untuk mengantisipasi kejadian seperti ini," tambah Kandouw.


PT WIKA MENGAKU BERTANGGUNGJAWAB
Jalan tol Manado-Bitung direncanakan sepanjang 39 kilometer (KM), dibangun menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, KM nol hingga KM 14 dibangun oleh pemerintah. Sedangkan KM 14 hingga KM 39 dibangun oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Jasamarga Manado Bitung.

"Sesuai informasi di lapangan, TKP ada di KM+13 200, merupakan bagian yang dibangun oleh pemerintah, yang dilaksanakan oleh BPJN setempat. PT Wijaya Karya Tbk sebagai kontraktor mengerjakan proyek jalan tol Manado-Bitung di bagian pertama,” papar Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga Tbk, Agus Setyawan .
Perwakilan PT Wika, Puspita Anggraeni menjelaskan, pada Selasa (17/4) pukul 13.58 Wita, dilakukan pekerjaan pengecoran insitu pada salah satu slab, tiba-tiba runtuh. Salah satu slab dengan spesifikasi dan metode kerja yang sama telah berhasil dibangun.

Perusahaan ini mengklaim, setiap pekerjaan konstruksi, sangat mengutamakan keamanan dan kenyamanan di area konstruksi, termasuk di dalamnya memastikan bahwa metode kerja yang dilakukan telah memenuhu prasyarat.

Dijelaskannya pula, untuk menjaga mobilitas dan aksesibilitas warga di area terbangunnya proyek konstruksi, seringkali diperlukan pembangunan akses atau struktur yang menghubungkan satu titik ke titik lainnya (rekayasa lalu lintas) sehingga mobilitas dan aktivitas warga tidak terganggu selama pelaksanaan pembangunan proyek tersebut.

Sejak Senin (16/4) pukul 22.00 Wita, telah dilaksanakan pembangunan overpass (2 slab) di Desa Tumaluntung, Minut (STA 13+600) dengan spesifikasi panjang bentang 36 meter dan lebar 10 meter sebagai penghubung atau akses jalan Tumaluntung yang kemudian akan diikuti dengan pekerjaan konstruksi underpass jalan tol Manado Bitung.

Pihak PT Wika mengaku, 5 orang pekerja telah mendapatkan perawatan dan sudah diizinkan untuk kembali pulang. Sementara, 14 orang mendapat perawatan inap untuk memastikan kesehatan yang bersangkutan. Begitu juga 2 orang pekerja masih mendapatkan pertolongan di lokasi.

"PT Wijaya Karya (Persero) Tbk bertanggung jawab penuh terhadap semua korban dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat atas kejadian ini dan memastikan para korban mendapatkan penanganan terbaik," paparnya.

Sebelumnya, pasca peristiwa tersebut manager proyek, Bayu Hermawan langsung memberikan keterangan pers. Dijelaskan, awalnya untuk pekerjaan ini sudah dilakukan inspeksi oleh konsultan dan BPJN dan melakukan monitoring di setiap titiknya. Pihaknya pun sudah diizinkan untuk pelaksanaan pengerjaan.
“Sebelum terjadi kecelakaan ini, tidak ada identifikasi terjadinya penurunan material, semuanya sesuai rencana,” jelas Bayu sembari mengaku kejadian ini belum dapat diidentifikasi penyebabnya, dan masih akan dilakukan pengecekan.

POLDA SULUT GANDENG TIM PUSLABFOR MABES POLRI
Reaksi cepat diperagakan Kepolisian Daerah (Polda) Sulut. Tim Penyidik langsung dibentuk untuk melakukan penyidikan terhadap peristiwa ambruknya jembatan penghubung antara Desa Tumaluntung dengan jalan raya utama by bass Manado-Bitung, Selasa (17/4/).

Hal tersebut disampaikan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulut, Irjen Pol Drs. Bambang Waskito, saat ditemui sejumlah wartawan di Markas Polda (Mapolda) Sulut, Rabu (18/4).
“Kasus ini sedang dalam proses penyidikan, pengumpulan barang bukti, pengambilan keterangan saksi-saksi. Sekarang proses penyidikan masih berjalan, ini juga akan diperkuat oleh Tim Mabes Polri, Puslabfor di bidang ahli metalurgi dan ahli konstruksi beton,” ungkap Kapolda.

Tim Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia (Polri) juga nantinya akan bergabung dengan tim bentukan Polda Sulut, yang diketuai Direktur Reskrimum.
Hingga saat ini pembangunan jembatan tersebut masih dihentikan sementara dan di lokasi telah dipasang garis polisi (Police Line).

Sebelumnya, pada Rabu pagi, Kapolda Sulut didampingi Kapolres Minut meninjau lokasi ambruknya jembatan tol tersebut.
Diketahui, ambruknya jembatan itu mengakibatkan tewasnya 2 pekerja, sedangkan 15 orang lainnya mengalami luka ringan.

Korban meninggal yaitu lelaki Sugeng (36) asal Blitar Jatim dievakuasi pukul 23.00 Wita dan lelaki Dadi berhasil dievakuasi pada pukul 02.30 Wita (dini hari). Mereka tewas karena terhimpit reruntuhan material jembatan.

Usai kejadian, Polisi sudah memanggil sejumlah pihak, mulai dari pengawas, pengawas lapangan, manajer dan saksi-saksi yang malam itu juga ada di lokasi kejadian.
“Supaya penyidikan betul-betul clear, supaya bisa diketahui letak kesalahan dari siapa, penyebab apa, apakah human error atau secara teknis, kita lagi kumpulkan semua itu,” tandas jenderal bintang dua ini. (tim ms)


Komentar