Para pakar yang dihadirkan sebagai narasumber dalam seminar Maria Walanda Maramis

Walanda Maramis, Pejuang Perempuan Yang Sering Terlupakan

Tokoh Jawa Dominasi Pelajaran Sejarah Pahlawan Nasional

 

 

Laporan: Sonny Dinar

 

Goresan tinta sejarah yang kini disajikan pada generasi muda lewat pendidikan, dinilai belum menguatkan unsur lokalitas. Kepahlawan tanah Jawa nampak lebih mendominasi. Terisi dalam buku pelajaran dan dibaca anak-anak di bangku sekolah. Padahal, Minahasa khususnya, punya kisah para pejuang dari daerah sendiri. Seperti Walanda Maramis.  

 

Fakta membuktikan, tokoh Maria Walanda Maramis sebagai sosok teladan kaum perempuan masih kalah populer dibanding sosok R A Kartini. Meski keduanya sama-sama sudah diakui sebagai pahlawan nasional.

 

Kenyataan tersebut terurai dalam Seminar Nasional bertemakan "Futurisasi Gagasan Pahlawan Nasional Maria Walanda Maramis Dalam Upaya Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak”. Di dalamnya menghadirkan pembicara, Prof Dr Djoko Marihandono dari Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Margaretha Liwoso dan Dr Ivan Kaunang dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.

 

Dr Ivan Kaunang yang juga dikenal sebagai budayawan dan sejarawan, mengungkap keprihatinannya atas sosok pahlawan asal Tonsea-Minahasa ini. Figurnya kurang diperkenalkan lebih luas. Padahal dibanding RA Kartini, Maria Walanda Maramis lebih dahulu lahir yakni 1 Desember 1872 dan meninggal 24 april 1924.

 

"Kalau melihat buku sejarah, berbicara sejarah di Sulut (Sulawesi Utara) atau Minahasa, justru buku sejarah nasional itu sejarah Jawa. Padahal kalau dibanding RA Kartini, Maria Walanda Maramis lebih dulu lahir," ungkap Kaunang, kepada Media Sulut, di sela-sela Seminar Nasional, Kamis (27/4) kemarin.

 

Kaunang menjelaskan, pemikiran Maria Walanda Maramis itu  futuristik. Dia punya insting. Artinya, beberapa langkah ke depan, ‘keke’ ini sudah bisa membacanya. Pada zamannya di tanah Minahasa, pemerintah kolonial menekan dan mendiskriminasi kaum perempuan. Waktu itu perempuan hanya boleh mengecap pendidikan dasar. Kecuali dia ‘bangsawan’ seperti anak Kepala Walak. Di konteks itulah ia berjuang dan perjuangan itu membuahkan banyak hasil.

 

"Tiga hal yang diajarkan Maria Walanda Maramis yakni mempertahankan bangsa Minahasa. Selalu mengajak pakai baju daerah dan selalu gunakan bahasa daerah. Walaupun sudah berada di luar daerah atau negeri," tutur Kaunang.

 

Sepintas sejarah, Maria Walanda Maramis bernama lengkap Maria Josephine Catherine Maramis adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia karena usahanya untuk mengembangkan keadaan wanita di Indonesia pada permulaan abad ke-20. Untuk menghargai peranannya dalam pengembangan keadaan wanita di Indonesia, Maria Walanda Maramis mendapat gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia tanggal 20 Mei 1969.

 

Maramis menjadi yatim piatu saat ia berumur enam tahun karena kedua orang tuanya jatuh sakit dan meninggal dalam waktu yang singkat. Paman Maramis yaitu Rotinsulu yang waktu itu adalah Hukum Besar di Maumbi, membawa Maramis dan saudara-saudaranya ke Maumbi dan mengasuh serta membesarkan mereka di sana.  Maramis menikah dengan Joseph Frederick Caselung Walanda, seorang guru bahasa pada tahun 1890. Mereka mempunyai tiga anak perempuan. Dua anak mereka dikirim ke sekolah guru di Betawi (Jakarta). Salah satu anak mereka, Anna Matuli Walanda, kemudian menjadi guru dan ikut aktif dalam gerakan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) bersama ibunya. (*)

Banner Media Sulut

Komentar