Warga Maen Hadang Pendirian Alfamart Cs

Bawa Aspirasi di DPRD Minut

 

Laporan : Risky POGAGA

 

Menjamurnya bisnis retail di Tanah Nyiur Melambai memicu persoalan. Keberadaan brand-brand minimarket ternama yang 'menggurita' sampai ke pelosok desa membuat pedagang tradisional meradang. Teranyar, protes keberadaan bisnis retail menggema di Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Khawatir usahanya 'gulung tikar', para pelaku usaha kecil di Desa Maen, Likupang Timur, mengadu ke Wakil Rakyat.

Sejumlah alasan dilontar dalam rapat dengar pendapat antara perwakilan warga bersama Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Minut, Selasa (31/10) kemarin. Intinya, mereka menilai keberadaan brand minimarket ternama seperti Alfamart, Indomaret dan Alfamidi yang 'menjarah' sampai ke pelosok desa akan 'membunuh' usaha-usaha mikro yang dilakoni kaum masyarakat kecil.

“Kami masyarakat memang sejak awal sudah menolak didirikannya usaha penjualan sejenis Alfamart, Indomaret ataupun Alfamidi di desa Maen dan itu sudah pernah kami rundingkan bersama dengan aparat desa maupun BPD (Badan Permusyawaratan Desa),” lugas Roy Pitoy, mantan Hukum Tua Desa Maen.

Sayang, meski ada penolakan warga namun pendirian bangunan minimarket terus berlanjut. Bahkan dia mensinyalir, ada upaya pengukuran tanah yang dilakukan oknum lain yang notabene bukan merupakan warga Desa Maen.

"Makanya kami minta para wakil rakyat tolong perjuangkan aspirasi kami ini, jangan sampai ekonomi rakyat kecil yang dikorbankan hanya demi kepentingan bisnis segelintir oknum," seru Pitoy.

Suara para pedagang kecil di Desa Maen langsung ditanggapi personil Komisi III Denny Sompie SE.

Menurut dia, jika ada orang lain yang melakukan pengukuran tanah biarkan saja, intinya yang akan memberikan rekomendasi untuk mendirikan bangunan di desa yakni Hukum Tua.

"Jadi sudah jelas perusahaan tidak bisa seenaknya mendirikan bangunan tanpa persetujuan Hukum Tua. Ini yang jadi pegangan bagi warga, kecuali jika Hukum Tua memberikan izin,” tegas Sompie. (*)


Komentar