Warga Masata Hadang Petugas Dengan Bambu Runcing

Pengosongan Lahan KEK Dapat Perlawanan

 

Bitung, MS

Pengosongan lahan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), di Kota Bitung, Kamis (9/11) kemarin, panas. Puluhan warga menghadang petugas yang akan melakukan eksekusi dengan bambu runcing. Kawasan lahan KEK pun nyaris jadi arena "perang".

Kendati petugas gabungan, yakni Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Tentara Nasional Indoneaia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) telah turun, namun itu tidak menyurutkan nyali warga Masata, Manembo-nembo, Sagerat dan Tanjung Merah, untuk melawan. Mereka tetap ingin bertahan di atas lahan milik pemerintah itu. "Kami tidak tahu ke mana lagi. Kami tidak memiliki lahan dan rumah di tempat lain. Kami bukan teroris, sehingga Satpol PP, Polisi dan TNI, menghadapi rakyat kecil,” teriak Esther Woyang.

Petugas Satpol PP terus bergerak. Namun warga yang tinggal di areal seluas 92,6 hektar, itu tetap melawan. Saling lempar sempat terjadi beberapa saat.

Kepada wartawan, warga mengeluh. ”Pemerintah seharusnya menghargai proses hukum, karena lahan ini masih dalam pengawasan Kejaksaan Agung. Namun jika tidak menghargai, maka kami pun akan menganggap aparat yang datang itu illegal. Sehingga kami akan mempertahankan lahan kami hingga titik darah penghabisan,” ketus Soleman Siging.

Setelah melalui dialog, penertiban lahan akhirnya dilanjutkan. Aparat Kepolisian dan TNI kemudian melucuti bambu runcing dan senjata tajam milik warga. Satu unit alat berat yang dikerahkan langsung merobohkan rumah-rumah warga di lahan tersebut.

Sementara itu sekira 40 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di kawasan itu mengatakan, mereka menginginkan ganti rugi dari pemerintah. Pasalnya mereka telah lama tinggal di kawasan itu. "Sekali lagi kami sampaikan, kami ini rakyat kecil yang tidak berdaya. Namun jika aparat memaksa, kami akan melakukan perlawanan hingga akhir. Kami akan keluar dari lokasi ini jika pemerintah memberikan ganti rugi,” tegas Abson.

Pada 2 tahun silam aparat gabungan telah menggusur sekita 600 rumah warga. Selama tiga bulan, mereka dipindahkan ke Rusunawa. Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian warga kembali ke lokasi tersebut, karena tidak mampu membayar sewa di Rusunawa.

Sementara itu Direktur Teknik Perusahaan Daerah (PD) Bangun Bitung, Reky Asia mengatakan, pihaknya menyiapkan Rusunawa di Kelurahan Sagerat untuk menampung warga Masata. ”Sesuai petunjuk Pak Walikota, kami menyediakan tempat di Rusunawa. Namun mereka harus mengikuti prosedur untuk mendaftar dan menunjukkan KTP. Mereka tinggal secara gratis, namun harus membayar biaya listrik dan air,” kata Asia.(joy watania)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.