Warga Noongan yang protes memalang jalan dengan bambu agar truk pengangkut pasir tak bisa lewat. (Foto Ist)

Warga Noongan Gugat Aktifitas Galian C

  • Infrastruktur Desa Rusak

Langowan, MS

Belum adanya tindakan pemerintah dalam menertibkan aktifitas penambangan pasir liar di kawasan hutan negara di Desa Noongan Kecamatan Langowan Barat, kembali memunculkan reaksi dari warga. Pemerintah diminta segera ambil sikap tegas karena jumlah penambang semakin banyak.

Diduga, ada oknum-oknum pengusaha yang memanfaatkan aktifitas ini untuk meraup keuntungan besar. Terbukti, ada alat berat jenis eksavator yang diturunkan untuk mengeruk pasir dalam jumlah besar.

"Mereka yang raup untung tapi masyarakat yang terima kerugian," sorot tokoh masyarakat Noongan, Jeffry Pay.

Akibat penambangan pasir di Desa Noongan, jalan-jalan dan jembatan (gorong-gorong) rusak oleh truk-truk pengangkut pasir. Tanah negara di perkebunan Kelelondey dan kebun di Leles Manimporok kini mengalami kerusakan alam.

Akibatnya, kata Pay, banjir bandang menjadi ancaman, sawah-sawah dan kolam di Sungean. Bahkan Kampung Belanda kini tertutup lumpur dan sungai Noongan pun yang dulu jernih kini berlumpur.

"Mohon kiranya pak bupati dan camat Langowan Barat memperhatikan hal ini. Karena penambangan pasir di Noongan tidak ada satu sen pun pemasukan bagi desa dan juga bagi negara," sebutnya.

Sebelumnya, warga yang protes sering memalang jalan dengan bambu setinggi 3 meter agar truk pengangkut pasir tak bisa lewat. Namun para penambang pasir tak jera dan terus mencari jalan lain untuk mencapai lokasi pertambangan.

"Sekali lagi kami meminta ada sikap tegas dari pemerintah untuk segera mengatasi para penambang liar ini. Karena aktifitas galian c ilegal bukan cuma merugikan daerah, tapi juga berdampak pada kerusakan lingkungan dan infrastruktur desa yang dibangun dengan dana desa," ketus Farly Tungkagi, tokoh masyarakat lainnya.

Dirinya pun mencontohkan dampak lingkungan yang terjadi belakangan ini yaitu sejumlah area perkebunan warga yang kini sering tergenang air hujan.

"Padahal dulu jarang terdengar di desa kami terjadi banjir. Namun kerusakan lingkungan akibat tambang pasir liar ini, masyarakat kami yang kena dampaknya. Misalnya di kompleks pemukimanan dusun Kampung Belanda yang dulunya tak pernah banjir kini sudah mulai merasakannya," sebut Farly.

Camat Langowan Barat, Lendi Aruperes, yang dikonfirmasi soal ini mengaku sudah berkoordinasi dengan hukum tua desa setempat untuk menyelesaikan masalah ini. Termasuk mengecek izin pertambangan di wilayah tersebut.

"Pak bupati juga sudah menginstruksikan untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak meresahkan masyarakat. Kalau tak berizin pasti ditutup," katanya, Selasa (4/7).

Namun, disisi lain, lokasi itu diakuinya sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat setempat.

"Kita tentu akan ambil sikap yang tidak merugikan siapapun, khususnya masyarakat yang bekerja disana. Bisa saja lokasi itu kita khususkan bagi penambang lokal saja, tapi kita lihat nanti," kata Aruperes yang berjanji akan melakukan pengecekan di lokasi dalam waktu dekat ini. (jackson kewas)

Banner Media Sulut

Komentar

Populer hari ini

Sponsors