Pemeliharaan Jalan Trans Sulawesi Di Desa Solog Menuai Polemik


Lolak, MS

Pelaksanaan pemeliharaan jalan Trans Sulawesi yang membentang sepanjang 1 kilometer di Desa Solog, Kecamatan Lolak Bolaang Mongondow (Bolmong) menuai sorotan dari berbagai pihak. Terlebih masyarakat di Desa Solog yang mengaku sudah beberapa kali mengalami kecelakaan di jalan tersebut.

Tak hanya itu, pada siang hari, debu yang dihasilkan dari material pelaksanaan pemeliharaan sangat mengganggu kesehatan pernafasan dari warga sekitar. Hal ini diutarakan langsung Kepala Desa (Sangadi) Solog, Sukardi Paputungan.

“Kalau kecelakaan sudah ser­ing kali terjadi. Selain itu, debu yang beterbangan dari material yang ada sangat mengganggu lingkungan masyarakat di tepi jalan. Warga kami banyak yang mengeluhkan itu kepada saya,” ungkap Sukardi.

Sukardi pun menjelaskan, proses pelaksanaan peningkatan jalan Trans Sulawesi tersebut dilakukan pada tahun 2019. Na­mun, berselang dua bulan yakni pada bulan Februari, sebagian kondisi jalan sudah mulai rusak.

“Pekerjaan peningkatan jalan ini merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui BPJN. Pekerjaannya tahun 2019, bera­khir pada bulan Desember. Tetapi, hanya dua bulan kemu­dian kondisi jalan mulai rusak. Menurut pekerja yang saya tanyai, ada perbedaan material yang digunakan di beberapa titik,” jelas Sukardi.

Kondisi jalan yang men­jadi akses penghubung antara wilayah Kotamobagu-Mana­do-Gorontalo tersebut pun pernah dikeluhkan Sukardi langsung kepada anggota DPR RI, Hi Herson Mayulu dan langsung ditindaklanjuti dengan pemeliharaan. “Saya sudah sampaikan kepada pak Herson Mayulu sebagai anggota DPR-RI bidang in­frastruktur terkait kondisi jalan tersebut lengkap dengan foto-fotonya. Setelah saya keluh­kan, lalu langsung dilakukan pemeliharaan. Tetapi sudah berselang empat bulan belum juga selesai,” tambah Sukardi.

Sukardi pun meminta, pihak pelaksana dan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) wilayah Sulut untuk segera menuntas­kan pekerjaaan pemeliharaan jalan tersebut. “Kami berharap pihak BPJN untuk dapat men­untaskan pekerjaan pemeli­haraan ini. Sudah ada dampak bahkan sampai kecelakaan lalu lintas dan gangguan pernafasan warga kami,” tegas Sukardi.

Keluhan yang sama disam­paikan pengendara roda empat, Cipta M yang memamfaat­kan akses jalan tersebut untuk menuju kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolmong. Menurutnya, kondisi jalan terse­but sangat menghambat dan bisa berdampak kepada kondisi kendaraan yang dikendarainya.  “Kondisi jalan di beberapa titik itu ada lubang yang cukup dalam. Kami harus memper­lambat kendaraan, dan juga kondisi jalan itu sering ber­dampak pada kendaraan kami,” singkat Cipta.

Terpisah, Kepala Balai Pelak­sana Jalan Nasional (BPJN) Perwakilan Sulut, Triono Ju­noasmono saat dikonfirmasi melalui via celuler tidak ada respon. Melalui Whatsapp (WA) hanya menyampaikan masih rapat di Jakarta. Dising­gung soal jalan rusak, tidak ditanggapi.(yadi mokoagow)


Komentar