PILPRES 2024, ‘PEMBANTU’ JOKOWI KANS BERADU


Jakarta, MS

Tensi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 kian menanjak. Sederet nama mencuat ke publik sebagai kandidat suksesor Presiden Joko Widodo (Jokowi). Figur dalam lingkaran Istana hingga kepala daerah, paling santer.

Mencuatnya sejumlah nama orang dekat Jokowi itu tersaji dari hasil survei sejumlah lembaga. Beberapa nama pembantu presiden atau Menteri masuk dalam survei. Di antaranya, Prabowo Subianto yang menjabat Menteri Pertahanan, Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini. Sejajar dengan mereka, survei pun menegaskan beberapa nama gubernur. Antara lain, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Gubernur Ganjar Cs adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah.

Seperti hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indobarometer. Hasil survei dua lembaga tersebut menunjukkan bahwa Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menempati posisi tokoh dengan elektabilitas tertinggi. Dalam simulasi terbuka LSI, Prabowo dipilih oleh 22,5 persen responden. "Alasan utama mereka memilih, pertama tegas berwibawa, nomor duanya perhatian pada rakyat," kata Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan dalam rilis hasil survei, Senin (22/2).

Adapun pada simulasi semi terbuka, yaitu ketika nama calon dikerucutkan menjadi sepuluh nama, LSI mendapati elektabilitas Ketua Umum Gerindra ini sebesar 26 persen. Sementara itu, temuan survei Indometer menunjukkan elektabilitas Prabowo sebesar 17,2 persen, setelah sebelumnya sempat turun dari 17,6 persen pada survei bulan Juli 2020 menjadi 16,8 persen pada survei bulan Oktober 2020.

Selanjutnya, Ganjar Pranowo. Nama Gubernur Jateng ini menempati posisi kedua tokoh dengan elektabilitas tertinggi versi survei LSI awal tahun ini. Berdasarkan survei tersebut, Ganjar dipilih oleh 10,6 persen responden, apabila menggunaka simulasi terbuka. Sedangkan pada simulasi tertutup sepuluh calon, elektabilitas Ganjar adalah 15,4 persen. Hasil serupa tampak pada survei Indobarometer. Elektabilitas Ganjar saat ini sebesar 15,9 persen, setelah sebelumnya naik dari 15,4 persen (Juli 2020) menjadi 16,5 persen (Oktober 2020). "Ridwan Kamil dan Ganjar kini mulai saling menyalip," kata Direktur Eksekutif lembaga survei Indometer, Leonard SB dalam siaran persnya, Kamis (18/2).

Kemudian, Ridwan Kamil. Gubernur Jawa Barat ini menempati peringkat tiga tokoh dengan elektabilitas tertinggi versi Indobarometer. Elektabilitas pria yang akrab disapa Kang Emil ini melesat hingga 16,1 persen, padahal sebelumnya turun dari 11,3 persen (Juli 2020) menjadi 10,6 persen (Oktober 2020).

Hasil berbeda diperoleh pada survei LSI. Hasil survei tersebut justru menunjukkan bahwa Kang Emil tidak masuk tiga besar tokoh dengan elektabilitas tertinggi, lantaran hanya mengantongi 5 persen suara responden pada simulasi terbuka. Adapun dengan simulasi tertutup, tingkat elektabilitas Bekas Wali Kota Bandung ini adalah 7,5 persen.

Sementara Gubernur DKI Jakarta Anies Bawaswedan menempati posisi ketiga tokoh dengan elektabilitas tertinggi versi survei LSI. Anies tercatat memiliki tingkat elektabilitas 10,2 persen pada simulasi terbuka dan 13,3 persen pada simulasi tertutup sepuluh calon. Adapun temuan Indobarometer menunjukkan rlektabilitas Anies terus menurun. Elektabilitas Anies yang mulanya 10,1 persen pada Juli 2020 menjadi 8,9 persen di Oktober 2020, dan kini 7,6 persen. "Jika tren ke depan terus menurun, peluang Anies untuk masuk bursa pilpres semakin berat," ujar Leonard SB.

Adapun Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, menempati posisi kelima tokoh dengan elektabilitas tertinggi versi survei Indobarometer bulan ini. Sandi tercatat memiliki elektabilitas 6,8 persen. Angka itu melorot ketimbang survei-survei sebelumnya. Sandiaga sebelumnya memiliki elektabilitas 8,8 persen berdasarkan survei Juli 2020 dan turun menjadi 7,7 persen di Oktober 2020, serta kini 6,8 persen. Pada survei LSI, Sandiaga Uno hanya mengantongi 6,9 persen suara responden pada simulasi terbuka. Elektabilitas Sandiaga itu pun kalah dari Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama yang elektabilitasnya 7,2 persen. Pada simulasi tertutup sepuluh calon Capres 2024, elektabilitas Sandiaga Uno adalah 10,4 persen.

Diketahui, survei LSI digelar pada 25-31 Januari dengan wawancara tatap muka. Sigi melibatkan 1.200 responden dengan metode multistage random sampling. Djayadi mengklaim margin of error surveinya 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Kemudian, survei Indobarometer dilakukan pada 1-10 Februari 2021 melalui sambungan telepon kepada 1.200 responden dari seluruh provinsi yang dipilih acak dari survei sebelumnya sejak 2019. Margin of error sebesar 2,98 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

“Ada potensi para menteri Jokowi akan bersaing saat Pilpres 2024, apalagi Pak Jokowi kan tidak bisa mencalonkan kembali karena sudah dua periode,” terang Rolly Toreh SH kepada media ini, Selasa malam.

Artinya, menurut dia, menjadi peluang bagi semua tokoh publik untuk menjadi capres. “Saya kira ini kesempatan yang baik. Semua berpeluang. Kita lihat saja para pembantu presiden ini akan merebut simpati masyarakat Indonesia,” lugasnya.

AHOK MASUK SURVEI CAPRES

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP), masuk dalam survei capres kader PDI Perjuangan (PDIP). Itu merupakan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) terkait calon presiden (capres). Selain BTP, ada Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini atau Risma, Basuki dan Puan Maharani.

Peneliti LSI Djayadi Hanan menilai nama tersebut masih memiliki peluang besar untuk maju di Pilpres 2024. Namun untuk nama BTP atau Ahok dinilai agak sulit karena memiliki kasus hukum di masa lalu.

"Masih berpeluang semua. Masih berpeluang semua. Kecuali mungkin kalau Pak Ahok mungkin agak sulit ya karena ya apa namanya karena mungkin pernah mengalami kasus hukum. Mungkin itu akan menjadi batu sandungan gitu, apa, tapi terutama kalau Pak Ganjar, Bu Risma, Bu Puan itu kan, ya semuanya masih berpeluang," kata Djayadi saat dihubungi, Selasa (23/2).

Setidaknya, menurut Djayadi, para kader PDIP harus mampu meraup elektabilitas hingga mencapai 50 persen agar aman maju Pilpres 2024. Karena itu, ia menilai keempat nama kader PDIP yang ada dalam survei LSI belum berpeluang besar.

Djayadi pun menilai kinerja dan sosialisasi dari keempat kader PDIP tersebut akan berpengaruh terhadap elektabilitas mereka. Menurutnya, calon yang nantinya memiliki elektabilitas dominan akan dipertimbangkan PDIP untuk maju Pilpres 2024. "Tergantung apakah mereka mampu bersosialisasi lebih kuat nanti. Kalau ada yang dominan banget, tentukan jadi pertimbangan juga. Tapi kan sekarang belum ada yang dominan gitu," ucapnya.

Djayadi pun mencontohkan Ganjar perlu melakukan sosialisasi lebih gencar dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Kemudian, Risma diminta memanfaatkan momen selama menjabat Mensos di masa pandemi COVID-19. "Misalnya kalau Pak Ganjar, dia harus mensosialisasi lebih jauh ke masyarakat Indonesia secara lebih luas kan. Nggak hanya di Jawa Tengah, misalnya," ucapnya.

"Atau Ibu Risma mungkin juga dengan posisi dia sebagai Menteri Sosial punya panggung untuk bersosialisasi lebih luas di tingkat nasional. Apalagi di masa pandemi dia punya kesempatan untuk tampil lebih banyak kan karena Mensos menjadi leading sektor dalam program bansos, misalnya," sambungnya.

Meskipun begitu, Djayadi menilai peta politik Pilpres 2024 masih sangat cair. Menurutnya, calon pasangan untuk Pilpres 2024 masih belum benar-benar bisa dipetakan secara jelas. "Jadi menurut saya belum bisa menentukan siapa berpasangan dengan siapa sekarang karena petanya masih cair. Karena kalau kita lihat sekarang petanya tuh masih cair. Jadi masih agak terlalu dini untuk menentukan siapa berpasangan dengan siapa," ucapnya.

"Kalaupun dibayangkan akan banyak sekali. Sementara kan dengan UU yang ada sekarang paling banyak pasangan 4, mungkin 3. Sementara kemungkinan pasangannya masih banyak," sambungnya.

PRABOWO TAK GOYAH

Elektabilitas Ketua Umum (ketum) Gerindra yang juga Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, unggul jauh dibanding dua kepala daerah yang digadang-gadang maju ke Pilpres 2024, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Tiga tahun menjelang Pilpres 2024, belum ada tokoh yang mendekati elektabilitas Prabowo.

Ada dua lembaga survei yang baru saja merilis hasil survei elektabilitas tokoh potensial capres 2024, yaitu Parameter Politik Indonesia (PPI) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Djayadi Hanan. Hasil survei kedua lembaga itu menempatkan Prabowo unggul jauh dari lawan-lawannya.

Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Bedanya, di survei PPI Anies di posisi dua, sementara di survei LSI, Ganjar yang jadi runner up.

Di mata publik, kinerja Prabowo sebagai Menteri Pertahanan RI pun mendapatkan respon yang baik. Itu menyusul hasil hasil survei LSI yang juga mencatat kepuasan terhadap Prabowo menempati posisi teratas dibanding anggota kabinet yang lain. Dari survei yang digelar 25-31 Januari 2021 ini, sebanyak 75 persen puas terhadap kinerja Ketua Umum Gerindra dengan rincian 13 persen sangat puas dan 62 persen puas.

Untuk diketahui, sosok Prabowo belakangan memang kerap jadi sorotan. Sikap Menteri Pertahanan RI yang terkesan dingin dalam menyikapi berbagai peristiwa yang terjadi di Tanah Air belakangan dinilai sebagai salah satu strategi politik untuk memuluskan langkah menuju Pilpres 2024.

Pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe menilai sikap Prabowo itu karena memiliki maksud tertentu yakni mengincar massa dukungan Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, Prabowo berpotensi kuat kembali diusung di Pilpres 2024 mendatang. Bahkan, Prabowo memiliki potensi kuat untuk menang jika mampu menarik basis pendukung Jokowi. "Justru PS (Prabowo Subianto) ini yang berpotensi kuat di Pilpres 2024," ujarnya.

Dia pun memaparkan analisis terkait peluang Prabowo Subianto menang di Pilpres 2024 dengan merangkul pendukung Jokowi.  "Sekarang Prabowo lebih banyak mengagung-agungkan Jokowi, tanpa ada kritikan lagi. Saya kira ini sinyal bahwa Prabowo sedang menjadi baik, basis dukungan Jokowi," katanya.

GANJAR DISUPPORT, MOELDOKO KUDA HITAM

Pilpres 2024 potensi perang bintang. Sejumlah figur popular dielus maju di ajang bergengsi Tanah Air ini. Itu dibuktikan dengan munculnya nama-nama tersebut dalam survei.

Selain Prabowo, sederet figur capres juga mulai menunjukkan taringnya merebut simpati publik yakni Ganjar Pranowo. Teranyar, ‘lampu hijau’ diberikan PDIP kepada Gubernur Jateng tersebut. Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat mengatakan, partainya tidak menutup peluang Ganjar sebagai calon presiden 2024. Semua tergantung upaya Ganjar meningkatkan elektabilitasnya hingga menjelang Pemilu.

"Tergantung dari pak Ganjar juga bagaimana dia bisa meningkatkan elektabilitasnya dan teman-teman di PDIP, maupun dari luar kita juga bisa," kata Djarot dalam rilis survei LSI, Senin (22/2).

Namun Djarot mengakui PDIP juga memiliki kader lain yang berpeluang sebagai calon presiden. "Artinya 2024 masih terbuka bagi siapa pun juga. Ada yang mengatakan apakah Pak Ganjar, pasti tertutup peluangnya? Belum tentu juga," sambungnya.

Sementara itu, meski tak berada di deretan figur yang dirilis lembaga survei, nama Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, juga sempat mencuat. Mantan Panglima TNI ini juga sempat terseret dalam pusaran isu capres 2024. Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS) Arman Salam menilai, isu ‘kudeta’ di tubuh Partai Demokrat seolah ‘menghidupkan’ popularitas dan elektabilitas Moeldoko. Dia bahkan dinilai bisa jadi kuda hitam di Pilpres 2024 .(cnn/tempo/detik)

 

ELEKTABILITAS TOKOH HASIL SURVEI PPI DENGAN PERTANYAAN TERBUKA

1. Prabowo Subianto: 22,1%

2. Anies Baswedan: 14,6%

3. Ganjar Pranowo: 13,9%

4. Ridwan Kamil: 6,3%

5. Tri Rismaharini: 5,8%

6. Agus Harimurti Yudhoyono: 5,3%

7. Sandiaga Uno: 4,1%

8. Jusuf Kalla: 3,8%

9. Gatot Nurmantyo: 3,4%

10. Ustadz Abdul Somad: 2,9%

11. Mahfud Md: 2,0%

12. Erick Thohir: 1,8%

13. Khofifah Indar Parawansa: 1,0%

14. Puan Maharani: 0,8%

15. Moeldoko: 0,2%

Ragu/Tidak Jawab 12%

 

HASIL SURVEI LSI DENGAN PERTANYAAN TERBUKA//usultabe

1. Prabowo Subianto: 22,5%

2. Ganjar Pranowo: 10,6%

3. Anies Baswedan: 10,2%

4. Ahok: 7,2%

5. Sandiaga Uno: 6,9%

6. Tri Rismaharini: 5,5%

7. Ridwan Kamil: 5,0%

8. AHY: 4,8%

9. Susi Pudjiastuti: 2,3%

10. Ustadz Abdul Somad: 2,0%

11. Gatot Nurmantyo: 2,0%

12. Khofifah Indar Parawansa: 1,8%

13. Ma’ruf Amin: 1,1%

14. Mahfud Md: 0,9%

15. Hary Tanoe: 0,8 persen

16. Surya Paloh: 0,7%

17. Rizieq Shihab: 0,7%

18. Erick Thohir: 0,6%

19. Sri Mulyani: 0,5%

20. Airlangga Hartarto: 0,3%

21. Muhaimin Iskandar: 0,2%

22. Puan Maharani: 0,1%

23. Budi Gunawan: 0,1%

24. Tito Karnavian: 0,1%

25. Suharso Monoarfa: 0,1%

26. Ahmad Syaikhu: 0,1%

27. Zulkifli Hasan: 0,0%

28. Moeldoko: 0,0%

29. Grace Natalie: 0,0%

Lainnya: 2,4%

Tidak tahu/rahasia: 10,4%

 

 


Komentar