KEMATIAN AKIBAT COVID CATAT REKOR TERTINGGI, INDONESIA WASPADA


Jakarta, MS

Efek Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda tanah air kian parah. Rentetan masalah bermunculan. Keluhan tenaga medis soal overload rumah sakit hingga krisis oksigen bersahut-sahutan dari berbagai daerah. Lonjakan angka kematian pun terus terjadi akhir-akhir ini. Teranyar, data kematian per 27 Juli 2021 dilaporkan mencapai 2.069 orang. Rekor kematian harian tertinggi di Indonesia selama masa pandemi.

Gejolak yang sedang terjadi di tanah air menjadi pergumulan segenap bangsa. Berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah seolah tak mempan membendung penyebaran corona. Lonjakan kasus kematian malah terjadi pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat atau Level 4.

Diketahui, kasus kematian selama lima hari PPKM Level 4 totalnya mencapai 8.359 kasus. Jumlah itu lebih tinggi dua kali lipat dari lima hari sebelumnya selama PPKM Darurat, 15-19 Juli, sebanyak 4.618 kasus.

Penambahan harian kasus kematian warga yang meninggal akibat terinfeksi virus corona di Indonesia tembus 1.000 kasus lebih per hari selama 12 hari berturut-turut atau dalam kurun waktu 16-27 Juli 2021. Secara kumulatif, dalam kurun 12 hari tersebut, jumlah kematian covid-19 di Indonesia mencapai 16.643 kasus. Kumulatif kasus dalam 12 hari itu 1,6 kali lipat dari 12 hari sebelumnya atau selama kurun 4-15 Juli yang mencetak kumulatif kasus kematian covid-19 di 10.165 kasus.

Pun selama 12 hari terakhir itu, tercatat perkembangan kasus kematian warga yang terinfeksi covid-19 sempat mencetak hattrick rekor baru selama tiga hari berturut-turut. Rinciannya, pada 21 Juli, Indonesia mencapai rekor baru kasus kematian harian yakni 1.383 kasus. Disusul rekor baru pada 22 Juli dengan 1.449 kasus, dan rekor kematian baru pada 23 Juli sebanyak 1.566 kasus yang merupakan rekor tertinggi selama pandemi covid-19 menjangkiti Indonesia dalam 16 bulan terakhir. Dan terakhir, rekor kematian anyar terjadi pada Selasa kemarin dengan 2.069 kasus dalam sehari.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan sebelumnya menduga tingginya angka kematian selama Juli akibat beberapa faktor. Mulai dari kapasitas keterisian rumah sakit yang penuh, faktor komorbid, hingga tak tertangani saat isolasi.

“Berdasarkan tinjauan di lapangan, tingginya angka kematian juga sebagian disebabkan karena mereka umumnya belum menerima vaksin,” kata Luhut.

 

KEBIJAKAN PEMERINTAH DINILAI MASIH LONGGAR

Rentetan kebijakan telah diambil pemerintah untuk melawan perluasan virus. PPKM Darurat dan PPKM Level 4, sebelum diubah dengan sejumlah pelonggaran sejak perpanjangannya pada 26 Juli, memperketat mobilitas antarkota dengan sejumlah syarat. Misalnya, yang boleh berkantor hanya pekerja di sektor esensial dan kritikal, pelarangan makan di lokasi restoran, serta penyekatan di sejumlah titik di dalam maupun perbatasan kota.

Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Windhu Purnomo menyebut pembatasan mobilitas prinsipnya serupa dengan membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok. Alhasil, sedikitnya 70 persen dari populasi harus dibatasi mobilitasnya dan dalam dua kali masa infeksi virus. Masalahnya, hal itu tak terjadi selama PPKM.

"Kalau minimum 70 persen warga dalam satu kesatuan daerah epidemiologis mau tinggal di rumah dalam waktu yang sama, dalam durasi tertentu dua kali masa infeksius, virus akan berhenti," kata Windu dilansir CNN, Selasa (27/7).

"Itu prinsipnya. Kalau tidak melakukan itu, dalam kondisi akut seperti ini ya seperti ini (kematian melonjak) aja nanti," imbuhnya.

Masalahnya, kata Windhu, pemerintah tak belajar dari penerapan pembatasan sosial yang memberi pelonggaran. Hal itu hanya akan memberi kelonggaran terhadap warga untuk bergerak yang justru berpotensi memicu peningkatan kasus.

"Kebijakan sekarang nambah tanggung. PPKM level-level itu membuat pelonggaran padahal positif rate tinggi kasus menanjak kematian naik," katanya.

"Kita melakukan PPKM darurat hampir 18 hari, positivity rate makin meningkat, kasus kematian meningkat. Ini karena kita enggak mau belajar. PPKM itu tidak ada penghentian mobilitas," cetus dia.

Windhu pun meminta "Lockdown di daerah dengan satu kesatuan epidemiologi, seperti Jawa-Bali".

Senada, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra menyatakan aturan pembatasan pada PPKM hanya membatasi pergerakan ke pusat-pusat perkantoran. "Kan rata-rata di DKI perkantoran. Karena perkantoran dengan dibatasi, maka kasus memang akan melandai," ujar dia.

"Tapi, secara kumulatif nasional tidak. Kasus hanya bergeser dari kota ke daerah pinggiran. Jabar, Jateng, Jatim," terangnya.

Berdasarkan data LaporCovid-19, misalnya, hingga 25 Juli sedikitnya ada 2.641 pasien yang meninggal saat menjalani isolasi dan tanpa penanganan tenaga medis. Hermawan pun menilai jumlah kasus kematian bisa lebih tinggi daripada yang dilaporkan Satgas Covid-19.

"(Kasus kematian, red) seperti fenomena gunung es, yang tidak terlaporkan itu jauh lebih besar ketimbang data harian yang diumumkan. Termasuk angka kematian yang tinggi," tandas dia.

 

KEMENKES BERKELIT, SEBUT ADA PERBAIKAN DATA 

Lonjakan angka kematian akibat Covid yang terjadi akhir-akhir ini membuat pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) angka bicara. Rekor kematian warga terinfeksi virus corona (covid-19) di Indonesia yang mencapai 2.069 kasus pada 27 Juli 2021 disebut terjadi lantaran perbaikan data yang dilakukan sejumlah daerah.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan beberapa daerah melaporkan telah memperbarui data kematian covid-19 mereka di situs New All Record (NAR). Kendati demikian, Nadia tak merinci daerah mana saja yang dimaksud.

"Iya (delay), mereka mengupdate datanya sendiri. Jadi ada perbaikan data yang baru dikirimkan kabupaten/kota," kata Nadia melalui pesan singkat kepada CNN, Selasa (27/7).

Nadia sekaligus menjelaskan problema gap perbedaan data kematian warga terpapar virus corona antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang sempat menjadi pembahasan publik dalam sepekan terakhir. Nadia mengatakan, perbedaan itu kemungkinan besar terjadi lantaran masih ada pemerintah daerah yang memasukkan data kematian probable dan suspek covid-19 pada sistem NAR. Sementara pemerintah pusat hanya akan mengolah data kasus kematian yang sudah terkonfirmasi positif covid-19 saja.

Sejumlah daerah, kata dia, mencatatkan kasus probable sebagai laporan kepada pemerintah pusat dan mereka kerap tidak memperbarui data kematian, manakala hasil tes laboratorium pasien covid-19 yang meninggal sudah keluar.

Kondisi itu menurut Nadia menjadikan gap kasus kematian terjadi, lantaran meski kemudian pasien covid-19 yang probable atau suspek itu negatif covid-19. Namun Pemerintah daerah luput tidak melaporkan lagi ke Kemenkes. "Ini yang sering terjadi, karena tidak diupdate atau data dukungnya tidak ada, sehingga ada gap jumlah kematian," kata dia.

Kabid Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Alexander K. Ginting turut membenarkan, jumlah kematian covid-19 yang tinggi imbas delay data antara pemerintah daerah dan pusat. Namun, Alex juga menambahkan bahwa kasus kematian yang tinggi imbas pasien covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) mengalami perburukan gejala dan berujung meninggal dunia.

"Karena kasus isoman yang telat. Ada juga faktor entry data, tapi kenapa tinggi? karena mereka yang isoman dan mengalami perburukan," kata Alex.

 

WASPADA, POSITIF COVID TEMBUS 3,2 JUTA KASUS

Gerak penyebaran virus corona di Indonesia memang kian melaju. Kasus baru positif covid-19 dilaporkan terus bertambah. Ada sebanyak 45.203 pasien baru per Selasa (27/7). Tambahan ini membuat total angka positif kasus sejak awal pandemi menjadi 3.239.936 kasus.

Angka kematian memang terus melonjak dan mencatatkan rekor terbaru. Namun kabar gembiranya, Satgas Covid-19 juga turut mencatat tambahan 47.128 pasien sembuh, membuat total angka kasus sembuh berjumlah 2.596.820 pasien.

Sementara jumlah spesimen yang diperiksa per 27 Juli berjumlah 270.434 unit. Kemudian angka kasus aktif masih berada di angka 556.281 kasus, atau berkurang 3.994 kasus dibanding jumlah kasus aktif pada sehari sebelumnya.

Penambahan kasus hari ini naik signifikan dengan penambahan kasus sehari sebelumnya. Pada Senin (26/7), penambahan 28.228 kasus, sementara itu tercipta rekor kesembuhan sebanyak 40.374 pasien.

Diketahui, pemerintah sampai saat ini masih dalam langkah pembatasan mobilitas melalui PPKM berdasarkan klasifikasi level di tiap daerah. Pulau Jawa-Bali dan sejumlah kabupaten kota di luar wilayah itu, termasuk tiga daerah di Sulawesi Utara, memberlakukan PPKM Level 4 untuk menekan laju penularan covid-19.(cnn/mdk)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors