JUMLAH ORANG MISKIN DI INDONESIA MELONJAK


Grafik angka orang miskin di Indonesia melejit. Ketimpangan ekonomi masyarakat dinilai sedang terjadi. Gerak pemerintah atas kondisi ini pun dituntut.

‘Badai’ pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) disebut sebagai pemicu bertambahnya kemiskinan. Resesi ekonomi terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pembatasan ruang aktivitas masyarakat yang dilakukan dinilai membuat banyak sektor berhenti dan berimbas pada tenaga kerja.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menyebutkan, situasi ekonomi yang terlindas pandemi sangat berdampak kepada masyarakat. Bahkan untuk masyarakat yang masuk dalam kelompok pendapatan rendah sampai menengah juga mengalami tekanan. Akibat Covid-19 ini, ada 26% tulang punggung keluarga yang berhenti kerja pada kuantil 3. “Lalu 50% kuantil I dan 2 mengalami penurunan pendapatan,” kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, di kantor Bappenas, Kamis (2/9).

Tak cuma itu, masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi juga ada yang mengalami penurunan. Selain itu, jurang si kaya dan si miskin atau Gini Ratio terjadi kenaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia naik 1,12 juta per Maret 2021 menjadi 27,54 juta. Ini artinya ada 10,14% orang miskin di Indonesia.

BPS juga mencatat Gini Ratio atau ketimpangan Indonesia pada Maret 0,384 atau naik dibandingkan periode Maret 2020 yang 0,381. Namun di sisi lain BPS juga mencatat ada peningkatan pendapatan untuk golongan menengah atas. Kepala BPS Margo Yuwono menyebut, jika ada kenaikan penerimaan pajak PPh 14,41% pada kuartal I 2021 dibandingkan kuartal III 2020. Dari data BPS, orang-orang menengah ke atas itu memilih untuk menyimpan atau menabung uangnya. Komposisinya tabungan 3,19%, ekuitas 54,83% dan reksa dana 52,78%. “Peningkatan pendapatannya tidak dibelanjakan, tapi diinvestasikan di finansial tidak untuk konsumsi,” kata Margo.

Sementara itu, berdasarkan laporan Credit Suisse belum lama ini, jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara dengan Rp 14,49 miliar (kurs dollar Rp 14.486) di Indonesia ada sebanyak 172.000 orang. Atau bertambah 62,3% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Laporan Credit Suisse nampak memberikan bukti bahwa kesenjangan antara rakyat Indonesia agak melebar. Terlihat dari data indeks gini yang dirilis BPS.

Indeks gini adalah indikator yang mengukur tingkat pengeluaran penduduk yang dicerminkan dengan angka 0-1. Semakin rendah angkanya maka pengeluaran semakin merata. Per September 2020, indeks gini Indonesia ada di 0,385. Ini naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 0,38. Artinya, pengeluaran semakin tidak merata karena angka indeks gini mengalami peningkatan.

Awal tahun 2021, sebuah organisasi nirlaba Oxfam juga telah memperingatkan adanya potensi peningkatan ketimpangan karena pandemi. Oxfam mencatat 1.000 orang terkaya di dunia berhasil memperoleh kekayaan mereka yang sempat hilang hanya dalam waktu sembilan bulan. Oxfam menyebutkan, bagi orang-orang miskin, angka kemiskinan naik ke level di mana kemajuan selama 10 tahun terakhir seakan tidak ada artinya.

“Bagi orang-orang kaya, resesi sudah selesai. Gabungan kekayaan 10 orang terkaya di dunia naik US$ 500 miliar sejak pandemi dimulai. Uang sebanyak ini cukup untuk membayar vaksin bagi seluruh umat manusia di bumi,” sebut laporan berjudul The Inequality Virus tersebut.

 

KENAIKAN HARGA ASET PICU BERTAMBAHNYA ORANG KAYA

Gempuran pandemi terhadap ekonomi masyarakat Indonesia tak hanya menambah jumlah orang miskin. Masa Covid-19 dinilai pula memperbanyak orang kaya. Kenaikan harga aset dipandang sebagai salah satu pengaruhnya.

Sebuah fakta terungkap bahwa jumlah orang kaya di Indonesia semakin bertambah meskipun dalam kondisi sedang memprihatinkan karena terjadi wabah. Ekonom Senior Faisal Basri turut mengutarakan hal serupa dalam akun media sosialnya. Dia mengatakan, pandemi membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot tetapi jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta meningkat tajam. “Pandemi mengakibatkan perekonomian Indonesia merosot (kontraksi). Namun, jumlah orang dewasa dengan kekayaan di atas USD1 juta naik tajam sebesar 61,7%, dari 106.215 orang tahun 2019 menjadi 171.740 orang,” kata Faisal dalam akun Twitternya.

Lebih lanjut, mengintip laporan Credit Suisse, jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara dengan Rp14,49 miliar (kurs dollar Rp 14.486) di Indonesia ada sebanyak 172.000 orang. Bertambah 62,3% dibandingkan tahun sebelumnya (yoy). Jika dibandingkan dengan seluruh populasi jumlah jutawan (dalam dolar Amerika Serikat, bukan rupiah) Indonesia hanya 0,1% dan menempati posisi kedua dari 27 negara yang dijadikan sampel.

Kondisi tersebut tidak berubah dibandingkan 2019. Menurut laporan tersebut, jumlah orang kaya di tanah Air bertambah karena kenaikan harga aset. Salah satunya didorong oleh suku bunga rendah yang mendorong harga aset di pasar keuangan. Tidak hanya di sektor keuangan, harga aset fisik seperti properti pun masih membukukan kenaikan meski lajunya melambat.

Pada 2020, indeks harga hunian residensial naik 1,55% yoy. Penghasilan para jutawan ini bukan melulu dari gaji bulanan. Investasi bisa menjadi tambahan penghasilan para orang kaya baru ini yang bahkan bisa lebih tinggi ketimbang upah tetap yang perkembangannya hanya mengikuti laju inflasi.

Shorrock Anthony, Ekonom dan penulis Laporan Global Wealth Report mengatakan, pandemi memberikan dampak jangka pendek yang cukup besar pada kondisi pasar global. Namun hal ini hanya berlaku hingga akhir Juni tahun 2020 lalu.

Shorrocks menjelaskan, sejak akhir Juni 2020 lalu, kondisi pasar global perlahan mulai mengalami peningkatan setelah sebelumnya jatuh terdampak pandemi. Hal inilah yang dirasa menjadi alasan mengapa sejumlah orang tetap dapat meningkatkan nilai aset yang mereka miliki. “Sebagian besar terbalik pada akhir Juni 2020,” jelas Shorrocks.

“Kekayaan global tidak hanya dapat bertahan dengan mantap dalam menghadapi kekacauan (pandemi) seperti itu tetapi pada kenyataannya meningkat pesat pada paruh kedua tahun itu," katanya.

Menurutnya, meski jumlah orang kaya bertambah selama masa pandemi, Shorrocks menemukan bahwa kesenjangan antara ‘si kaya’ dengan ‘si miskin’ menjadi semakin lebar. Dengan kata lain yang kaya menjadi semakin kaya sedangkan yang miskin menjadi semakin miskin.

 

KEBIJAKAN MENGHIDUPKAN EKONOMI RAKYAT INDONESIA DIBUTUHKAN

Desakan untuk merespon persoalan kemiskinan pun mengencang. Pemerintah Indonesia diminta ambil tindakan. Perlunya langkah untuk memulihkan ekonomi masyarakat ‘dipecut’.

Dorongan tersebut disampaikan, Mira Midadan sebagai Peneliti Center of Food, Energy and Sustanable Development Indef. Ia mengatakan, peningkatan penduduk miskin sebenarnya perlu diikuti dengan kebijakan yang bisa membantu menghidupkan perekonomian masyarakat miskin.

“Karena masih pandemi, perlindungan sosial salah satu cara yang bisa dilakukan pemerintah. Pemerintah bisa memberikan pelatihan yang basic-nya meningkatkan skill, khususnya diberikan pada korban-korban PHK (pemutusan hubungan kerja),” ungkapnya.

Ia mengatakan, dalam setahun ini tingkat kemiskinan masyarakat secara nasional mengalami kenaikan. Dia menyebut, angka kemiskinan bertambah didominasi oleh masyarakat miskin di perkotaan. “Penduduk miskin di pedesaan di ta-hun 2020 stabil, agak turun sedikit kurang lebih 12%, di perkotaan cenderung meningkat akhirnya berimplikasi pada penduduk miskin secara nasional. Kalau pertumbuhan penduduk miskin di perkotaan di atas 10% tahun 2020, sedangkan di pedesaan agak mendatar 0,31%,” kata Mira dalam sebuah webinar.

Lebih lanjut, kemiskinan mendapatkan kontribusi terbanyak dari tingkat pengangguran sebagai imbas pegawai di-PHK selama pandemi. Tiga daerah tertinggi di tanah air menjadi penyumbang pengangguran terdidik ter-besar dan terbanyak yaitu Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Ketiga negara tersebut secara bersamaan memiliki peran sebagai penopang ekonomi secara nasional.

Masalah yang juga mendera berbagai negara ini ditanggapi Gabrielle Bucher selaku Direktur Eksekutif Oxfam International. Ia mengatakan, pandemi Covid-19 membuat ketimpangan semakin dalam di banyak negara secara bersamaan. Saat orang-orang terkaya hanya butuh sembilan bulan untuk bangkit, orang miskin perlu waktu 14 kali lebih lama dari itu. Makanya, upaya melawan ketimpangan harus tercermin dalam belanja pemulihan ekonomi.

Menurutnya, pemerintah harus memastikan semua orang bisa mendapatkan vaksin dan wajib memberikan bantuan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan karena

pandemi. “Ini bukan hanya kebijakan sesaat, tetapi harus menjadi sebuah new normal agar pemulihan ekonom bisa dinikmati semua orang, bukan hanya mereka yang punya previlese (hak istimewa),” jelasnya. (detik/cnbc)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors