Sulut Rawan Virus Corona, MENKES: DOAKAN TIDAK MASUK

Pemerintah Siaga


MENKES: DOAKAN TIDAK MASUK//jdl

Manado, MS

Fokus pemerintah pusat mengarah ke Sulawesi Utara (Sulut). Sebagai salah satu pintu gerbang penerbangan internasional, potensi penyebaran virus corona dari China dinilai terbuka lebar. Pengamanan fasilitas pendukung seperti bandar udara (Bandara) diperketat.

Kekhawatiran warga Nyiur Melambai meninggi setelah sekira tujuh 7 penumpang Lion Air asal China dan 1 penerjemah yang diduga terjangkit virus corona, dikabarkan diperiksa intensif di Rumah Sakit (RS) Prof Kandow Manado. Meski pemerintah telah berlaku sigap, namun rasa panik warga kian menganga. Pasalnya, hingga Minggu (26/1) kemarin, virus yang bermula dari Wuhan China itu, telah merenggut korban jiwa sekira 56 orang. Bak gayung bersambut, Tagar #TolakSementaraTurisChina menjadi trending topic di Twitter, akhir pekan ini.

“Kalau sudah begini tentu harus menjadi perhatian. Sebab terduga penderita virus corona sudah ada di Sulut bahkan pihak Kemenkes akan datang ke Sulut terkait hal ini. Belum lagi, penyakit ini diinformasikan berasal dari negeri China dan diketahui wisatawan China di Sulut banyak,” aku Fenly Waas salah satu tokoh pemuda di Minahasa Tenggara (Mitra), Minggu (26/1).

“Tentu kami sangat khawatir. Selama ini, banyak juga turis China yang hadir di Tomohon khususnya Pasar Ekstrem dan tempat wisata lainnya. Kami berharap mereka diperiksa secara detail,” tutur Aldo Purukan, tokoh masyarakat Tomohon Utara.

Terpisah, Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut Braien Waworuntu ikut bereaksi. Menurut dia, kondisi ini sangat emergency. Pemprov Sulut melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Pariwisata harus seriusi menangani masalah tersebut. “Memang sampai detik ini, belum ada laporan yang terjangkit virus corona di Sulut namun kepanikan masyarakat terus bergetar. Saya meminta Dinas Kesehatan terus proaktif melakukan pengawasan dan pemeriksaan. Dorong Rumah sakit di Sulut bekerja ekstra terkait masalah virus corona ini. Saya juga mendesak Pemprov Sulut lakukan terobosan, jangan cuma awasi," tegas Braien, Minggu (26/1).

Tak hanya itu, dia juga meminta Dinas Pariwisata Provinsi Sulut bekerja maksimal. Jangan sampai menyepelehkan hal ini. "Kalau perlu tutup sementara penerbangan langsung China-Manado, kalau sudah memungkinan baru buka kembali. Utamakan dulu kenyamanan Warga Sulut. Sikap Pemerintah Provinsi Sulut saat ini dibutuhkan masyarakat Sulut,” tegas politisi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) itu.

Hal senada dikatakan Anggota Komisi IV DPRD Sulut, Yusra Alhabsy. Dia berharap pemerintah cepat melakukan pencegahan, meski kasus corona belum ditemukan di Sulut. “Problem penyakit ini dari China. Meskipun di Sulut belum ada yang kita pastikan tercangkit dengan virus corona ini namun pemerintah diharapkan untuk segera melakukan langkah-langkah protektif untuk mengantisipasi virus ini masuk di Indonesia,” terang Alhabsy.

Menurut dia, Bandara Sam Ratulangi perlu ada pengawasan lebih serius lagi kepada wisatawan maupun investor dari China.  Menurutnya, warga Tiongkok yang datang di Indonesia pasti memaklumi. “Saya pikir mereka juga memaklumi itu karena ada isu yang berkembang di negara mereka,” pinta anggota dewan provinsi (Deprov) Daerah Pemilihan (Dapil) Bolaang Mongondow Raya itu.

Tak sebatas itu, Pemprov Sulut melalui Dinas Pariwisata Provinsi Sulut juga harus menyampaikan pesan ini kepada  para wisatawan yang akan datang di Indonesia. Perlu ada pamflet-pamflet yang disebarkan. “Ini dibutuhkan agar tidak menganggu jumlah wisatawan asing termasuk wisatawan Cina yang datang ke Indonesia. Dan tidak meresahkan masyarakat yang ada di Sulut,” kunci politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Sebelumnya, masyarakat Sulut sempat dibuat panik tentang pemberitaan virus Corona. Apalagi tentang beredarnya kabar di dua hari terakhir ini terkait dengan tujuh penumpang pesawat Lion Air JT 2.742 rute Changsha-Manado. Mereka sempat dibawa ke Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Sam Ratulangi Manado. Ketujuh penumpang diperiksa karena diduga terjangkit virus corona namun akhirnya diperbolehkan pulang karena negatif. Selanjutnya seorang penerjemah turis China yang diisolasi di RS Kandou Manado terkait juga dengan dugaan virus corona.

Diketahui, Sulut menjadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki penerbangan langsung dengan sejumlah wilayah di China. Buah dari kerjasama itu, Sulut pun dibanjiri wisatawan dari Negeri Tirai Bambu. Di sisi lain, terdapat perusahaan China yang beroperasi di daerah ini.

 

SULUT MASIH AMAN

Nyiur Melambai masih aman dari virus corona. Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk waspada.

Itu merujuk hasil kunjungan Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia (RI) dr Terawan Agus Putranto saat berada di RS Prof Kandou Manado, Minggu (26/1). Saat itu, Menkes sempat meninjau pasien yang diduga terkena virus corona di ruang isolasi Irene F.

Dijelaskan Menkes, virus akan masuk jika daya tahan tubuh lemah. Oleh karena itu gerakan masyarakat hidup sehat digalakkan pihak Kemenkes. “Semua virus berbahaya. Mari jaga diri dan kesehatan dan berdoa supaya tak datang di Indonesia,” terang Menkes saat press conference.

Ditambahkannya, turis datang tak masalah, karena mereka telah diclear. “Tak usah takut. Karena kami terus mengutamakan kesigapan dan memantau pintu masuk. Kita lakukan pengawasan dengan termal cek. Yang siaga cukup aparat kesehatan,” jelasnya.

“Saya menengok pasien yang diisolasi. Pasien tak nyaman habis perjalanan dari China. Karena merasa tak nyaman, dirinya dengan kesadaran sendiri menghubungi rumah sakit untuk melakukan peninjauan dan pengecekan, isolasi dan ternyata kemudian sekarang membaik, tidak ada demam, batuk pilek nya juga sudah sembuh, tak ada sesak napas. Tetapi dengan rela dan mau dicek terus,” sambung Menkes.

“Orang ini sadar akan dirinya, maka dia ingin di clear dan harus bersih. Kami akan mengikuti meskipun secara klinis tak ada. Saat ini tinggal menunggu karena bahan labnya sudah dikirim di Balitbangkes yang kita anggap paling akurat,” ujar Menkes lagi.

Begitu juga terkait kabar tujuh warga yang diduga terkena virus corona. Menkes menjelaskan, ketujuh orang tersebut telah di skrining (deteksi dini) dan diperiksa di pesawat. “Kami telah periksa di pesawat. Itu juga hasil kesadaran dari teman teman di China. Karena mereka sebelum memberangkatkan orang, di skrining kesehatan duluan. Meskipun mereka mau rekreasi di sini (Indonesia),” tutur Menkes.

“Ketujuh orang ini sebenarnya kelewatan clearence di China. Namun langsung terkontak di sini, dan kami melakukan pengecekan.  Kita semua langsung siaga dan periksa dan dinyatakan negatif,” ujarnya

Dia menambahkan, setiap ada berita pasti langsung dicek sendiri oleh dirinya, begitu juga berita yang ada di Makassar Sulawesi Selatan. “Saya langsung cek sendiri melihat kondisi dilapangan dan melihat bagaimana kesiapsiagaan jajaran saya dan stakeholder terkait. Kolaborasi yang harus kita bangun,” akunya.

Menkes mengatakan pihaknya berkomitmen dan siap menjaga serta melindungi masyarakat . Selain itu, dirinya menegaskan hingga saat ini masyarakat Indonesia belum ada yang terkena virus corona. “Sampai sekarang ini, detik ini belum ada, dan doa kita jangan ada. Mari kita sama-sama berdoa supaya tidak ada yang masuk,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RSUP Kandou Dr dr Jimmy Panelewen SpB-KBD menjelaskan,  kondisi pasien saat ini sudah mulai membaik dan kondisi tubuhnya sudah bebas panas serta sudah bisa melakukan aktivitas berdiri dan berjalan. “Pasien ini adalah warga Indonesia yang menjadi interpreter dari salah satu maskapai penerbangan lokal yang berkunjung ke Wuhan, China tetapi tidak turun dari pesawat,” kata dia.

Lanjutnya, pasien tersebut menderita batuk dan pilek biasa karena setelah dilakukan pemeriksaan lain tidak ditemukan penyakit-penyakit yang serius termasuk dengan penyakit Pneumonia.  “Yang bersangkutan tetap kami tempatkan di bagian isolasi karena bagian dari pelayanan publik, kemudian karena pasien berkunjung di daerah yang terdampak yaitu Wuhan Cina,” semburnya.

Masih Panelewen, pihak rumah sakit juga sudah mengambil cairan yang berada di tenggorokan pasien untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Hasilnya kita akan ketahui 3 atau 4 hari ke depan,” jelasnya.

Dia juga mengimbau masyarakat tidak perlu takut dan panik karena ini adalah kondisi yang biasa dan pihaknya akan terus bekerja sesuai dengan SOP yang berlaku. “Sekali lagi saya sampaikan untuk berita yang berkembang sampai saat ini, kita tidak perlu panik atau merasa risau dengan kondisi ini,” pungkas Panelewen.

 

PEMPROV GERAK CEPAT

Virus corona mendapat atensi yang besar dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut. Berbagai upaya dilakukan secara serius, cepat dan tepat, guna menangkal masuknya virus corona di Nyiur Melambai.

Hal itu ditegaskan Gubernur Olly Dondokambey melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Christiano Talumepa, dalam releasenya kepada media, Minggu (26/1) kemarin.

Menurut Gubernur, persoalan flu corona adalah masalah global yang semua negara telah menyatakan sikap untuk melakukan langkah preventif, termasuk pemerintah Indonesia. "Hari ini (kemarin, red) Menkes datang ke Manado dalam rangka kunjungan kerja sekaligus melihat langsung kondisi dan upaya Pemprov khususnya langkah pencegahan di pintu masuk utama ke Sulut yakni pemasangan sarana deteksi dini di Bandara Sam Ratulangi," terang Talumepa mengutip penegasan Gubernur Olly.

Dia menambahkan, terkait dengan kecemasan masuknya virus melalui kedatangan para wisatawan asal negara China, mendapat perhatian serius pemerintah pusat dan Pemprov Sulut bahkan pemerintah China. "Kami memaklumi kecemasan warga Sulut, untuk itu masalah ini terus kami koordinasikan dengan pemerintah pusat melalui Kementrian terkait," ujar Olly melalui Talumepa, sembari menegaskan keseirusan pemerintah China dapat terlihat dari penutupan negara Wuhan.

Sebelumnya, Gubernur Olly memastikan untuk mengantisipasi peredaran virus ini, Bandara Internasional Sam Ratulangi telah dipasang alat pendeteksi virus tersebut. "Sudah dipasang alat thermal scanner di bandara Sam Ratulangi, serta ruangan dengan perlengkapan lengkap," terang Gubernur Olly.

Untuk itu, dia mengimbau warga Sulut untuk tidak panik, namun tetap waspada. "Warga tak usah panik, dalam  perkembangan dunia saat ini tetap ada saja penyakit-penyakit baru yang timbul seiring perkembangan," ujar Gubernur.

Apalagi, menurutnya, langkah-langkah penanganan juga intens dilakukan pemerintah Republik Rakyat Thiongkok (RRT), dengan mengambil langkah cepat menangani virus yang diduga berasal dari hewan tersebut.

"Pemerintah Cina (RRT,red) saat ini saja sudah menutup Kota Wuhan dari aktivitas, termasuk pelarangan warganya bepergian ke luar negeri," jelas Gubernur Olly yang berpesan agar warga Sulut dapat menjalankan hidup sehat, seperti cuci tangan sebelum melakukan aktivitas makan minum.

 

DINKESDA KELUARKAN HIMBAUAN

Pemprov Sulut melalu Dinas Kesehatan Daerah telah mengeluarkan himbauan menyikapi pemberitaan adanya kasus terduga pasien virus corona yang sementara dirawat di RSUP Prof Kandou.

Pertama, yang bersangkutan bukan warga negara China, tapi warga negara Indonesia yang bekerja sebagai interpreter.

Kedua, tindakan isolasi yang dilakukan oleh aparat kesehatan berdasarkan pada beberapa pertimbangan yakni adanya riwayat perjalanan ke lokasi terjangkit di China dan yang bersangkutan mengeluh dalam kondisi pilek.

Ketiga, kepada yang bersangkutan tidak dikenakan kriteria tersangka karena pada saat pemeriksaan tidak menunjukkan adanya tanda tanda demam dan radang paru atau pneumonia sesuai kriteria dari Kemenkes.

Keempat, tindakan karantina/isolasi diberlakukan karena memenuhi kriteria untuk diawasi. Hal ini sebagai bentuk pelayanan publik untuk pencegahan penyakit.

"Masyarakat diimbau tetap waspada terutama bila mengalami gejala demam, batuk, disertai kesulitan bernafas, segera mencari pertolongan ke pelayanan kesehatan IRS terdekat,” jelas Kepala Dinkesda dr Debbie Kalalo.

Selanjutnya, kata dia, adalah health advice. Yakni dengan melakukan kebersihan tangan rutin, terutama sebelum memegang mulut, hidung dan mata serta setelah memegang instalasi publik. “Juga mencuci tangan dengan air dan sabun cair serta bilas setidaknya 20 detik. Cuci dengan air dan keringkan dengan handuk atau kertas sekali pakai. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, dapat menggunakan alkohol 70-80 persen handrub. Kemudian, menutup mulut dan hidung dengan tissue ketika bersin atau batuk. Ketika memiliki gejala gangguan saluran napas, gunakan masker dan berobat ke fasilitas Iayanan kesehatan,” sarannya.

Dikatakannya, sampai hari ini belum ada laporan ataupun deteksi adanya kasus pneumonia berat dengan penyebab virus corona di Provinsi Sulut.

“Mengingat bahwa Provinsi Sulut memiliki kerentanan terkait perkembangan penyakit ini, maka Dinkesda bekerjasama dengan stakeholder terkait telah mengupayakan langkah-langkah antisipatif,” kuncinya.(sonny dinar/arfin tompodung)


Komentar