SULUT RESIKO RENDAH, MASYARAKAT DIMINTA TETAP WASPADA


Manado, MS

Tren penambahan kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Sulawesi Utara (Sulut) kian menurun. Seluruh kabupaten kota kini berada dalam status resiko rendah penyebaran. Masyarakat pun diminta tetap waspada. Gelombang ke 3 virus corona mengancam.

Peta penyebaran Covid-19 yang dirilis Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Provinsi Sulut menggambarkan, 15 kabupaten kota di Sulut berada di zona kuning atau sebaran dengan resiko rendah. Data zonasi resiko ini per tanggal 1 Oktober 2021. Terkait dengan data zona resiko tersebut akan diperbaharui lagi dalam setiap minggu.

Penurunan kasus positif dua hari terakhir ini sangat signifikan. Berdasarkan data yang dirilis Satgas Covid-19 Sulut, Minggu (3/10), di Sulut hanya satu digit saja atau bertambah 5 kasus baru yang terkonfirmasi positif virus corona. Sedangkan pada Sabtu (2/10), penambahan positif Corona di Sulut berada pada dua digit atau 25 kasus.

Adapun sebaran 5 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 pada Minggu kemarin yakni Minahasa Utara (Minut) 5 kasus, Kota Manado 1 kasus, Minahasa 1 dan Tomohon 1. Jumlah akumulasi pasien terkonfirmasi positif sebanyak 34.145 orang (bertambah 5 kasus baru dari nomor kasus 34.141 sampai dengan 34.145). Kasus sembuh bertambah sebanyak 5 orang dan kasus

meninggal terlapor sebanyak 0 orang. Jika diakumulasi kasus sembuh 32.399 orang, kasus meninggal 1.024 orang dan kasus aktif 722 orang. Angka Kesembuhan Covid-19 di Sulut per 3 Oktober 2021 adalah 94,89% dan Angka Kematian (Case Fatality Rate) sebesar

3,00%. Kasus aktif sebesar 2,11%.

Sedangkan pada data sebelumnya Sabtu (2/10), kasus terkonfirmasi positif Covid-19 berjumlah 25 kasus. Jumlah akumulasi pasien terkonfirmasi positif sebanyak 34.140 orang (bertambah 25 kasus baru dari nomor kasus 34.116 sampai dengan 34.140). Distribusi 25 kasus baru itu yakni Talaud 1, Kota Bitung 4, Manado 8, Minahasa 6, Tomohon 1, Minsel 3, Bolmong 1 dan Bolsel 1. Kasus sembuh bertambah sebanyak 47 orang dan kasus meninggal terlapor sebanyak 2 orang. Secara akumulasi kasus sembuh 32.394 orang, kasus meninggal 1.024 orang, kasus aktif 722 orang. Angka kesembuhan Covid-19 di Sulut per 2 Oktober 2021 adalah 94,89% dan Angka Kematian (Case Fatality Rate) sebesar 3,00%. Kasus aktif sebesar 2,11%.

Meskipun terjadi penurunan kasus namun pemerintah lewat Satgas Covid-19 tetap menghimbau agar masyarakat bisa tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) yang ada. “Pandemi Covid-19 belum berakhir, tetap patuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 5M untuk memutus mata rantai penularan Covid-19,” ungkap juru bicara Satgas Covid-19 Provinsi, dr Steaven Dandel. 

Diketahui sebelumnya, status level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejumlah daerah di Sulut pula mulai mengalami penurunan. Beberapa daerah mulanya berada di PPKM level 3 namun perlahan berubah menjadi level 2. Meski begitu, Gubernur Sulut Olly Dondokambey mengingatkan untuk tetap waspada dan menjalankan prokes Covid-19. "Kita himbau kepada masyarakat, mari kita sama-sama menjaga terus protokol kesehatan (Covid-19, red)," ujar Gubernur Olly, belum lama.

Gubernur juga menerangkan, maksud adanya penurunan level di sejumlah daerah di Sulut, bukan berarti mengabaikan prokes Covid-19. Penurunan level hanya berpengaruh pada kelonggaran jam beraktivitas. "Diperlonggar. Tapi longgarnya jamnya. Tetap protokol kesehatan di tempat-tempat umum harus kita sadari. Misalnya di restoran tetap protokol itu kita jalani. Jangan langsung penuh. Juga waktu kita buka lebih luas. Kalau dulu jam 8, sekarang bikin jam 9," tegasnya.

Dirinya tak henti menyampaikan kepada masyarakat, supaya disiplin terhadap Covid-19. Semuanya dikembalikan kepada masyarakat untuk memperhatikan dan menjalani secara ketat prokes Covid. “Kesadaran masyarakat sangatlah penting, untuk bersama-sama memutus mata rantai Covid-19. Protokol Kesehatan harus dijalankan,” ucap Olly mengingatkan.

Gubernur pun optimis ekonomi daerah dapat berjalan baik ke depan. Asalkan masyarakat tidak lalai pada kesehatan dan keselamatan. “Ekonomi boleh berjalan tapi kesehatan harus jadi prioritas,” tuturnya.

 

GELOMBANG KE-3 COVID-19 MENGANCAM

Celah gelombang ke-3 Covid-19 menganga. Para ahli memprediksi kemungkinan bakal terjadi awal tahun 2022. Persiapan pun dinilai perlu dilakukan.

Diakui belakangan ini, penambahan kasus baru Covid-19 di Indonesia relatif melambat. Namun pakar menyebut, ancaman gelombang ketiga Covid-19 sudah pasti terjadi. "Kalau dari kasus, ya pasti (terjadi gelombang ketiga Covid-19, red). Tapi mudah-mudahan tidak ada gelombang ketiga untuk orang yang masuk rumah sakit sehingga rumah sakit kewalahan dan orang yang meninggal dunia," terang ahli virologi dan Guru Besar Universitas Udayana, Prof Dr Gusti Ngurah Kade Mahardika, dalam diskusi daring Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (30/9).

"Saya bahkan bisa prediksi, dari pola tahun lalu maka lonjakan kembali Januari (atau) Februari 2022," sambungnya.

Menurut Prof Gusti, lonjakan kasus akibat transmisi dalam satu wilayah sudah pasti terjadi. Bercermin pada pandemi Covid-19 di negara lain yang sempat dikabarkan membaik. Misalnya Singapura, jumlah kasus menaik lagi. Akan tetapi lantaran cakupan vaksinasi sudah luas, jumlah pasien meninggal dunia bisa ditekan.

Pada gelombang ketiga Covid-19 di RI kelak, Prg Gusti optimistis kondisinya akan bisa lebih baik dibanding lonjakan kasus pada Juli 2021. Dengan syarat, vaksinasi Covid-19 digencarkan agar lonjakan kasus tidak memberikan tekanan terlalu besar kepada rumah sakit.

"Pattern-nya mulai terbentuk. Kalau dalam pengertian kasus, itu akan meletup kembali Desember, Januari, Februari tahun depan. Tapi kita sudah vaksinasi terutama untuk daerah-daerah yang vaksinasi sudah di atas 70 persen, mestinya tekanan pada rumah sakit tidak akan sebesar tahun ini," terangnya lebih lanjut.

"Pesan kita adalah, pemerintah segera speed up vaksinasi. Kalau sekarang 1,5 juta per hari, mungkin bisa 2 juta atau 4 juta per hari," pungkas Prof Gusti.

 

 

DPR WARNING PEMERINTAH, LUHUT: KITA SIAP

Ancaman gelombang ke-3 Covid-19 sempat pula ditanggap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Antisipasi terhadap persoalan ini didorong wakil rakyat gedung Senayan. Pemerintah pun pastikan telah siap.

Wakil Ketua Komisi IX, Charles Honoris mengingatkan pemerintah agar mempersiapkan diri menghadapi gelombang ketiga Corona di Indonesia. "Kalau kita melihat tren yang terjadi di beberapa negara di dunia dan prediksi dari epidimiolog maka gelombang ke tiga penularan Covid-19 juga berpotensi terjadi di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, pemerintah harus mempersiapkan infrastruktur pelayanan kesehatan yang memadai termasuk memastikan ketersediaan oksigen dan obat-obatan yang cukup apabila ancaman tersebut menjadi kenyataan," katanya kepada wartawan, Sabtu (18/9).

Selain itu, Charles juga mendorong agar vaksinasi Corona kepada warga terus dilakukan. Hal itu karena berdasarkan data dimiliki Komisi IX menunjukkan bahwa vaksinasi memberikan perlindungan dari sakit parah dan kematian akibat Corona.

"Selain itu, upaya percepatan vaksinasi harus terus digenjot. Vaksin Covid-19 memang tidak menutup kemungkinan terjadinya penularan. Sampai saat ini tidak ada vaksin yang 100% efektif menghentikan penularan," ujarnya.

Dengan demikian menurutnya, apabila capaian vaksinasi corona tinggi dan kasus penularan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia tidak menjadi penuh dan kewalahan.

"Masyarakat yang sudah mendapatkan vaksinasi secara lengkap akan mendapatkan perlindungan dari gejala berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit," imbuhnya.

Sementara, Luhut Binsar Pandjaitan selaku Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman RI menyampaikan bahwa, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan agar Indonesia harus mewaspadai soal risiko gelombang ketiga. "Kita jauh lebih siap dari empat bulan yang lalu," ujarnya.

Saat ini, tambah Luhut, beban sistem kesehatan nasional sudah lebih ringan. Ini ditandai dengan kasus aktif yang sudah turun hingga ke kisaran 57.000. Tambahan kasus harian pun sudah turun sekitar 98% dari titik puncak 15 Juli 2021. "Perbaikan itu saya sampaikan tidak ada kabupaten kota di Jawa-Bali yang menerapkan PPKM Level 4. Semua di Level 3 atau 2," ungkap Luhut.

Diketahui, data perkembangan terkait pandemi Covid-19 di Indonesia berdasarkan rilis humas BNPB pada Minggu (3/10), kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah 1.142 kasus. Pasien sembuh dari virus Corona bertambah 2.020 orang, sedangkan pasien Covid-19 yang meninggal dunia bertambah 58. Kasus Covid-19 baru yang ditemukan paling banyak berada di DKI Jakarta dengan 127 kasus. Disusul kemudian Jawa Timur dengan 115 kasus dan Jawa Barat dengan 97 kasus. Untuk kasus sembuh, paling banyak berada di Jawa Barat dengan 229 pasien sembuh covid-19. Selanjutnya, secara berurut ada Jawa Tengah 201 pasien sembuh dan Jawa Timur 190 pasien sembuh. (sonny dinar/cnbc/detik)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors