Munas MATAKIN XIX Akan Digelar di Surakarta

Lintong : Jangan pernah Lupa kepada Leluhur Kita


Manado, MS
Musyawarah Nasional (MUNAS) Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) akan digelar pada 25-27 November 2022. Demikian disampaikan Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Manado, Heintje Wenny Lintong (HWL) dalam rilisnya ke redaksi Media Sulut, Kamis (20/11).

Acara yang akan dilaksanakan di kota Surakarta, Solo, Jawa Tengah ini mengangkat tema "Seorang Junzi Mementingkan Kepentingan Umum, bukan Kelompok."

Lintong mengatakan bahwa umat Konghucu agar tidak melupakan leluhurnya yang selama ini telah berjuang dalam pembentukan MATAKIN sehingga tetap berdiri kokoh di Indonesia.


Sejarah terbentuknya MATAKIN

Adapun sejarah lahirnya MATAKIN diawali dengan berdirinya Tiong Hoa Hwee Kwan ( 中华会馆 Zhong Hua Hui Guan) dengan Presiden pertama Phoa Keng Hek (Pan Jing He) dan Sekretarisnya Tan Kim San (Chen Qin Shan).

Tujuannya ingin memurnikan kehidupan keagamaan umat Khonghucu dan menghapuskan sinkretisasi di dalam pengajaran Agama Khonghucu serta membangun lembaga pendidikan bagi anak-anak keturunan Tionghoa. Di dalam hal upacara keagamaan Tiong Hoa Hwee Kwan berupaya menertibkan upacara-upacara kematian, pernikahan, dan lain-lain.

Perkembangan Tiong Hoa Hwee Kwan ternyata lebih cenderung hanya menggeluti masalah pendidikan umum; lebih-lebih setelah Dinasti Qing ditumbangkan oleh kaum Nasionalis di Tiongkok. Hal-hal yang berkait dengan masalah keagamaan, yang mula-mula dicantumkan dalam anggaran dasarnya, tidak mendapat banyak perhatian.

Oleh karena itu, seksi keagamaan dalam tubuh Tiong Hoa Hwee Kwan berkembang dan memisahkan diri, selanjutnya mendirikan lembaga agama yang diberi nama Khong Kauw Hwee (孔教會, Kong Jiao Hui) . Salah satunya di Solo, berdiri Khong Kauw Hwee pada tahun 1918 yang diketuai oleh Zl. Tan Kiong Wie (Chen Gong Wei) serta tokoh-tokoh lain seperti Zl. Tan Kiong Wan (Chen Gong Yuan), Zl. Kwik Hong Hi (Guo Hong Xi), Zl. Liem Tiang Kwat (Lin Chang Fa), dan lain-lain. Lahirnya Khong Kauw Hwee tidak hanya di Solo, melainkan juga di banyak tempat seperti Bandung, Cirebon, Semarang, Malang, Surabaya, Ujung Pandang, dan lain-lain.

Kong Kauw Hwee-Khong Kauw Hwee di berbagai daerah kemudian sepakat untuk menyelenggarakan kongres pada tanggal 12 April tahun 1923 di Yogyakarta dan dibentuk Khong Kauw Tjong Hwee (孔教總會, Kong Jiao Zong Hui / Majelis Pusat Agama Khonghucu) dengan Ketua Zl. Poey Kok Gwan (Fang Guo Yuan).

Tanggal 25 Desember 1938 di Solo diselenggarakan konferensi lagi untuk penggabungan Khong Kauw Hwee seluruh Jawa; mengingat kepengurusan pusat yang di Bandung dinilai kian pasif. Konferensi ini menghasilkan adanya pimpinan pusat yang baru, tetap dengan nama Khong Kauw Tjong Hwee. Kedudukan pusat ditetapkan di Solo selama tiga tahun dengan Ketua Zl. Tio Tjien Ik (Zhang Jin Yi) dan Sekretaris Zl. Auw Ing Kiong (Ou Yong Gong).

Dengan pecahnya perang dunia kedua dan masuknya bala tentara Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, praktis kegiatan Khong Kauw Tjong Hwee terbekukan, tidak dapat berjalan secara wajar bahkan terhenti. Khong Kauw Hwee-Khong Kauw Hwee setempat menyelenggarakan kegiatan berdasar kondisi masing-masing.

Tahun 1948-1949 Khong Kauw Hwee Solo secara perlahan sudah mulai bangkit kembali membina kegiatan peribadahan dan organisasinya. Kemudian pada tahun 1950 bangkit kembali hasrat menyelenggarakan kegiatan bersama dengan kegiatan peribadahan di kelenteng-kelenteng. 
Tanggal 11-12 Desember 1954 di Solo diselenggarakan konferensi antar tokoh-tokoh Agama Khonghucu untuk membahas dan menyiapkan ditegakkannya kembali Khong Kauw Tjong Hwee. 

Sebagai kelanjutan Konferensi tersebut diselenggarakan pula Konferensi di Solo tanggal 16-17 April 1955. Dalam Konferensi ini terbentuk kembali lembaga tertinggi Agama Khonghucu di Indonesia dengan nama “Perserikatan K’ung Chiao Hui Indonesia” disingkat “PKCHI” yang diketuai oleh dr. Kwik Tjie Tiok dan Sekretaris Oei Kok Dhan, pada tanggal 16 April 1955.

Perserikatan K’ung Chiao Hui Indonesia (Perserikatan Kong Jiao Hui Indonesia) untuk pertama kalinya mengadakan kongres pada tanggal 6-7 Juli 1956 di Solo yang dihadiri oleh utusan-utusan dari 6 daerah dan beberapa peninjau. Kongres tersebut pada pokoknya menyempurnakan AD/ART Perserikatan. Kedudukan pusat tetap di Solo demikian pula Ketuanya tetap dr. Kwik Tjie Kiok, tetapi Sekretarisnya diganti Zl. Tjan Bian Lie.

Kongres II diselenggarakan di Bandung pada tanggal 6-9 Juli 1957 dengan dihadiri
oleh utusan-utusan 12 daerah. Personalia pengurus tidak banyak perubahan, kedudukan pusat tetap di Solo untuk periode 1957-1959 dan dr. Kwik Tjie Tiok terpilih kembali sebagai Ketua dan Zl. Tjan Bian Lie sebagai Sekretarisnya.

Pada tanggal 5-7 Juli 1959 PKCHI menyelenggarakan Kongres III di Boen Bio Surabaya dengan dihadiri utusan dari 12 daerah. Xs. Tan Hok Liang terpilih sebagai Ketua dan Zl. Tan Liong Kie sebagai Sekretarisnya untuk periode 1959-1961. Kedudukan pusat ditetapkan di Bogor.

Pada tanggal 14-16 Juli 1961, diselenggarakan Kongres IV di Solo dan menghasilkan beberapa keputusan penting yakni mengubah nama Perserikatan K’ung Chiao Hui Indonesia menjadi Lembaga Agama Sang Khongcu Indonesia disingkat LASKI, kedudukan pusat kembali ditetapkan di Solo dan untuk periode 1961-1967 diketuai oleh Zl. Tjan Bian Lie dengan Sekretarisnya Zl. The Ping Hap.

Pada tanggal 22-23 Desember 1963, diselenggarakan Konferensi di Solo. Keputusannya antara lain mengubah nama LASKI menjadi GAPAKSI (Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu se-Indonesia), dan Khong Kauw Hwee menjadi Perkumpulan Agama Khonghucu disingkat PAK.

Pada tanggal 5-6 Desember 1964, diselenggarakan Kongres V GAPAKSI di Tasikmalaya dan berhasil menetapkan beberapa keputusan penting, antara lain : nama Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu se-Indonesia diubah menjadi Perhimpunan Agama Khonghucu se-Indonesia dengan singkatan tetap GAPAKSI. Dalam kongres ini juga disahkan Tata Agama dan Tata Upacara Laksana Agama Khonghucu hasil Musyawarah Kerja Nasional yang diselenggarakan di Ciamis dari tanggal 16-18 Mei 1964. Ini merupakan Musyawarah Kerja Nasional I Rohaniwan Agama Khonghucu se-Indonesia yang dikoordinir oleh dr. Kwik Tjie Tiok, Xs. Nio Kie Gian, Xs. Oey Yok Soen dan Xs. Tjhie Tjay Ing, yang berupaya mengokohkan penyeragamkan Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu.

Pada tanggal 23-27 Agustus 1967, di Solo diselenggarakan Kongres VI GAPAKSI yang dihadiri oleh utusan-utusan dari 17 daerah. Pada kongres ini nama Gabungan Perhimpunan Agama Khonghucu disempurnakan menjadi Majelis Tinggi Agama khonghucu Indonesia (MATAKIN) yang berkedudukan pusat tetap di Solo. Untuk periode 1967-1969 diketuai Tan Sing Hoo, Wakil Ketua Xs. Suryo Hutomo dengan Sekretaris Ws. Oei Tjien San.

Pada tanggal 24-28 Desember 1969, di Pekalongan diselenggarakan Kongres VII MATAKIN. Hadir utusan dari 20 daerah. Xs. Suryo Hutomo terpilih sebagai ketua periode tahun 1969-1971, kedudukan tetap di Solo. 
Pada tanggal 23-27 Desember 1971, diselenggarakan Kongres VIII di Semarang yang dihadiri utusan dari 28 daerah.

Kedudukan pusat periode 1971-1975 tetap di Solo, dengan Ketua Umum Xs. Suryo Hutomo dan Sekretaris Js. Tjiong Giok Hwa. 
Pada tanggal 21-25 Februari 1979, diselenggarakan Kongres IX MATAKIN di Solo. Dengan kesepakatan bersama, Xs. Suryo Hutomo ditetapkan kembali sebagai Ketua Umum.

Pada tanggal 15 Januari 1987, di Solo dilangsungkan Konferensi MATAKIN secara intern yang dianggap sebagai pengganti Kongres X dengan tujuan utama memilih kepengurusan baru, dan hasilnya terpilih Ketua Umum MATAKIN periode 1987-1991 yaitu Ws. Leo Kuswanto.

Pada tahun 1991 diadakan pertemuan non-formal di wilayah Bogor yang dianggap sebagai pengganti Kongres XI MATAKIN, dan koordinasi jalannya organisasi MATAKIN diputuskan ditangani Xs. Suryo Hutomo, meskipun secara formal Ketua Umum tetap Ws. L. Kuswanto.

Pada tanggal 20 Juni 1993, berdasarkan Konferensi MATAKIN yang dilaksanakan secara intern yang dianggap sebagai pengganti Kongres XII di Jakarta berhasil disusun kepengurusan baru masa bakti 1993-1998 dengan kepemimpinan kolektif (Presidium).

Sebagai Koordinator ditunjuk Dq.Hengky Wijaya dengan Sekretaris Presidium merangkap Ketua Majelis Pimpinan Pusat Harian (MPPH)  Js. Chandra Setiawan
Pada tanggal 22-23 Agustus 1998, di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, diselenggarakan Kongres (MUNAS) MATAKIN XIII, kongres yang dibuka oleh H. Amidhan, Staf Ahli Menteri Agama ini berhasil menyusun Presidium dan kepengurusan baru MATAKIN masa bakti 1998-2002. Dq. Hengki Wijaya terpilih sebagai Koordinator Presidium, Wakil Xs. Tjhie Tjay Ing dan Sekretaris Ws. Wastu Pragantha Zhong; dengan Ketua Umum Js. Chandra Setiawan dan Sekretaris Umum, Budi Santoso Tanuwibowo.

Pada tanggal 13-15 September 2002 diselenggarakan MUNAS XIV MATAKIN di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Kongres ini dibuka Ketua MPR RI Amien Rais. Kepengurusan MATAKIN periode 2002-2006 adalah : Koordinator Presidium  merangkap Anggota Ws. Wastu Pragantha Zhong, Wakil Koordinator Presidium  merangkap Anggota Xs. Tjhie Tjay Ing, Sekretaris Presidium merangkap Anggota Ws. Chandra Setiawan, serta Ws. Bingky Irawan dan Xs. Masari Saputra sebagai Anggota. Xs. Masari Saputra menggantikan posisi Js. Budi S. Tanuwibowo yang kemudian terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus MATAKIN. 

Terpilih sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus MATAKIN adalah Js. Handry Nurtanto dan Js. Lindasari Wihardja, Sekretaris Umum Dede Hasan Senjaya dan Bendahara Umum Henny Loho.

Musyawarah Nasional (MUNAS) XV diadakan tanggal 02 – 05 November 2006 di Jakarta. Dalam MUNAS tersebut, terpilih 5 orang Presidium, adalah: Xs. Tjhie Tjay Ing, Xs. Djaengrana Ongawijaya, Xs. Tjandra R. Muljadi, Ws. Chandra Setiawan dan Ws. Bingky Irawan. Sedangkan Ws. Budi S. Tanuwibowo terpilih kembali sebagai Ketua Umum MATAKIN dan Dq. Uung Sendana L. Linggaraja sebagai Sekretaris Umum, masa bakti 2006-2010.

Musyawarah Nasional (MUNAS) MATAKIN ke XVI diadakan 23-25 Desember 2010 di Jakarta, dibuka oleh Presiden RI ke 6, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 23 Desember 2010 Pembukaan MUNAS ini bersamaan dengan Peresmian Kelenteng Kong Miao Taman Mini Indonesia Indah oleh Ketua Yayasan Harapan Kita, Hj. Siti Hardiyanti Rukmana. MUNAS MATAKIN XVI ini menghasilkan kepengurusan 2010 – 2014, yaitu Dewan Presidium : Ws. Chandra Setiawan (Koordinator merangkap Anggota), Ws. Budi S. Tanuwibowo (Wakil Koordinator merangkap Anggota), Xs. Tjandra R. Muljadi (Sekretaris merangkap Anggota), Xs.
Tjhie Tjay Ing (Anggota) dan Xs. Djaengrana Ongawijaya (Anggota), untuk Ketua Dewan Rohaniwan (Deroh) MATAKIN tetap dijabat oleh Xs. Tjhie Tjay Ing dan Ws. Budi S. Tanuwibowo sebagai Sekretaris Deroh. Js. Wawan Wiratma terpilih sebagai Ketua Umum MATAKIN, Uung Sendana Wakil Ketua Unun dan Js. Sugeng S. Imam sebagai Sekretaris Umum.

Tahun 2014 tanggal 16 - 18 Desember MATAKIN mengadakan Musyawarah Nasional (MUNAS) ke XVII sekaligus Mukernas Dewan Rohaniwan di Solo, Jawa Tengah. Dalam Munas tersebut telah diambil satu langkah penting organisasi untuk menghapus Presidium MATAKIN dan menggantikan dengan Dewan Rohaniwan MATAKIN sebagai manifestasi kedaulatan tertinggi Majelis yang bertanggung jawab untuk memilih, mengangkat, memberi nasihat/arahan kebijakan organisasi agar berjalan efisien, efektif dan bermartabat, serta mengontrol dan memberhentikan Ketua Umum Dewan Pengurus Matakin, jika yang bersangkutan nyata-nyata terbukti melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Susunan Dewan Rohaniwan terpilih adalah Ws. Budi S. Tanuwibowo, Ws. Chandra Setiawan, Xs. Djaengrana Ongawijaya, Xs. Tjhie Tjay Ing dan Xs. Tjandra R. Muljadi, Setelah mengadakan rapat secara intensif, akhirnya Dewan Rohaniwan Matakin memilih Xs. Tjhie Tjay Ing sebagai Ketua Dewan Rohaniwan, Ws. Budi S. Tanuwibowo sebagai Sekretaris Dewan Rohaniwan, serta Dq. Uung Sendana L.L sebagai  Ketua Umum Dewan Pengurus MATAKIN masa bakti 2014-2018 dengan Sekretaris Umum, Dq. Peter Lesmana.

Munas XVIII diselenggarakan tanggal 20-22 Desember 2018 di Jakarta. Dewan Pimpinan/Pengurus Pusat MATAKIN yang semula terdiri atas dua buah organ, yakni : Dewan Rohaniwan yang dipimpin Ketua Dewan Rohaniwan, serta Dewan Pengurus yang dipimpin Ketua Umum Dewan Pengurus, disatukan dalam satu organ Pengurus Pusat, yang dinamai Dewan Rohaniwan MATAKIN yang dipimpin Ketua Umum Dewan Rohaniwan (DEROH) MATAKIN.

Dalam Munas XVIII ini memilih 9 (Sembilan) orang anggota Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat MATAKIN, yaitu : Xs. Budi S. Tanuwibowo sebagai Ketua Umum, Ws. Budi Suniarto, S.E., M.B.A, Ketua Harian, Xs. Djaengrana Ongawijaya, anggota, Ws. Dr. Drs. Chandra Setiawan, M.M., Ph.D., anggota, Ws. Ir. Wawan Wiratma, anggota, Ws. Sunarta Hidayat, anggota, Ws. Sofyan Jimmy Yosadi, S.H. anggota, Js. Dede Hasan Senjaya, anggota, Js. Darman Wijaya, anggota.(yaziin solichin)


Komentar

Populer Hari ini



Sponsors

Daerah

Sponsors


Mail Hosting