Bencana Telan Korban Jiwa, SULUT SIAGA


Manado, MS

Cuaca ekstrim hantam Sulawesi Utara (Sulut). Rentetan bencana seperti banjir, longsor, hingga gelombang tinggi melanda sejumlah daerah. Tingginya intensitas curah hujan jadi penyebab utama. Bencana dilaporkan telah memakan korban jiwa. Seruan kewaspadaan pun digemakan pemerintah. Sulut waspada bencana.

 

Gejala perubahan iklim di wilayah Sulut telah berlangsung sepekan belakangan. Hujan deras mengguyur hampir semua pelosok Nyiur Melambai. Sejumlah titik di wilayah jantung pemerintahan, Kota Manado, dikepung banjir, Minggu (28/4) kemarin.

 

Lokasi terdampak diantaranya di Lorong Simphony, Sumompo tepatnya di Kelurahan Tuminting Lingkungan 6, Kecamatan Tuminting. Sejumlah rumah warga tergenang air. Di beberapa titik jalan menuju Simphony dalam, ketinggian air bahkan sempat mencapai lutut orang dewasa.

 

Kondisi serupa juga terjadi di Kelurahan Taas dan Banjer Kecamatan Tikala, Kelurahan Karame dan Ketang Baru di Kecamatan Singkil dan di Kelurahan Mahawu Kecamatan Tuminting. Beberapa kelurahan lain yang terdampak, seperti  Mahawu, Ternate Tanjung, Sumompo, Paal Dua, Tuminting, Banjer, Komo Luar, Bitung Karangria, Bailang, Dendengan Luar, Karame, dan Tumumpa Dua.

 

Kondisi itu memicu kepanikan warga. Sebagian memilih meninggalkan lokasi pemukiman dan menuju ke tempat aman. "Sempat khawatir saat ketinggian air sudah mencapai lutut, saya akhirnya membawa anak-anak ke rumah saudara kami di tempat yang aman," tutur Sumira, warga Tuminting.

 

 

BOCAH DI MITRA TEWAS TERSERET ARUS

 

Di daerah lainnya, efek cuaca buruk mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), nyawa seorang bocah berusia 6 tahun melayang. Bocah naas berinisal PR, warga Desa Esandom Kecamatan Tombatu Timur, terseret arus air selokan didepan rumahnya, akhir pekan lalu.

 

Informasi yang dirangkum, korban dan sepupunya SR (8) sedang bermain air selokan didepan rumahnya, Keluarga Rondonuwu Rumbay. Namun saking gembiranya kedua bocah ini, tak menyadari jika volume air selokan meningkat serta arus air lambat laun menjadi cepat akibat hujan deras.

 

Tak menyangka hal ini, keduanya pun diseret arus air selokan mengakibatkan PR terus dihempas arus, sekira pukul 13.00 Wita. SR sempat mendapatkan pertolongan warga sekitar, namun tidak dengan korban PR. Mengetahui hal ini warga setempat pun melakukan pencarian terhadap korban dan menghubungi pihak terkait didalamnya.

 

"Saya melihat keduanya sedang bermain di saluran air depan rumah. Kemudian saya dikagetkan dengan teriakan sepupu korban. Langsung keluar rumah namun hanya sempat menolong sepupunya dengan memegang tangannya. Sayang korban sendiri terus dihempas air selokan," ucap Ibu Dey Tongkotow (52).

 

Sang Kakek yang sempat mendengar teriakan minta tolong kedua cucunya itu, pun tak sempat memberikan pertolongan. "Ketika saya keluar rumah, cucu PR sudah hanyut," ucap Opa Jemmy Rondonuwu (45).

 

Pihak Polsek Tombatu pun tiba dilapangan dan langsung mengoordinasikan dengan pihak pemerintah kabupaten (pemkab) hingga Badan Search And Rescue (SAR) serta TNI yang turut serta memberikan bantuan.

 

Bersama warga setempat, upaya pencarian pun dilakukan hingga malam hari. Namun bocah malang tersebut baru diketemukan Minggu (28/4) sekira pukul 10.20 Wita, kemarin dalam keadaan meninggal. "Korban sudah diketemukan akibat diseret arus selokan depan rumah korban, oleh tim gabungan baik itu kepolisian, Badan SAR dan pihak Pemkab Mitra. Keluarga menyatakan ini merupakan murni kecelakaan," ungkap Kapolsek Tombatu Iptu Wensy Saerang.

 

Selain adanya korban jiwa terseret air selokan, banjir kecil, genangan air dan longsor juga menghantam sejumlah rumah warga di wilayah Tombatu.

Informasi dihimpun, warga Desa Towuntu Barat Kecamatan Pasan, tergenang luapan air hingga seukuran betis manusia pada 7 rumah warga. Ditempat lain di Tombatu Timur, longsor harus menimpa salah satu rumah warga di Desa Molompar Dua Selatan. Ditempat lain, talud penahan jalan ambruk akibat derasnya hujan sejak pekan lalu.

 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mitra pun memintakan masyarakat untuk dapat berhati-hati dengan kondisi alam saat ini. "Disaat kondisi seperti ini, seluruh daerah Mitra rawan akan bencana. Baik mereka yang tinggal di pemukiman, lereng gunung, hingga daerah pantai. Banjir dan longsor dapat datang kapan saja. Untuk itu diharapkan masyarakta dapat mewaspadai cuaca ini, memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, agar dapat diambil langkah antisipasi," ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ferry Uway didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Erick Manaroinsong, kemarin.

 

Menurut Manaroinsong, sejumlah bantuan untuk warga yang terkena bencana sudah dilakukan pihak pemerintah melalui instansi terkait. "Untuk logistik sandang dan pangan itu sudah disalurkan instansi teknis terkait, Dinas Sosial Mitra," tukas Manaroinsong.

 

Sedangkan untuk bantuan materi ditambahkannya, pihak keluarga yang terkenca bencana dapat mengajukan proposal kepada pihak desa untuk dilanjutkan kepada pihak terkait di Pemkab Mitra dalam tindaklanjutnya.

 

GELOMBANG TINGGI DAN LONGSOR DI BOLMONG, TIGA NYAWA MELAYANG

 

Kabar duka juga datang dari Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Cuaca ekstrim di wilayah ini memicu naiknya gelombang air laut di wilayah perairan.

Dua warga di Desa Ayong, Kecamatan Sangtombolang, Ratu Agsya Hasan (12) dan adiknya Raska Hasan (10) diduga tewas terseret ombak di Pantai Desa setempat, Sabtu (27/4) pekan lalu, sekira pukul 16:30 Wita.

 

Berdasarkan penuturan sejumlah saksi, kedua korban kakak beradik tersebut menjelang sore sedang asik mandi di laut seperti kebiasaan anak-anak nelayan di pesisir pantai bersama kawan-kawan sebaya mereka. Pada saat keasikan mandi, tiba-tiba salah satu dari mereka Raska Hasan terseret arus dan tenggelam.

 

Melihat kejadian tersebut, kakak korban Ratu Agisya Hasan berusaha menolong adiknya. Namun naas justru menimpa mereka berdua yang jadi korban terseret arus dan tenggelam. “Melihat kejadian tersebut, kawan-kawan korban langsung meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menolong kakak beradik yang terseret ombak dengan peralatan seadanya,” ungkap sejumlah warga, kemarin.

 

Sementara itu, usaha masyarakat mencari kedua korban dengan memakai peralatan seadanya membuahkan hasil pukul 17.30 Wita. Satu korban berhasil ditemukan warga Ratu Agisya Hasan, dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dibawa ke Puskesmas Maelang.

 

“Saat itu Satu korban berhasil ditemukan. Namun, sayangnya nyawa kakak korban Ratu Agisya Hasan tidak bisa diselamatkan dan telah dinyatakan meninggal dunia. Tepat pada pukul 18.30 kita langsung menghubungi BPBD Bolmong untuk membantu melakukan opersi SAR,” kata Sekretaris Desa (Sekdes) Ayong, Julham Damopolii, Minggu kemarin.

 

Setelah menerima informasi dari Pemdes Desa Ayong, BPBD Bolmong langsung berkoordinasi dengan Basarnas Pos SAR Kotamobagu untuk persiapan rencana operasi. “Setalah mendapat informasi, Sabtu malam kemarin, Tim SAR gabungan dari TRC BPBD Bolmong, Basarnas, Unsur TNI/Polri, relawan langsung turun ke lokasi dan berkoordinasi dengan Pemdes bersama keluarga korban dan masyarakat setempat untuk proses operasi. Karena masih ada satu korban yang belum ditemukan,” ujar Kepala BPBD Bolmong, Haris Dilapanga.

 

Tim SAR gabungan dari TRC BPBD Bolmong, Basarnas, unsur TNI/Polri dan relawan terus melakukan pencarian terhadap korban sejak malam hingga sore Minggu (28/4) kemarin. Setelah tim melakukan koordinasi, disepakati operasi akan dilanjutkan Senin (29/4) hari ini. Mengingat kondisi belum memungkinkan dilakukan operasi SAR malam hari di laut.

 

Tak hanya itu, satu korban lainnya tewas tertimpa longsoran material tanah dan batu di wilayah Pertambangan di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Jumat (26/4). Korban bernama Wawan Mokodompit (38), warga Desa Tabang, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu.

 

Korban meninggal tertimbun longsor saat sedang mengambil material di lobang paritan saat hujan deras mengguyur lokasi tersebut. Diduga, material longsor dipicu pengikisan air hujan.

 

Menurut penuturan sejumlah saksi, sekitar pukul 04. 00 Wita, Wawan dan dua rekannya masuk ke lobang paritan untuk mengambilan material. Berselang satu jam di dalam lobang, tiba-tiba material buangan ambruk dan menimbun Wawan bersama dua rekannya. Dua rekannya bisa diselamatkan namun Wawan tak tertolong.

 

“Tanah buangan material longsor jatuh ke bawah dan mengakibatkan Wawan tertimbun tanah,” kata sejumlah saksi.

 

Upaya pencarian dengan menggunakan peralatan seadanya dilakukan saat kejadian. Namun jasad Wawan baru bisa dievakuasi pada pukul 07.00 Wita dan langsung dibawa ke rumahnya di Desa Tabang Kecamatan Kotamobagu Selatan.

 

Pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Bakan memang dikenal rawan dan membahayakan keselamatan. Belum lama ini, di lokasi setempat terjadi longsoran yang menelan korban jiwa hingga puluhan orang.

 

Tak hanya itu, sejak tiga tahun belakangan ini hingga Februari 2019, di lokasi pertambangan tersebut sudah berukang kali menelan korban jiwa. Anehnya, dari rentetan kejadian itu, tak satupun oknum pemilik usaha atau pemilik lahan atau yang dikenal sebagai juragan emasnya yang diproses hukum, oleh Polres Kotamobagu. Padahal aktifitas dari para pekerja tambang emas itu tidak mengantongi izin sama sekali, hingga penggunaan bahan kimia Sianida.

 

 

BANJIR DI MINAHASA, 10 KK DIEVAKUASI

 

Hujan deras juga mengguyur wilayah Minahasa. Dampaknya, banjir menggenangi pemukiman warga di Kelurahan Papakelan, Kecamatan Tondano Timur. Terpantau, pada Minggu (28/4) kemarin, air menggenangi sejumlah pemukiman warga. Dilaporkan ada sebanyak 10 Kepala Keluarga (KK) yang harus dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

 

"Ada sekitar 10 keluarga yang terpaksa diungsikan ke tetangga atau sanak saudara, sebab kondisi tempat tinggal sudah tidak memungkinkan untuk ditempati karena digenangi air hujan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa, Johanis Pesik.

 

Banjir diakibatkan curah hujan tinggi yang memicu terjadinya luapan air dari bantaran sungai, irigasi dan drainase. Namun Pesik memastikan bahwa untuk penanganan bantuan kepada masyarakat korban banjir sudah dilakukan.

"Intinya BPBD Minahasa tetap memantau dan akan turun langsung ke lapangan untuk mengambil tindakan jika sewaktu-waktu diperlukan masyarakat. Semua prosedur akan dilakukan secara cepat," tandasnya.

 

 

PEMERINTAH LAYANGKAN SERUAN KEWASPADAAN

 

Menyikapi kondisi cuaca ekstrim ini, pemerintah angkat bicara. Seruan kewaspadaan dilayangkan. Masyarakat diminta jelih melihat kondisi lingkungan sekitar. Khususnya yang bermukim di lokasi rawan bencana.

Bupati Mitra James Sumendap, menyatakan ungkapan belasungkawa atas kejadian yang menimpa salah satu warganya. "Saya atas nama pribadi bersama keluarga dan Pemkab Mitra turut berbelasungkawa atas kejadian ini dan semoga keluarga diberikan ketabahan, kesabaran dan penghiburan dari Tuhan," ucap Sumendap.

 

Dia pun memintakan warga Mitra untuk dapat mewaspadai intensitas hujan saat ini yang dapat memberikan dampak buruk bagi aktifitas masyarakat. "Yang bermukim di wilayah rawan, seperti perbukitan, bantaran sungai dan pesisir pantai harus senantiasa waspada. BMKG telah memberikan peringatan dini cuaca buruk, jadi tetaplah waspada," himbau Bupati saat melakukan peninjauan dilokasi yang terkenca bencana Wakil Bupati Jocke Legi dan sejumlah pejabat pemkab lainnya.

 

Hal yang sama diungkap Ketua DPRD Mitra Marty Ole. "Warga dimintakan untuk dapat mewaspadai cuaca sekarang ini. Berhati-hati terhadap hujan deras serta dampak yang ditimbulkan seperti banjir, tanah Longsor, pohon tumbang dan jalanan licin di wilayah-wilayah rawan bencana," katanya.

 

Sementara di Minahasa, seruan juga dilayangkan Bupati Ir Royke Oktavian Roring MSi dan Wakil Bupati Robby Dondokambey SSi (RR-RD) dalam menyikapi cuaca buruk yang terjadi. Keduanya langsung menyerukan himbauan kewaspadaan bagi seluruh masyarakat Minahasa. Pesan itu disampaikan melalui akun media sosial facebook Minahasa Command Centre.

 

"Kepada seluruh warga masyarakat Minahasa untuk dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi alam yang sedang ekstrim saat ini, dimana curah hujan yg cukup tinggi. Kiranya kita dapat saling menjaga, mengingatkan dan saling memperhatikan antar sesama dan lingkungan sekitar agar kemungkinan bencana yang setiap saat bisa terjadi dapat diminimalisir bahkan kita hindari," tulis RR-RD dalam postingannya.

 

"Mohon kiranya kita berbagi informasi apabila ada perkembangan situasi yg kurang baik di tengah masyarakat dan di sekitar kita," tulisnya lagi sambil melampirkan nomor seluler Bidang Kedaruratan BPBD Minahasa di 082347773555. (recky/endar/jackson/devy)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting