AMERIKA TAK BERDAYA


Jakarta, MS

Julukan Adidaya bagi Amerika Serikat (AS) luntur. Virus Corona telah memporak-porandakan negeri Paman Sam. Hingga Sabtu (5/4), kasus Covid-19 mencapai 311.635 dengan 8.454 kematian dan 14.825 orang yang sembuh. Prediksi ‘kiamat kecil’ untuk AS bergema.

Situasi yang terjadi di negeri berjulukan super power ini bertolak belakang dengan kondisi sebelumnya. Pemerintahan besutan Presiden Donald Trump awalnya menganggap enteng cepatnya penyebaran Covid-19 di negaranya, bahkan sempat menyebutnya sebagai ‘virus Cina’. Namun belakangan, AS menjadi pusat pandemi terbaru, setelah Cina, Italia dan Spanyol. Korban jiwa terus berjatuhan.

Bahkan, Presiden Donald Trump memperkirakan dua pekan ke depan akan menjadi masa-masa yang berat melawan pandemi virus Corona. Dia menyebut akan terjadi banyak kematian pada dua pekan ke depan. "Ini mungkin akan menjadi minggu terberat pada minggu ini dan minggu depan, sayangnya akan ada banyak kematian," ujar Trump di Gedung Putih, Sabtu (4/4).

Meski begitu, Trump menyebut kematian bisa diminimalkan jika dilakukan langkah mitigasi dan pencegahan. "Kematian akan jauh lebih banyak daripada ini, jika ini (pencegahan) tidak dilakukan, tapi akan ada kematian," ujar Trump.

Sebagai langkah pencegahan, Trump meminta seluruh warganya untuk tetap berada di rumah dan menerapkan jaga jarak. Sebanyak 1.000 tambahan personel medis militer juga akan dikirimkan ke New York yang menjadi episentrum virus Corona di AS.

Selain itu, Presiden Trump merekomendasikan seluruh warga AS harus menggunakan masker ketika ke luar rumah untuk menekan penyebaran virus. Sekitar 330 juta warga AS diminta menggunakan masker non-medis dalam beberapa waktu mendatang. "Ini akan menjadi hal sukarela. Kamu tak harus melakukan itu dan saya memilih untuk tak melakukannya. Tapi beberapa orang mau mengikuti dan itu baik," kata Trump, dikutip dari cnnindonesia.com.

Diketahui, AS melaporkan korban meninggal akibat virus Corona hampir mencapai 1.500 jiwa dalam satu hari sejak Kamis (2/4) hingga Jumat (3/4) waktu AS. Angka tersebut merupakan catatan terburuk secara global sejak pandemi tersebut terjadi. Berdasarkan data Johns Hopkins University, 1.480 orang meninggal pada Kamis pukul 20.30 hingga Jumat waktu serupa. Jumlah itu menambah total kematian akibat Covid-19 di AS menjadi 7.406. Angka ini melewati China, lokasi asal virus Corona. Hal itu memantik tanggapan dari sejumlah ahli, dimana Covid-19 membuat ‘kiamat kecil’ di negeri Paman Sam.

Selain itu, prediksi Cina bahwa AS tak memiliki kesiapan menghadapi serangan Virus Corona nyata-nyata terbukti adanya. Bukti terkuatnya ialah jumlah penderita Corona di AS sudah meledak tinggi. Fakta yang tak kalah mengejutkan lainnya, Amerika juga tak memiliki alat pelindung diri atau APD yang layak pakai. Hal itu diketahui setelah sejumlah pejabat di beberapa wilayah memprotes tentang kondisi masker bantuan pemerintah yang sudah tak layak pakai.

Merujuk data hingga Sabtu (4/4) pagi, jumlah kasus infeksi virus Corona di seluruh dunia mencapai 1.097.810 dan 228.385 pasien dinyatakan sembuh. Sementara itu, berdasarkan data terbaru yang dilaporkan Worldometers, korban meninggal akibat Covid-19 mencapai 59.140 jiwa.

 

EKONOMI AS DIPREDIKSI ANJLOK

Bukan hanya Indonesia, Covid-19 kini menginfeksi negeri Paman Sam. Efek buruk virus Corona di negeri Adidaya itu dipastikan akan memukul sektor perekonomian.

Ekonom Goldman Sachs memprediksi pertumbuhan ekonomi AS sepanjang kuartal I-2020 ini akan menyentuh minus 9 persen dan bakal terus turun hingga 34 persen di kuartal II-2020. Kondisi itu akan membuat lonjakan pengangguran terus terjadi di AS.

Menurut Ekonom di Goldman Sachs puncak pengangguran di AS akan terjadi pada pertengahan tahun ini yaitu naik hingga 15 persen dari angka pengangguran pekan lalu yang sebanyak 3,28 juta orang.

Kepala ekonom Moody’s Analytics juga memprediksi hal serupa. Lonjakan angka pengangguran di AS akan kembali terjadi pekan ini hingga 4,5 juta orang, tertinggi dalam catatan sejarah AS bahkan dunia.

Untuk itu, Presiden AS Donald Trump diminta mempercepat peluncuran stimulus ekonomi yang sudah dijanji-janjikan sebelumnya. Tak hanya itu, stimulus lainnya juga wajib disiapkan dan digelontorkan secara cepat tanggap untuk menyelamatkan masyarakat sekaligus ekonomi AS secara menyeluruh.

Menurut para ekonom di AS, hanya stimulus ekonomi dari pemerintah yang mampu menyelamatkan hidup masyarakat AS saat ini. Lantaran, kondisi separah ini terjadi baru kali ini, dan para ekonom sendiri mengaku tak memiliki buku pedoman yang tepat untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Meski sudah hancur-hancuran sejauh ini, mengutip CNN Business, ekonomi AS dimungkinkan akan kembali pulih memasuki pertengahan tahun atau kuartal III-2020 mendatang dengan kenaikan PDB riil hingga 19 persen. Asal, stimulus yang dijanjikan Trump bisa segera cair dan stimulus tambahan bisa segera dihadirkan.

 

701 RIBU ORANG JADI PENGANGGURAN PADA MARET

Gerak Covid-19 di AS kian mengkhawatirkan. Terkini, bidang tenaga kerja telah merasakan efek negatif dari infeksi Corona itu. AS tak berdaya.

Informasi yang diperoleh, sebanyak 701 ribu orang di AS kehilangan pekerjaan alias terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena pandemi virus Corona. Data itu di luar dari 1,8 juta orang yang dirumahkan karena perlambatan bisnis dan kebijakan social distancing.

Berdasarkan data dari Biro Statistik AS, jumlah 701 orang yang menjadi pengangguran ini merupakan yang terbanyak dalam satu dekade terakhir, sejak September 2010. Maret 2020 lalu juga menjadi bulan terburuk terhadap pekerjaan di Amerika sejak resesi hebat pada Maret 2009 lalu.

Mengutip CNN.com, Minggu (5/4), tingkat pengangguran di AS melonjak hingga 4,4 persen. Angka ini adalah tingkat pengangguran tertinggi sejak Agustus 2017 dan perubahan satu bulan terbesar sejak Januari 1975.

Sebagian besar pengurangan pekerjaan terjadi di restoran dan bar yang membuat 417 ribu orang menganggur. Toko retail juga memecat 46 ribu pekerja. Sebanyak 43 ribu orang yang bekerja di industri kesehatan juga kehilangan pekerjaan mereka karena kunjungan rutin ke klinik dokter dan dokter gigi menurun.

Situasi ekonomi ini diprediksi bakal memburuk pada bulan depan. Pasalnya, angka ini diperoleh dari survei yang dilakukan pada tanggal 12 setiap bulannya. Pada pekan kedua bulan Maret, keputusan penutupan bisnis dan anjuran tetap di rumah berlangsung. Puncak penutupan bisnis terjadi sepekan kemudian. Berbagai sektor diperkirakan terdampak karena situasi ini terutama sektor perhotelan, pariwisata, dan hiburan, dan penerbangan.

"Pekerjaan kerah putih (formal) juga tidak akan aman dari situasi ini," kata ekonom senior Daniel Zhao di situs karier Glassdoor.

Diperkirakan pada Mei, hampir 10 juta orang AS mengajukan tunjangan pengangguran pertama kali. Pemerintah AS akan menentukan siapa saja yang akan mendapatkan tunjangan pengangguran, termasuk pekerja mandiri dan kontraktor independen. Pemerintah AS juga menyiapkan cek stimulus sebesar US$1.200.

Prediksi lain dari St Louis Fed menyatakan pengangguran di AS dapat mencapai 30 persen.

Kepala ekonom Stifel, Lindsey Piegza juga memperkirakan puncak pengangguran mencapai sekitar 30 persen. "Lebih dari 45 juta orang Amerika diperkirakan kehilangan pekerjaan mereka," ucap Piegza.

Sebelumnya, berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja AS disebutkan ekonomi AS memang terguncang akibat penyebaran virus Corona. Pemerintah melakukan survei bisnis dan rumah tangga sebelum dilakukan karantina wilayah yang menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Komisioner Biro Statistik Tenaga Kerja, William Beach mengungkapkan memang proses pengumpulan data untuk laporan ketenagakerjaan juga terdampak oleh virus corona. "Namun kami masih bisa melakukan survei dengan akurat dan andal," kata Beach dikutip dari Reuters, Sabtu (4/4).

Dia mengungkapkan, dari data tersebut juga muncul penurunan pendapatan yang paling signifikan sejak 2009 lalu. Hal ini berasal dari industri hotel dan hiburan, makanan sampai minuman.

Penurunan pendapatan juga terjadi dalam segmen kesehatan, perdagangan ritel hingga konstruksi. Dia menyebut, pada April ini penurunan masih akan terjadi diprediksi hingga 20 juta orang dari pekerjaan yang berbeda.

Kepala ekonomi Naroff Economics Joel Naroff mengungkapkan saat ini yang terlihat hanya gunung es. Di bawahnya justru banyak masalah yang tak terlihat.

Penyebaran Covid-19 memang membuat ekonomi AS morat-marit. Tercermin dari merosotnya saham Wall Street, penguatan dolar AS. Hal ini disebut karena penanganan pemerintahan Trump terhadap kesehatan masyarakat dinilai tak serius pada fase awal.

Padahal sebelumnya, Federal Reserve telah melakukan tindakan untuk membantu perusahaan-perusahaan dalam menangani virus.

 

TRUMP SIAPKAN RP32.800 TRILIUN LAWAN CORONA

Presiden AS Donald Trump tidak main-main melakukan penanganan virus Corona di negara super power. Dia bahkan sudah menandatangani Undang Undang (UU) paket bantuan US$ 2 triliun setara Rp32. 800 triliun (Rp 16.300) untuk selamatkan ekonomi AS yang digerogoti Corona. Negeri Paman Sam mencoba mencegah ekonominya porak-poranda akibat virus tersebut.

DPR AS telah menyetujui paket stimulus yang sebelumnya dirancang oleh Senat, dan diyakini sebagai stimulus terbesar dalam sejarah AS, melalui pemungutan suara yang dilakukan pada Jumat (27/3) lalu.

RUU bantuan yang sudah ditandatangani Trump ini mencakup pemberian bantuan satu kali per orang di AS, memperkuat asuransi pengangguran, tambahan dana perawatan kesehatan dan pinjaman serta hibah kepada bisnis untuk mencegah PHK,

Ketua DPR, Nancy Pelosi menggambarkan RUU itu sebagai upaya menghadapi kehancuran akibat pandemi virus corona dan Kongres akan menyusun lebih banyak rencana untuk hadapi pandemi ini.

Trump mengatakan paket stimulus ini akan sangat menolong keluarga, pekerja, dan pebisnis di AS. "Saya menandatangani satu paket bantuan ekonomi terbesar dalam sejarah Amerika, ini akan memberikan pertolongan yang sangat dibutuhkan bagi keluarga, pekerja, dan bisnis bangsa kita," kata Trump.

Dikutip dari finance.detik.com yang dilansir dari CNBC, para pemimpin kongres mengatakan warga AS akan menerima bantuan langsung hingga US$ 1.200 setara Rp19 juta.(cnn/detik)

 


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting