GORONTALO PSBB, SULUT SEMAKIN AMAN
Manado, MS
Pemerintah pusat resmi menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk Provinsi Gorontalo. Buntutnya, akses tranportasi darat ke sejumlah daerah termasuk Sulawesi Utara (Sulut) akan ditutup sementara. Kondisi itu dinilai membantu upaya memutus mata rantai COVID-19 hingga ke wilayah Nyiur Melambai.
Pemberlakuan PSBB di wilayah pecahan Sulut itu dipastikan akan berdampak positif. Itu karena Gorontalo merupakan provinsi yang berbatasan langsung dengan dua kabupaten ‘milik’ jazirah paling utara Pulau Selebes yakni Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) dan Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Penutupan akses transportasi darat dari Provinsi Gorontalo, akan melengkapi upaya pencegahan penyebaran Corona dari pintu gerbang Sulut khususnya jalur udara di Bandara Samratulangi Manado.
“Justru bagus diterapkan PSBB (Gorontalo), karena akses keluar masyarakat akan sangat ketat dan risiko penularan dari Provinsi Gorontalo ke Kabupaten Bolsel akan berkurang,” terang Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bolsel, dr Sadly Mokodongan, Minggu (3/5) kemarin.
Kekhawatiran Sadly, dinilai sangat beralasan. Sebab, hingga saat ini Kabupaten Bolsel masih aman dari ‘Virus China’ tersebut. “Sampai hari ini Bolsel belum ada yang PDP maupun positif. Semoga ini bisa terus bertahan sampai pendemi ini berakhir,” tuturnya.
Meski di Gorontalo sudah dilakukan PSBB, namun Sadly memastikan, skenario pemeriksaan di perbatasan masih tetap seperti biasa. Bahkan, di pintu masuk Bolsel, petugas medis tetap berjaga dan memeriksa kesehatan masyarakat yang keluar masuk daerah. “Selain dari luar provinsi, kami juga mengawasi ketat warga yang punya riwayat perjalanan dari daerah transmisi lokal,” aku mantan Dirut RSUD.
“Untuk warga yang sering keluar masuk Bolsel (bekerja), diberikan kartu kesehatan dari dari tim gugus tugas. Kalau masuk ke Bolsel, kartu itu yang diperlihatkan kepada tim gugus tugas di pintu masuk daerah. Namun, tetap dilakukan pemeriksaan sebagaimana protokol kesehatan,” tandasnya.
Diketahui, PSBB di Provinsi Gorontao resmi diberlakukan Senin (4/5) hari ini. Perbatasan darat, udara dan laut ditutup selama 14 hari. Begitu juga dengan pasar mingguan di Gorontalo. "Yang paling krusial tadi dibahas adalah masalah pasar, baik pasar harian maupun mingguan. Kita sepakat agar pasar mingguan kita tutup dan kita cari dengan cara lain. Seperti contoh di Kota Gorontalo ada pasar online, harganya lebih murah, cepat dan diantar langsung, yang dipesan sesuai ukuran, bahkan terbungkus dengan baik," jelas Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Minggu (3/5).
Pemprov Gorontalo, kata dia, juga akan menutup akses perbatasan. Salah satu yang akan ditutup, yakni perbatasan dengan Sulut dan Sulawesi Tengah (Sulteng). Namun tetap ada sejumlah kendaraan yang dikecualikan. "Kendaraan yang bisa melintas adalah yang membawa logistik, seperti bahan pokok makanan, BBM, gas, obat-obatan, medis. Mereka bisa masuk, tetapi harus diperiksa. Contoh kendaraan yang mengangkut ayam kita periksa di check point apakah tidak membawa virus. Kalau kendaraan umum kita tahan," jelas Rusli.
Ia menyebut ada 11 titik check point selama penerapan PSBB. Beberapa di antaranya, yakni perbatasan Atinggola-Sulut, Tolinggula-Palele, Molisipat-Parimo, Taludaa-Bolsel, bandara udara, pelabuhan laut dan pelabuhan penyeberangan.
Selama PSBB, Pemprov Gorontalo juga membatasi aktivitas warga. Waktu aktivitas warga dibatasi mulai pukul 06.00-17.00 Wita. "Pada jam-jam begitu (06.00-17.00 Wita) boleh beraktivitas di mana saja. Datang ke bank harus pakai masker. Kalau tidak memakai tidak akan dilayani, karena sesuai protokol kesehatan. Naik kendaraan tidak boleh berboncengan," tutur Rusli.
Rusli menekankan selam tiga hari awal penerapan PSBB belum ada sanksi yang akan diberikan kepada warga yang melanggar. Selama tiga hari awal ini masih sosialisasi aturan PSBB. "Untuk sanksinya akan kita terapkan pada hari keempat PSBB nanti," ujar Rusli.
"Lebih baik tinggal di rumah daripada tinggal di rumah sakit. Maskerku untuk kamu dan maskermu untukku," imbuh Rusli.
CEKAL PENULARAN LEWAT TRANSMISI LOKAL
Penutupan sementara sejumlah akses masuk ke wilayah Sulut, dinilai bakal menghambat gerak wabah COVID-19. Meski begitu, pemerintah juga diingatkan agar bertindak cepat memutus mata rantai melalui transmisi lokal.
“Kan, sudah ada pasien di Sulut yang positif karena diduga terpapar dari pasien lainnya. Mereka itu tanpa riwayat perjalanan luar daerah tapi bisa terkena. Artinya, penularannya sudah mulai terjadi di dalam daerah atau transmisi lokal. Saya berharap itu mendapat perhatian ekstra,” ujar pengamat pemerintahan dan kemasyarakatan Rolly WD Toreh SH, Minggu (4/5) kemarin.
Penutupan akses udara di Bandara Samratulangi dan darat (karena PSBB di Gorontalo), kata dia, menjadi sinyal positif penanganan COVID-19 di Sulut. Hal itu membuat motilitas penyebaran wabah COVID-19, semakin kecil khususnya yang berasal dari luar provinsi. “Jadi, untuk beberapa waktu ini tidak ada pergerakan warga baik masuk maupun keluar dari Sulut ke Gorontalo lewat jalur darat secara signifikan. Mudik juga pasti tidak akan terjadi. Jadi bisa mempersempit penyebaran COVID-19” katanya.
Namun, menurut dia, langkah penelusuran melalui proses tracking di daerah-daerah, harus lebih digiatkan. Khususnya dari pasien yang sudah terkonfirmasi positif. Upaya ini dapat mempercepat penanganan COVID-19, sehingga tidak menyebar secara masif. “Sulut akan lebih fokus lagi. Apalagi dengan adanya laboratorium PCR yang diupayakan pemerintah provinsi, saya kira hasil pemeriksaan akan lebih cepat diketahui. Dengan begitu, proses penanganan akan semakin cepat di Sulut dan kita akan terbebas dari pandemi ini,” harap jebolan Fakultas Hukum, Unsrat Manado itu.
LABORATORIUM PCR SEGERA BERFUNGSI
Percepatan penanganan COVID-19 di bumi Nyiur Melambai, temukan titik terang. Dalam waktu dekat ini, Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) yang berfungsi untuk mendeteksi COVID-19, segera beroperasi. Keberadaan Laboratorium PCR diharapkan meningkatkan kecepatan diagnosa dan kecepatan penentuan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Sulut, sehingga tenaga medis segera memberikan penanganan yang tepat bagi pasien
Hal itu diungkapkan Gubernur Olly Dondokambey saat meninjau kesiapan Laboratorium PCR untuk COVID-19 di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Manado, akhir pekan lalu.
Gubernur Olly didampingi Sekdaprov Edwin Silangen mengatakan, nantinya pemeriksaan sampel berlangsung lebih cepat dari sebelumnya yang dilakukan di Jakarta atau Makassar. “Kita tidak lagi menunggu hasil tes dari Makassar maupun Jakarta. Sebagai contoh kita sudah mengirimkan hampir 200 sampel untuk melihat hasil swab kita, tapi yang turun sampai hari ini baru 72, jadi masih ada 100 lebih yang belum turun hasil dari Jakarta,” aku Olly.
“Ya mudah-mudahan dengan beroperasinya laboratorium milik pemerintah pusat di Sulut yang diperkirakan minggu depan sudah bisa beroperasi ini, kita dapat mendeteksi lebih awal jumlah pasien COVID-19,” sambung Gubernur.
Di samping kesiapan laboratorium, Olly juga optimis jumlah pasien COVID-19 yang sembuh akan terus meningkat. Diketahui hingga Rabu kemarin tercatat dari 44 pasien covid-19 di Sulut, 14 diantaranya telah sembuh. “Nah ini kita harus berdoa terus sehingga bisa cepat sembuh orang-orang yang terdampak covid-19 ini,” ucap Olly.
Selain mengunjungi laboratorium PCR, Gubernur juga meninjau Gedung Paradise Product Promotion Center (P3C) Kairagi yang rencananya bakal digunakan sebagai alternatif rumah singgah bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP). Menurutnya, setiap fasilitas yang disediakan Pemprov Sulut merupakan bentuk kesiapsiagaan dan antisipasi dalam penanganan COVID-19. “Banyak yang kita akan persiapkan. Ya mudah-mudahan persiapan-persiapan kita ini tidak digunakan, tetapi sebagai manusia pemerintah harus mempersiapkan ibarat hujan, sediakan payung sebelum hujan, jadi tugas pemerintah itu semua dilakukan,” lugasnya.
POSITIF TETAP 45, 17 SEMBUH
Gugus Tugas COVID-19 intens melaporkan perkembangan terkini kasus COVID-19 di Sulut. Data hingga Minggu (3/5), pasien positif COVID-19 masih konstan di angka 45. Sementara itu, total PDP yakni 87 dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) 135.
Itu disampaikan Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas COVID-19 Sulut dr Steaven Dandel, pada jumpa pers melalui video conference, Minggu (3/5). “Untuk total kasus positif 45 rinciannya, 24 sementara dirawat, 17 sembuh dan 4 meninggal,” terang Dandel.
Terkait kasus PDP yang meninggal, Dandel mengatakan, mengalami penambahan. Terdapat 7 pasien tercatat sudah meninggal. “Sejak hari Sabtu 2 Mei lalu, sudah 7 PDP yang meninggal. Asal Manado 4 dan asal Minahasa Selatan (Minsel) 1. PDP yang meninggal pertama yakni wanita 52 tahun asal Manado. Kedua, wanita 74 tahun asal Manado. Ketiga, pria 46 tahun asal Manado dan keempat, wanita 62 tahun asal Minsel," ungkapnya.
Lanjut dia, untuk pertama kali, RS Adven Teling melaporkan kematian PDP seorang pria asal Minahasa Utara (Minut). "Kabupaten Minut juga, kami mendapat laporan ada seorang wanita umur 84 tahun, meninggal," paparnya.
Dia menambahkan, satu pasien asal Tomohon meninggal dalam perawatan di RSUD Sam Ratulangi Tondano. “PDP asal Tomohon ini, pria 64 tahun, dimana hasil laboratoriumnya sudah negatif sehingga sudah di discard,” lugas Dandel.(detik/sonny dinar)











































Komentar