COVID-19 MASIH ‘MENGGILA’ DI INDONESIA, SULUT 18 KASUS
Jakarta, MS
Prediksi puncak pandemi Covid-19 di Indonesia akan berlangsung hingga Juni 2020, terjawab. Faktanya, penambahan kasus wabah Corona kembali melejit tajam. Tak tanggung-tanggung, tambahan kasus virus yang berasal dari Wuhan Cina itu tembus angka 1.043 orang.
Alhasil, jumlah itu menjadi rekor penambahan kasus baru tertinggi di nusantara. Total kasus Virus Corona di Indonesia pun menjadi 33.076 orang. Dengan rincian, 11.414 orang sembuh, 1.923 meninggal dunia dan 19.739 tengah dalam perawatan.
Data teranyar kasus Corona di Indonesia itu diungkap juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, dr Achmad Yurianto, saat konferensi pers di akun YouTube BNPB, Selasa (9/6) kemarin. Tak hanya penambahan kasus baru virus corona yang tertinggi, tapi juga pemeriksaan spesimen sampel juga cetak rekor puncak, dengan total 16.181 spesimen.
"Kita telah melakukan pemeriksaan sebanyak 16.181 spesimen. Dari hasil ini kita dapatkan jumlah konfirmasi Covid-19 yang positif sebanyak 1.043," beber Yuri.
Sebaran kasus positif disebut tidak merata di seluruh Indonesia. Adapun, penambahan terbesar hari ini terjadi di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 232 kasus baru.
"Tentunya, jumlah ini sebarannya tidak merata di seluruh Indonesia. Sebagai contoh, sebaran terbanyak yang kita dapatkan hari ini (ekemarin, red) adalah di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 232 kasus baru, namun juga bersamaan dengan itu hari ini (kemarin, red) dilaporkan 165 orang dinyatakan sembuh,” ungkapnya.
“Disusul Jawa Timur sebanyak 220 kasus baru dengan 85 sembuh. Kemudian Sulawesi Selatan 180 kasus dan 31 kasus sembuh. Kalimantan Selatan hari ini melaporkan kasus baru sebanyak 91 orang dan 1 sembuh," sambungnya.
Dalam kesempatan itu, Yuri sempat menyebut Sulawesi Utara (Sulut) masuk provinsi dengan penambahan kasus Corona yang cukup tinggi, dengan tambahan 41 kasus. “Sulawesi Utara 41 orang dan tidak ada laporan hari ini sembuh,” tambahnya. Namun, Gugus Tugas Covid-19 Pemprov Sulut telah mengklarifikasi bahwa data tambahan positif Corona di Sulut hanya 18 kasus.
Lanjut Yuri, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di 422 kabupaten kota terdampak di 34 provinsi sebanyak 38.394 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 14.108 orang. Sedangkan total spesimen yang diperiksa sebanyak 429.161 spesimen.
“Dari total 429.161 spesimen yang diperiksa, 33.076 orang terkonfirmasi positif Covid-19, 11.414 orang diantaranya sembuh, 1.923 meninggal dunia dan 19.739 tengah dalam perawatan,” ungkapnya.
Penularan virus Corona disebut masih terjadi. Artinya, di tengah-tengah masyarakat, masih didapati kasus positif tanpa gejala yang menjadi sumber penularan di tengah-tengah masyarakat. “Kemudian masih ada perilaku masyarakat yang rentan tertular sehingga kemudian menjadi tertular. Inilah yang menjadi catatan-catatan kita yang bersama-sama. Semestinya ini harus kita atasi dengan segera,” papar Yuri.
Masyarakat pun diharapkan untuk tetap mengikuti informasi yang benar tentang COVID-19 ini, baik di covid19.go.id, kemudian di hotline 119 extension 9 ada akun media sosial di @lawancovid19 halo kemkes dan beberapa aplikasi online lainnya yang telah disiapkan oleh pemerintah. “Mari kita perkuat komitmen bahwa kita harus aman dan produktif. Oleh karena itu, hanya satu yang harus dilakukan yakni jalankan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya,” imbuhnya.
Diketahui sejumlah ilmuwan sempat memprediksi puncak pandemi virus Corona di Indonesia akan terjadi Mei hingga Juli. Angka positif Corona bisa mencapai 106 ribu kasus. Hal itu disampaikan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam video akun YouTube resmi Sekretariat Presiden, pada 17 April 2020 lalu.
"Prediksi kasus biasa dikerjakan oleh para pakar yang berasal dari banyak kelompok, institusi ilmiah, dan perorangan. Dan kami mengulas semuanya dan menggabungkan semua prediksi tersebut," kata Wiku.
Pemerintah mendapatkan prediksi ini dari para pakar berbagai bidang. Lantas Wiku menyebut puncak wabah Corona di Indonesia bakal dimulai pada Mei 2020, berlangsung hingga dua bulan kemudian.
"Dan kami mempercayai bahwa puncak pandemi ini di Indonesia akan dimulai pada awal Mei dan akan terus berlangsung sekitar awal Juni," tutur Wiku menggunakan bahasa Inggris.
Dia menyebut angka kumulatif kasus positif COVID-19 pada puncak wabah bakal mencapai 95 ribu kasus. Namun kemudian, dia juga menyebut angka yang lebih dari 95 ribu kasus diprediksi terjadi pada Juni atau Juli.
"Angka kasus selama puncak secara kumulatif adalah 95 ribu kasus. Sedangkan selama Juni dan Juli, kasus terkonfirmasi secara kumulatif akan mencapai 106 ribu kasus," tutur Wiku.
Namun, dia mengingatkan, prediksi ilmiah mungkin tidak persis dengan kenyataan yang akan terjadi. Sebab Pemerintah terus berusaha sekuat tenaga untuk menghindari puncak Corona.
PROTOKOL KESEHATAN TERUS DIGAUNGKAN
New Normal atau kenormalan baru telah diterapkan di sejumlah daerah yang dianggap telah aman dari penyebaran Virus Corona. Setidaknya ada 102 daerah yang telah diizinkan pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 untuk menerapkan new normal.
Termasuk dua daerah di Sulut, yakni Kabupaten Sitaro dan Bolaang Mongondow Timur. Pun begitu, protokol Kesehatan Covid-19 tetap wajib diberlakukan. Imbauan itu terus digaungkan pemerintah, baik di daerah yang telah memberlakukan new normal, teristimewa di wilayah yang masuk zona merah.
Menariknya, pesan kesehatan pemerintah yang biasanya disampaikan oleh dr Achmad Yurianto, kali ini diutarakan dr Reisa Broto Asmoro. Srikandi yang masuk Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19, Kembali menekankan soal pemakaian masker saat beraktivitas di luar. Masyarakat pun disarankan untuk membawa lebih dari satu masker.
"Penggunaan masker ketika di ruang publik telah banyak direkomendasikan. Pada awalnya, masker hanya disarankan pada orang yang sakit atau merasa sakit. Tetapi, dengan semakin berkembangnya penelitian terkait Covid-19 maka kita semakin mengerti bahwa ternyata semua orang yang beraktivitas di luar rumah sangat disarankan untuk menggunakan masker. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu orang ke orang lainnya," kata Reisa.
"Penggunaan masker disarankan maksimal 4 jam dan harus diganti dengan yang baru atau yang bersih. Oleh karena itu, masyarakat disarankan membawa beberapa buah masker ketika harus pergi ke luar rumah ketika beraktivitas," lanjut jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan dan Universitas Indonesia dalam konferensi pers di akun YouTube BNPB, Selasa (9/6) kemarin
Dalam masa adaptasi kebiasaan baru ini masyarakat diajak untuk membudayakan memakai masker di tempat umum, kantor, pasar, sarana transportasi dan ruang publik lainnya. “Itu untuk memastikan kita aman dari COVID-19 sekaligus tetap bisa produktif berkarya. Menjaga kelangsungan rumah tangga dan keluarga dan bermasyarakat, meningkatkan kegiatan gotong-royong dan solidaritas kita dalam bersama melawan COVID-19,” ajak Puteri Indonesia Lingkungan 2010.
“Lakukan hal ini dengan disiplin, lindungi diri, lindungi orang lain. Pastikan kita, keluarga, tetangga, kerabat dan kawan aman dari COVID-19 dan tetap produktif membangun bangsa.,” sambungnya lagi.
Pun begitu, dalam konteks pandemi Covid-19 walau semua orang menggunakan masker tetapi tetap harus menghindari kerumunan dan tempat ramai, menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan handwrap berbasis alkohol serta mengikuti protokol Kesehatan lainnya. “Saya yakin, kita pasti bisa mengalahkan Covid-19 dan melewati pandemic asalkan kita semua disiplin mengikuti protokol kesehatan. Saya percaya sekali kepada kemampuan kita Bersama,” pungkasnya.
PEMPROV SULUT KLARIFIKASI DATA PEMERINTAH PUSAT
Gugus Tugas Covid-19 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) mengklarifikasi kasus terbaru perkembangan virus Corona yang dirilis pemerintah pusat. Itu menyusul data yang disampaikan Gugus Tugas pusat berbeda dengan data gugus tugas Pemprov Sulut.
Dalam data yang dirilis gugus tugas pusat Selasa (9/6) kemarin, menyebut Sulut ketambahan 41 kasus baru dan tak ada tambahan pasien Corona yang sembuh. Sementara data di gugus tugas provinsi, Sulut hanya ketambahan 18 kasus positif Covid-19 dan ada 7 pasien sembuh.
“Jadi yang bisa kita dilaporkan di Sulut hanya 18 kasus baru (Covid-19, red). Jadi total kasus positif Covid-19 di Sulut secara akumulasi sebanyak 527 kasus,” ungkap Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Sulut Bidang Epidomologi dr Steaven Dandel, Selasa kemarin.
Dijelaskan Dandel, ada kekeliruan pada sistem di gugus tugas pusat yang memasukkan 23 pasien positif baru dari Provinsi Maluku Utara (Malut) ke Provinsi Sulut. Padahal ke-23 pasien positif itu merupakan dari karyawan perusahaan tambang di Malut.
Namun perusahaan tambang itu disebut menyewa jasa dari salah satu rumah sakit swasta di Sulut untuk mengambil swab sekitar 100 karyawannya di Malut. Dan setelah diuji di laboratorium rumah sakit swasta tersebut, ternyata ada 23 karyawannya yang positif Covid-19.
“Jadi ada perusahaan tambang di Provinsi Malut yang meminta agar diperiksa oleh RS swasta Sulut. Ada sekitar 100 pekerja yang diperiksa, dan hasilnya dilaporkan dari Sulut. Mengenai hal ini kami sudah melakukan koreksi, ke tim Gugus Tugas pusat,” terang Dandel yang didampingi Juru Bicara Bidang Kebijakan Dr Jemmy Kumendong.
“Sekali lagi kami tegaskan, ke- 23 karyawan perusahaan yang positif Covid-19 itu tidak berada di Sulut tetapi berada di Malut. Mereka juga diambil swab disana (Malut, red). Jadi ada kekeliruan yang sudah kami klarifikasi, jika ke-23 pasien itu bukan dari Sulut," tegasnya lagi.
Khusus untuk 18 kasus baru di Sulut disebut berasal dari PDP 9 kasus, lalu 6 kasus ditemukan dari hasil screening rapid test reaktif dan 3 akibat kontak erat resiko tinggi (KERT) dengan kasus positif sebelumnya.
Sementara jumlah pasien yang sembuh bertambah 7 dan yang meninggal bertambah 3. Sedangkan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 213 dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) 151. “Jadi total positif Covid-19 di Sulut berjumlah 527 kasus. Dengan rincian, dirawat 396, sembuh 81 orang dan meninggal 50 orang,” kuncinya.(sonny dinnar/dtc/kcm)
Data 18 Kasus baru Covid-19 di Sulut
1. Kasus 510: jenis Laki-Laki, umur 67 tahun, dari Malut, berobat di Manado. Kemudia dinyatakan positif.
2. Kasus 511: jenis kelamin Laki-Laki, umur 40 tahun asal Manado, naik status dari PDP, meninggal dunia 7 Juni.
3. Kasus 512: Balita umur 5 bulan, asal Manado, dari PDP, meninggal dunia 8 Juni.
4. Kasus 513: jenis kelamin Perempuan, umur 41 tahun, asal Manado, naik status dari PDP, meninggal dunia.
5. Kasus 514: jenis kelamin Laki-Laki, umur 60 tahun, asal Manado, naik status dari PDP.
6. Kasus 515: jenis kelamin Perempuan, umur 72 tahun, asal Manado, KERT 504.
7. Kasus 516: jenis kelamin Laki-Laki, umur 42 tahun asal Manado, hasil screening.
8. Kasus 517: jenis kelamin Perempuan, umur 38 tahun, asal Manado, Klaster Pasar Pinasungkulan.
9 Kasus 518: jenis kelamin Laki-Laki, umur 73 tahun, asal Manado, Klaster Pasar Pinasungkulan.
10. Kasus 519: jenis kelamin Laki-Laki, umur 25 tahun, asal Manado, hasil screening.
11. Kasus 520: jenis kelamin Laki-Laki, umur 22 tahun, asal Bolaang Mongondow, hasil screening.
12. Kasus 521: jenis kelamin Laki-Laki, umur 58 tahun, asal Manado, naik status dari PDP.
13. Kasus 522: jenis kelamin Laki-Laki, umur 48 tahun, asal Manado, naik status dari PDP.
14. Kasus 523: jenis kelamin, Laki-Laki, umur 56 tahun, asal Tomohon, KERT 121.
15. Kasus 524: jenis kelamin Perempuan, umur 56 tahun, asal Minahasa, hasil screening.
16. Kasus 525: jenis kelamin Perempuan, umur 64 tahun, asal Tomohon, naik status dari PDP.
17. Kasus 52: jenis kelamin Laki-Laki, umur 34 tahun, asal Manado, naik status dari PDP.
18. Kasus 527, jenis kelamin Laki-Laki, umur 26 tahun, asal Manado, hasil screening.
Sumber: Gugus Tugas Covid-19 Sulut











































Komentar