GELIAT COVID-19, NEW NORMAL ‘TERANCAM’
Jakarta, MS
Wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian menggila. Peningkatan kasus signifikan terjadi di dua hari terakhir. Data hingga Rabu (10/6) kemarin, positif Corona telah menembus 34.316 kasus.
Ledakan kasus positif Corona itu di tengah upaya pemerintah menggenjot ‘program’ New Normal hingga ke berbagai penjuru negeri. Kesiapan menjalankan era kenormalan baru itu dinilai terusik.
Sikap tegas akhirnya didendangkan orang nomor satu di tanah air. Bila terdapat lonjakan kasus baru virus Corona, pemerintah akan melakukan pengetatan atau penutupan kembali tempat umum.
"Keberhasilan pengendalian Covid ini sangat ditentukan kedisiplinan dan protokol kesehatan. Perlu saya ingatkan, jika dalam perkembangan ditemukan kenaikan kasus baru, kenaikan kasus, maka langsung akan kita lakukan pengetatan atau penutupan kembali," ujar Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disiarkan di saluran YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (10/6).
Presiden Jokowi mengingatkan ancaman virus Corona masih ada. Dengan demikian, tugas besar belum usai. Jokowi meminta agar tidak terjadi gelombang dua virus COVID-19. Namun hal itu bukan berarti bangsa Indonesia menyerah. "Saya ingatkan, bahwa tugas besar kita belum berakhir. Ancaman Covid masih ada, kondisi masih dinamis, ada daerah yang kasus barunya turun, tapi juga ada daerah yang kasus barunya meningkat. Ada daerah yang sudah nihil. Dan perlu saya ingatkan, jangan sampai terjadi gelombang kedua, second wave," tandas Jokowi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak ingin adanya lonjakan kasus virus Corona. Situasi pandemi virus Corona masih terus dihadapi sampai ditemukannya vaksin. "Jangan sampai terjadi lonjakan. Ini yang ingin saya ingatkan kepada kita semuanya. dan situasi seperti ini akan kita hadapi terus sampai vaksin bisa ditemukan," ujarnya.
Pun begitu, Presiden meminta masyarakat beradaptasi dengan situasi ini. "Dan bisa kita pergunakan secara efektif, karena kalau vaksin ketemu harus ada uji klinis, uji lapangan, kemudian masih harus diproduksi yang memerlukan waktu. Oleh sebab itu, kita harus beradaptasi dengan Covid," harapnya.
Untuk diketahui, rekor penambahan signifikasi kasus COVID-19 di Indonesia terjadi pada Selasa (9/6). Pemerintah menyampaikan penambahan kasus positif sebanyak 1.043 kasus. Dalam tempo 24 jam atau pada Rabu (10/6), kembali bertambah 1.241 kasus baru. Dengan demikian, berdasarkan data yang masuk hingga Rabu pukul 12.00 WIB, total ada 34.316 kasus COVID-19 di Indonesia.
"Kasus positif COVID-19 yang kami konfirmasi ada sebanyak 1.241, sehingga totalnya 34.316 kasus," ujar Juru Bicara Pemerintah Percepatan Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto di Graha BNPB.
Alasan meningkatnya jumlah kasus positif COVID-19 dua hari terakhir, kata Yurianto, karena tracing yang agresif oleh pemerintah. Dia menjelaskan, sebagian besar penambahan kasus hari ini berdasarkan spesimen yang dikirim oleh puskesmas atau dinas kesehatan. Tidak didominasi oleh spesimen yang dikirim oleh rumah sakit. "Ini adalah bukti bahwa memang tracing yang agresif akan bisa menangkap begitu banyak kasus positif dan sudah barang tentu kita akan menginginkan kasus ini kemudian melakukan isolasi dengan sebaik baiknya secara mandiri agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang lain," sebut Yuri.
Yurianto mengungkapkan ada beberapa daerah yang mengalami peningkatan kasus positif corona hari ini. Seperti Kalsel 127 orang, Jawa Barat 139 orang, DKI Jakarta 157 orang, Sulsel 189 orang dan terbanyak dari Jawa Timur, ada 273 orang. Untuk kasus positif corona komulatif, DKI Jakarta 8.503 orang, Jawa Timur 6,806 orang, Jawa Barat 2.506 orang dan Sulawesi Selatan 2.383 orang.
PERSIAPKAN NEW NORMAL, JOKOWI MINTA PEMDA HATI-HATI
New normal menjadi opsi populer yang berdenyut saat ini. Pemerintah daerah (pemda) mulai berlomba-lomba mempersiapkan era atau tatanan baru itu. Meski di tengah pandemi COVID-19 yang belum meredup.
Presiden Jokowi berharap pemda untuk hati-hati dalam mempersiapkan kondisi menuju new normal. Jokowi meminta harus ada tahapan-tahapan yang dilakukan secara ketat. "Pembukaan sebuah daerah menuju sebuah tatanan baru, masyarakat yang produktif dan aman COVID perlu saya ingatkan harus melalui tahapan-tahapan yang ketat, harus melalui tahapan tahapan yang hati-hati," kata Jokowi di kantor Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Jakarta, kemarin.
Menurut dia, tahapan-tahapan itu harus dilakukan sebaik mungkin. Jika tidak dikhawatirkan akan terjadi kenaikan kasus di daerah tersebut. "Jangan sampai ada kesalahan kita memutuskan, sehingga terjadi kenaikan kasus di sebuah daerah, karena tahapan-tahapan tidak kita kerjakan secara baik," ujarnya.
Bagi Jokowi, tahapan ini perlu sosialisasi secara masif terkait protokol kesehatan. Maka, menurutnya, masyarakat paham dan terbiasa melakukannya. "Yang pertama perlu saya ingatkan, perlunya prakondisi yang ketat, ini yang paling penting, sosialisasi pada masyarakat jelas masif, sehingga bagaimana penggunaan masker, mengenai jaga jarak, mengenai cuci tangan, mengenai jangan masuk kerumunan, keramaian yang terlalu padat. Saya kira kalau ini terus disampaikan kepada masyarakat, diikuti dengan simulasi yang baik sehingga saat kita masuk ke dalam tatanan normal baru, kedisiplinan warga itu sudah betul-betul soap dan ini lah prakondisi yang kita siapkan," imbaunya.
Presiden dua periode itu mengaku telah memerintahkan TNI-Polri untuk turun ke tempat keramaian untuk terus memantau langsung penerapan protokol kesehatan. "Sehingga disiplin pakai masker, jaga jarak aman, sering cuci tangan, hindari kerumunan, tingkatkan imunitas saya kira terus harus kita sampaikan kepada masyarakat. Saya juga sudah perintahkan kepada Panglima TNI-Kapolri untuk menghadirkan aparat di titik keramaian di daerah untuk mengingatkan warga agar disiplin, mengingatkan warga agar mematuhi protokol kesehatan," tuturnya.
Selanjutnya, menurut Jokowi, koordinasikan penentuan waktu pelonggaran menuju new normal dengan Gugus Tugas COVID-19.
“Dalam penentuan waktu pelonggaran menuju new normal harus dikoordinasikan dengan gugus tugas COVID-19. Perlu ada pertimbangan mulai dari data dan perkembangan potensi penularan. Data itu tercatat semua di Gugus Tugas,” tandasnya.
“Kedua berkaitan dengan penentuan waktu, itu penting sekali, kapan timing-nya itu penting sekali, kalkulasinya, hitungannya, berdasarkan fakta dan data lapangan yang ada, jadi saya ingatkan juga kepada daerah apabila sudah ingin memutuskan masuk ke norma baru bicarakan dulu dengan gugus tugas. Datanya seperti apa, pergerakannya seperti apa, fakta-faktanya seperti apa karena data di sini saya lihat ada semua, jadi lihat perkembangan data epidemologi terutama angka R0 dan RT," sambung Jokowi.
Terkait kesiapan daerah menuju new normal, Jokowi kembali mengingatkan kepada daerah untuk mempersiapkan secara matang terkait pelacakan, pengujian hingga fasilitas kesehatan. "Kemudian hitung kesiapan daerah, ini yang berkali-kali saya sampaikan, pengujian yg masif, pelacakan yang agresif, kesiapan fasilitas kesehatan yang ada, ini benar-benar semuanya harus kita itu dan harus kita pastikan," tutur Jokowi
Ketiga prioritas, katanya, tidak semua langsung dibuka. Sektor dan aktivitas apa yang dimulai dibuka. Itu pun secara bertahap, tidak melakukan langsung dibuka 100 persen, beberapa daerah bisa melakukan, dibuka dulu 50 persen. “Saya kira contoh-contoh beberapa daerah yang sudah melakukan akan kita evaluasi, dan sangat bagus sebagai contoh kemarin persiapan dalam pembukaan tempat ibadah dengan protokol kesehatan bagus,” sebut Jokowi.
"Terus sektor ekonomi, sektor dengan penularan COVID yang rendah tapi memiliki dampak ekonomi yang tinggi itu didahulukan, dan terutama sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan industri manufaktur, sektor konstruksi logistik, transportasi barang, sektor pertambangan, perminyakan, saya kira ini sudah disampaikan ketua gugus tugas agar menjadi catatan kita semua," kuncinya.
JANGAN LENGAH
Ancaman Covid-19 masih ada. Untuk itu, daerah diminta mewaspadai lonjakan kasus virus Corona meski adanya penurunan kasus di sejumlah wilayah.
"Evaluasi secara rutin. Sekali lagi, meskipun sebuah daerah kasus barunya sudah menurun. Hati-hati, jangan sampai lengah, karena di lapangan itu masih sangat dinamis," terang Presiden Jokowi.
Berdasarkan data per hari Selasa (9/6), terdapat 7 provinsi yang nihil pertambahan kasus virus Corona. Jokowi menambahkan, keberhasilan pengendalian virus Corona adalah kedisiplinan serta penerapan protokol kesehatan. Protokol kesehatan yang dimaksud antara lain mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik, menjaga jarak minimal 2 meter, tidak berkerumun, memakai masker, serta membawa penyanitasi tangan. "Keberhasilan pengendalian COVID ini sangat ditentukan kedisiplinan dan protokol kesehatan," pesan Jokowi.(detik/merdeka)











































Komentar