PRABOWO UNGGUL SURVEI, ANIES-AHY MERAPAT


Jakarta, MS

Percaturan politik di panggung pemilihan presiden (pilpres) 2024 telah dimulai. Sederet figur kian memantapkan langkah. Lobi-lobi yang dikemas dalam safari politik pun gencar dilakukan.

Meski masih lama, peta pertarungan pilpres 2024 mulai ditakar. Di atas kertas, sosok Prabowo Subianto boleh dibilang unggul. Sejumlah survei menempatkan Menteri Pertahanan RI itu di deretan paling atas. Sejumlah figur juga muncul di daftar persaingan. Salah satunya Anies Baswedan.

Survei Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menempatkan Gubernur DKI Jakarta itu di urutan dua setelah Prabowo. Data survei ini menunjukkan elektabilitas keduanya saling kejar-kejaran dengan persentase 16,4 persen dan 12,8 persen.

Tak heran, Prabowo dan Anies pun kerap jadi bahan pergunjingan publik akhir-akhir ini. Keduanya diprediksi bakal bersaing ketat di arena pilpres tiga tahun mendatang. Anies juga dinilai mulai melakukan manuver untuk mendongkrak elektabilitas. Pertemuannya dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Balai Kota, Kamis (6/5), memperkuat penilaian tersebut.

Sebelumnya, banyak pengamat telah memprediksikan jika skenarionya Pilpres 2024 diikuti oleh 2 pasangan Capres, besar kemungkinan yang akan maju adalah Prabowo -Puan dan Anies-AHY. Pandangan itu disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Studies (Indostrategic), A Khoirul Umam.

Namun, kata dia, jika UU Pemilu tidak direvisi dan presidential threshold tetap dipatok di angka 20% dan 25 % gabungan partai politik, dia berpendapat ada potensi terbentuk 3 koalisi pasangan Capres-Cawapres di Pilpres 2024 mendatang.

"Tapi problemnya, banyak partai politik papan tengah yang cenderung bersikap pragmatis, asal menang, dan tidak memiliki tokoh publik yang marketable, maka mereka cenderung mengekor ke partai-partai besar," katanya.

 

GERINDRA GETOL DORONG PRABOWO

Berada di atas angin, Prabowo belum tentukan sikap di pilpres 2024. Namun mayoritas kubu Partai Gerindra terus mendorong ketua umumnya untuk kembali maju bertarung.

"Secara internal kami pasti akan segera mengambil keputusan politik bahwa capres yang diajukan oleh Partai Gerindra di 2024 adalah Prabowo Subianto, itu soal waktu saja," ujar Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (6/5).

"Internal Gerindra secara bulat dalam Rapimnas dalam DPC, saya kalau keliling dari ranting ke kecamatan se-Indonesia pengurus DPD se-Indonesia dan kita semua anggota DPR RI tetap ingin beliau maju,” katanya lagi.

Dorongan tersebut hadir berdasarkan data yang dimiliki Partai Gerindra, menunjukkan, Prabowo masih berpotensi di Pilpres 2024. Di samping itu, elektabilitas Prabowo masih sangat tinggi di kalangan masyarakat umum. "Hasilnya tentu berbeda dan survei sebelumnya, yang kami baca dari LSI berbeda kan nomor satu. Jadi karena LSI survei lebih jamak, umum," ujar Muzani.

Ia menjelaskan, Partai Gerindra sampai saat ini belum mengambil sikap untuk Pilpres 2024 karena Prabowo disebut ingin fokus dalam tugasnya sebagai Menteri Pertahanan. Meski begitu, ia yakin Prabowo akan mengeluarkan keputusan pada waktu yang tepat.

"Mungkin pada yang tepat beliau akan memberikan kepastian itu kepada kami, bila beliau sudah memberikan kepastian kepada kami tentang hal itu (Pilpres 2024)," ujar Muzani.

Nama Prabowo sendiri kian melejit setelah sejumlah lembaga survei menempatkannya di urutan pertama survei elektabilitas. Ketua Umum Partai Gerindra itu unggul di angka keterpilihan 16,4 persen, sebagai tokoh yang paling banyak akan dipilih pada 2024. Di bawah Prabowo, Anies menempel dengan angka 12,8 persen, Ganjar Pranowo di urutan ketiga 9,6 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 8,8 persen, dan Ridwan Kamil 7,5 persen.

"Alasan utama memilih tokoh sebagai calon presiden antara lain berpengalaman dalam pemerintahan, merakyat, cerdas solutif, berwibawa dan tegas," demikian dikutip dalam rilis LP3ES, Kamis (6/5).

Tak hanya LP3ES, banyak lembaga survei lainnya yang ikut menjagokan Prabowo didaftar capres, diantaranya Y-Publica dan SMRC.

 

 

ANIES-AHY KIAN LENGKET

Prediksi banyak pengamat yang menyandingkan Anis-AHY di pilpres 2024 kans jadi kenyataan. Hubungan keduanya terlihat semakin akrab akhir-akhir ini. Terlebih saat pertemuan mereka di Balai Kota, kemarin.

Meski begitu, AHY menepis jika pertemuannya dengan Anis membahas soal pilpres 2024. AHY mengaku kedatangannya hanya untuk keperluan silaturahmi sebagai teman diskusi sekaligus orang yang sempat berkompetisi dengan Anies. Baik Anies maupun dirinya, kata AHY, saat ini adalah orang yang tengah diberi amanah.

"Belum, kita tidak berbicara ke sana ya (2024), kita ini sama-sama sedang menjalankan amanah, beliau mendapatkan amanah warga Jakarta menjadi gubernur selama lima tahun," kata AHY usai pertemuan.

Dia menegaskan, pertemuan tak membahas politik praktis yang terlalu jauh. Pertemuan menurut dia hanya membahas kondisi terkini terkait situasi nasional di tengah penanganan pandemi Covid-19.

Dalam situasi itu, katanya, bukan saja pemerintah yang harus turun tangan, tapi juga partai politik. Putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono itu sekaligus mengutarakan rasa rindunya bertemu Anies sebagai teman diskusi.

Saat ditanya kawan diskusi sebagai kawan atau lawan, keduanya hanya tertawa. Ia mengaku mengapresiasi semua kerja-keras Anies selama memimpin DKI Jakarta. "Sudah rindu juga temu kangen dengan Mas Anies ini yang juga adalah sahabat diskusi sejak dulu, dan kami apresiasi segala kerja yang dikerjakan oleh Pak Anies baswedan sebagai Gubernur Jakarta," katanya.

Berdasarkan survei LP3ES, nama Anies Baswedan berusaha mengungguli Prabowo Subianto yang berada di urutan pertama dalam hasil survei tentang lima tokoh paling banyak akan dipilih pada Pilpres 2024. Dalam hasil surveinya, LP3ES menyebut mayoritas atau 70 persen masyarakat mendukung regenerasi pimpinan politik bagi tokoh muda dalam partai.

 

PILPRES 2024 KANS TIGA POROS

Kontestasi Pilpres 2021 memang masih jauh. Namun peta kekuatan sederet figur mulai ditakar. Fenomena saling mengunjungi antar elite partai politik sudah mulai nampak sejak awal tahun ini. Bukan hanya di kalangan elite parpol yang tergabung dalam koalisi pemerintah saja, parpol di luar pemerintah pun mulai melakukan silaturahmi lintas parpol. Pertemuan itu banyak dimaknai sebagai penjajakan koalisi untuk pilpres mendatang.

Terkait fenomena itu, Analis Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, Jakarta, Hendri Satrio berpandangan, koalisi yang terbentuk pada hari ini tidak bisa menggambarkan koalisi yang akan terjadi di 2024 mendatang. "Menurut saya, koalisi yang terjadi hari ini tidak akan bisa menggambarkan koalisi di 2024," kata pria yang akrab disapa Hensat itu.

Sehingga, menurut dia, semua parpol baik yang menjadi pendukung pemerintah maupun di luar pemerintahan bebas memilih kawan koalisinya di 2024 mendatang. "Misalnya, tiga partai besar, PDIP, Gerindra dan Golkar itu saya rasa bebas juga memilih parpol yang akan dijadikan koalisi mana aja. Sementara partai-partai seperti Demokrat, PKS, menurut saya masih banyak opsi kira-kira akan seperti apa," urainya.

Namun demikian, Direktur Eksekutif KedaiKOPI ini memprediksi, jumlah koalisi yang akan terbentuk di 2024 mendatang maksimal hanya 3 poros. "Tapi menurut saya koalisi yang akan terjadi paling banyak tiga koalisi," ujar Hensat.

Kemudian, sambung dia, koalisi parpol ini bentuknya masih sama seperti pilpres di tahun sebelumnya. Dan sangat berkaitan erat dengan siapa yang akan menjadi calon kuat di Pilpres 2024 mendatang. "Jadi koalisinya akan sangat dekat dengan siapa kira-kira akan didorong sebagai calon presiden dan wakil presiden," ungkapnya.

Sementara pengamat komunikasi publik Sony Subrata memiliki pandangan tersendiri menjelang kontestasi di 2024 nanti. Berkacamata dari gelaran Pilpres 2019, dia memprediksi siapa yang bisa menguasai pertarungan digital kemungkinan besar akan menjadi pemenang di 2024. Dia mencontohkan gelaran pilpres 2019. Keberhasilan Jokowi-Ma’ruf Amin dinilai merupakan kerja keras seluruh komponen dalam Tim Kampanye Nasional (TKN), tak terkecuali tim media sosial yang sangat gencar mengkampanyekan pasangan tersebut.

“Propaganda komputasional adalah kunci keberhasilan atau kegagalan kandidat Pilpres di 2024. Kita bisa belajar dari berbagai negara mengenai pemanfaatan dan penyalahgunaan berbagai platform media sosial untuk kebutuhan kampanye politik,” ujar Sony.(cnn/dtc)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors