ANCAMAN LONJAKAN COVID-19, JOKOWI WARNING KEPALA DAERAH
Jakarta, MS
Teror coronavirus disease 2019 (covid-19) kembali menghantui tanah air. Potensi lonjakan kasus pasca libur lebaran meninggi. Ancaman ini cepat direspon pemerintah. Presiden Joko Widodo (Jokowi) layangkan peringatan tegas.
Tren corona di tanah air memang sempat melandai di awal tahun ini. Bahkan hingga April lalu, kasus positif baru mengalami penurunan drastis. Namun kondisi aman ini kans tak berlangsung lama. Kesadaran masyarakat masih kurang dalam memutus mata rantai penyebaran virus.
Malahan libur lebaran baru-baru ini telah menyebabkan kenaikan mobilitas masyarakat. Presiden Jokowi membeber sekitar 38 persen hingga 100,8 persen masyarakat melakukan mobilitas. Ia pun meminta dua minggu kedepan seluruh pihak harus tetap waspada.
"Saya melihat dari grafis dan kurva yang ada, mobilitas masyarakat di hari lebaran kemarin di tempat-tempat wisata ini naik tinggi sekali 38 persen sampai 100,8 persen, hati-hati dua minggu kedepan ini semuanya harus hati-hati karena ada kenaikan, mobilitas indeksnya naik 38 sampai 100,8 persen," katanya saat memberikan pengarahan secara virtual kepada kepala daerah se-Indonesia dalam akun YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (18/5).
Presiden mewanti-wanti kepala daerah untuk mewaspadai potensi gelombang kedua Covid-19. Jokowi mengatakan negara-negara tetangga mulai mengalami lonjakan kasus Covid-19. "Hati-hati gelombang kedua, gelombang ketiga di negara-negara tetangga kita sudah juga mulai melonjak drastis," jelasnya lagi.
Dia menyebut saat ini negara tetangga Indonesia seperti, Malaysia sudah menerapkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah hingga Juni 2021. Kebijakan yang sama juga dilakukan Singapura sejak Mei 2021. "Singapura juga sudah lockdown sejak Mei dan semakin ketat pada minggu-minggu kemarin. Kita harus melihat tetangga-tetangga kita," ujarnya.
1,5 JUTA ORANG NGOTOT MUDIK, RATUSAN POSITIF
Meski telah mendapat larangan tegas dari pemerintah dan dikawal ketat aparat kepolisian, sebagian warga tetap ngotot melakukan mudik lebaran. Pemerintah mencatat pada masa libur lebaran tahun ini, 1,5 juta orang tetap melakukan mudik pada kurun waktu 6-17 Mei 2021. Angka tersebut setara dengan 1,1 persen jumlah penduduk.
Presiden Jokowi pun mengingatkan potensi munculnya kasus baru Covid-19 di tanah air pasca libur lebaran 2021. “Pasca lebaran hati-hati, betul-betul kita harus waspada karena berpotensi, ada potensi jumlah kasus baru Covid, meskipun kita telah mengeluarkan kebijakan larangan mudik," kata dia.
Jokowi menuturkan, sebelum adanya kebijakan peniadaan mudik, terdapat 33 persen masyarakat menyatakan niat untuk mudik ke kampung halaman. Kemudian setelah dilakukan sosialisasi, angka tersebut turun menjadi 7 persen.
Realisasinya mampu ditekan lebih jauh menjadi 1,1 persen melalui penegakan kebijakan peniadaan mudik di lapangan beberapa waktu lalu. "Memang 1,1 persen kelihatannya kecil sekali, tetapi kalau dijumlah ternyata masih besar 1,5 juta orang yang masih mudik. Kita harus upayakan agar potensi peningkatan kasus aktif tidak terjadi sebesar tahun-tahun sebelumnya," bebernya.
Kekhawatiran pemerintah bukan tanpa alasan. Sejauh ini sudah ratusan pemudik terkonfirmasi positif dalam tes acak yang dilakukan baru-baru ini. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan bahwa selama masa mudik lebaran lebih dari 70.000 pemudik di tes secara acak. Dari testing tersebut sebanyak 0,34%nya positif covid-19.
“Untuk testing sudah dilaksanakan sebanyak 77.068 kali. Dimana ditemukan 264 diantaranya positif atau hanya 0,34% dari pelaku perjalanan,” katanya dalam konferensi persnya, Selasa (18/5).
Selain itu dari data hasil laporan pelaksanaan operasi ketupat per tanggal 15 Mei lalu sebanyak sebanyak 419.969 kendaraan yang diputar balik arah. “Pemerintah terus memperbaharui data di lapangan dan berusaha menginformasikan secara aktual kepada masyarakat,” sambungnya.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan Satgas daerah dan aparat kepolisian yang bertugas di lapangan. Seperti diketahui tes acak dilakukan pemerintah di beberapa lokasi penyekatan.
TEMPAT WISATA DI ZONA MERAH DITUTUP
Sederet langkah pencegahan pun langsung ditempuh untuk mengatasi ancaman ledakan covid-19. Jokowi telah menginstruksikan Gubernur, Walikota dan Bupati di daerah zona merah untuk segera menutup tempat wisata. Sementara itu untuk zona kuning dan hijau bisa membuka tempat wisata tetapi dengan protokol kesehatan yang ketat.
"Gubernur, bupati wali kota hati-hati yang zonanya masih merah, oranye, tempat wisata harus tutup dulu. Yang kuning dan hijau buka tetapi sekali lagi petugas harus di sana, satgas harus di sana sehingga prokes secara ketat harus dilaksanakan tidak boleh lepas manajemen dan tata kelola kita," bebernya.
Pimpinan daerah juga diminta harus mengambil langkah taktis yang cepat serta tepat dalam mengantisipasi peningkatan kasus. "Saya minta gubernur, bupati, wali kota, danrem, dandim, kapolda, kapolres, kejati, kejari, seluruh sekda dan asisten semuanya harus tahu angka-angka (parameter) seperti ini di setiap daerahnya sehingga tahu apa yang harus dilakukan," ujar Presiden.
Selain itu, Jokowi ikut membeber adanya peningkatan kasus penularan di 15 provinsi. Yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Maluku, Banten, Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo.
"Kasus per provinsi data-data komplit, hati-hati provinsi di sumatera. Ada 15 provinsi alami kenaikan, hati-hati Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, babel, DKI Jakarta, Maluku, Banten, NTB, Maluku Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan,Gorontalo, keliatan ditandai merah dan hijau, sebagian di jawa dan sulsel dan kaltim," bebernya.
SULUT MASIH AMAN
Di tengah kekhawatiran publik terkait ancaman lonjakan kasus baru covid-19, publik Nyiur Melambai boleh bernafas lega. Sejauh ini, Sulawesi Utara (Sulut) masuk dalam tiga provinsi di Indonesia yang tidak melaporkan adanya kasus baru positif corona.
Itu sebagaimana laporan harian data terbaru kasus positif Covid-19 di Indonesia yang dirilis Kementerian Kesehatan Selasa (18/5). “Kabar baik hari ini, provinsi Sulawesi Utara, Papua, dan Maluku melaporkan nol kasus alias tidak ada penambahan kasus sama sekali,” tulis rilis tersebut.
Namun dari data tersebut diketahui kasus positif bertambah 4.185 sehingga totalnya menembus 1.748.230 kasus. Kasus meninggal bertambah 172 orang sehingga totalnya 48.477 orang meninggal dunia akibat Covid-19. Sementara jumlah pasien sembuh dari Covid-19 hari ini bertambah 5.628. Sehingga totalnya, 1.612.239 orang Indonesia sudah sembuh dari Covid-19.
Terhitung hingga kemarin masih ada 87.514 kasus aktif yang masih menjalani perawatan. Menurun 1.615 kasus dari hari Minggu kemarin. Pemerintah juga mencatat masih ada 76.827 kasus suspek Covid-19. Sudah ada 510 kabupaten/kota di 34 provinsi yang sudah terpapar Covid-19.
Provinsi Jawa Barat menyumbang kasus harian terbanyak hari ini yaitu 1.119 kasus, disusul Jawa Tengah 561 kasus, Riau 321 kasus, Sumatera Barat 230 kasus, Jawa Timur 227 kasus. Jumlah kasus hari ini didapatkan dari 79.748 spesimen. Pemeriksaan spesimen tersebut dilakukan dengan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).
Kemenkes juga melaporkan 329.538 orang disuntik vaksin Covid-19. Dengan rincian, 148.920 orang yang disuntik vaksin dosis pertama dan 180.618 orang menerima suntikan dosis kedua. Sehingga totalnya, sebanyak 13.951.975 orang sudah mendapatkan dosis pertama vaksin Covid-19. Sedangkan 9.247.600 orang menerima suntikan dosis kedua. Diketahui, jumlah sasaran vaksinasi yaitu sekitar 181.554.565 warga Indonesia.(mdk/okz)














































Komentar