Institut Lembang Sembilan peduli Harga Cabe Rawit dan Inflasi Daerah Sulawesi Utara di masa PPKM
Manado.MS
Institut Lembang Sembilan menyoroti harga cabe rawit dan inflasi daerah Sulawesi Utara di masa PPKM saat ini, di mana harga cabe rawit di tengah pendemi sangatlah memberatkan pelaku UMKM, seperti pepatah sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
Menurut lembaga ini pemerintah gagap dalam mengendalikan inflasi daerah. Harga cabe rawit yang berada di Rp 80. 000. Sampai Rp 100. 000 sangatlah memberatkan di masa PPKM.
‘’Seharusnya pemerintah daerah memiliki konsep yang jelas dalam mengendalikan harga cabe. Sehingga ke depannya harga cabe rawit bisa terkendali’’ tulis Institut Lembang Sembilan .
Mereka berharap ada konsep yang jelas guna mewujudkan ketahanan pangan di Sulawesi Utara. Selama ini Sulawesi Utara jadi serbuan pasar cabe rawit dari luar daerah,bisa dibayangkan berapa banyak potensi uang daerah keluar dari Sulawesi Utara yang berdampak pada inflasi daerah.
Institut Lembang Sembilan kemudian menawarkan konsep gerakan 3 M.,Yaitu:
1. Menajemen jadwal tanam: Ini penting untuk mengatur ketersediaan Stok
2. Menajemen pemeliharaan 4.0 ; Di masa modern saat ini sudah Seharusnya petani kita mengunakan Sistim pemeliharaan modern. Ini dapat di wujudkan degan Pelatihan. Dan sekolah lapangan. Pemeliharaan yang baik dapat menghasilkan panen yang maksimal.
3. Menajemen pasca panen ; Pemasaran adalah hal yang paling penting. Banyak tengkulak yang mengatur harga di pasar. Ini dapat di antisipasi dengan adanya pasar lelang hasil Pertanian. Interaksi petani dan pedagang di pasar akan menghasilkan harga yang bersahabat bagi petani dan pedagang.
‘’Inilah masukan kami. Semoga dapat bermanfaat untuk kemajuan negara republik Indonesia yang kita cintai’’ tulis Harianto daeng SPI. Wakil ketua IL9 Sulut.(yaziin solichin)














































Komentar