Foto: Rapat dengar pendapat Komisi IV DPRD Sulut dengan Dinas Pariwisata.
Janji Angkasa Pura Bangun Patung Sam Ratulangi Ditagih
Bandara di Manado Tak Ada Ciri Khas
Laporan: arfin tompdung
Rencana pendirian patung Dr Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, di Bandar Udara (Bandara) Sam Ratulangi Manado, belum terwujud. Janji PT Angkasa Pura pun ditagih. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) menargetkan akan menuntutnya dalam rapat dengar pendapat.
Anggota Komisi IV DPRD Sulut, Fanny Legoh menyampaikan, sebelumnya Angkasa Pura sudah sempat berjanji akan ada pembangunan patung Sam Ratulangi di Bandara Internasional itu. Karenanya ia berharap, instansi terkait ikut mengejar realisasinya supaya bisa diwujudkan.
“Karena kalau wisatawan atau pendatang ke Bandara Sam Ratulangi, mereka tidak tahu wajah Sam Ratulangi itu seperti apa. Kalau ada patungnya kan bisa digambarkan sosoknya seperti apa. Karena dia ini bukan hanya tokoh nasional tetapi internasional. Di Davao (Filipina, red) saja ada patungnya, masa di tanahnya sendiri tidak ada. Jadi ini harus kita tuntut janji dari GM (General Manager) Angkasa Pura,” ujar politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini, Selasa (22/10), saat rapat dengar pendapat dengan Dinas Pariwisata Provinsi Sulut.
Legoh juga menjelaskan, nantinya akan dibicarakan terkait ornamen-ornamen khas Sulut yang perlu tergambar di Bandara Sam Ratulangi. Supaya ketika ada yang datang ke Sulut, ketika sampai benar-benar terasa nuansa daerah di sekitarnya. “Sekaligus kita akan membicarakan soal membuat arsitektur menurut budaya Sulut. Sama dengan Bali seperti itu. Kita tidak ada khas ketika masuk dari Bandara Sam Ratulangi,” tuturnya.
Kepala Dinas Pariwisata Sulut, Daniel Mewengkang menyampaikan, ini berkaitan dengan destinasi, sekaligus terkait kebudayaan. Pihaknya tetap mendukung usulan tersebut tapi tergantung dananya.
“Itu akan dikoordinasikan. Sama dengan mitra kita Komisi IV akan mengundang mereka (Angkasa Pura, red). Dan melihat yang Pak Fanny bilang ini. Mesjid saja yang di Bali itu ornamennya khas Bali, ini juga yang akan kita bikin. Di Minahasa, tetap tanah Minahasa-lah atau di luar konteksnya. Karena wisata ini melekat tiga yakni alam, buatan dan budaya,” pungkasnya. (**)











































Komentar