VIRUS CORONA ‘TEROR’ INDONESIA


-Satu Pasien Meninggal, Terinfeksi Bertambah

-Seorang Warga Boltim Diduga Terpapar

 

Jakarta, MS

Virus Corona atau Covid-19 kembali teror publik nusantara. Seorang pasien positif virus Corona, meregang nyawa. Pasien yang merupakan warga negara asing (WNA) itu menghembuskan nafas terakhir, Rabu (11/3), di RSUP Sanglah, Denpasar Bali.

Tak hanya itu, pasien yang terinfeksi virus mematikan itu dikabarkan telah bertambah 7 orang. Pun begitu, kabar baiknya, 2 orang pasien positif Corona telah dinyatakan sembuh.

Juru bicara pemerintah terkait penanganan Corona, dr Achmad Yurianto, tak menampik adanya pasien positif Covid-19 yang meninggal. Namun Yuri sapaan akrabnya memastikan WNA yang meninggal itu memiliki penyakit bawaan. Ia pun menegaskan semua pasien Corona yang meninggal semua memiliki penyakit bawaan.

 

"Tidak pernah kita dapatkan meninggal karena Coronavirus sendiri. Selalu komplikasi," ujar Yuri, saat Konferensi Pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/3) kemarin.

Virus Corona disebut akan memperburuk daya tahan tubuh penderitanya. Pada akhirnya penyakit bawaan yang diderita pasien akan makin parah. "Bukan karena Coronavirus yang menjadi penyebab utama tapi itu yang memperburuk kondisinya," tuturnya.

Pasien Corona kasus 25 yang meninggal dunia merupakan seorang WNA perempuan berusia 53 tahun yang diidentifikasi memiliki penyakit hipertensi, diabetes, dan paru-paru. “Pasien ini memang masuk di rumah sakit sudah dalam keadaan sakit berat karena memang ada faktor penyakit yang mendahuluinya, di antaranya adalah diabetes, hipertensi, hipertiroid, dan penyakit paru obstruksi menahun yang sudah cukup lama diderita," terang Yuri.

Ia tidak menyebut detail asal dari WNA itu. Pasien itu termasuk dalam kode 25 itu disebut imported case karena proses penularannya diyakini terjadi di luar Indonesia.

Pasien yang sempat dirawat di RSUP Sanglah, Denpasar diketahui meninggal dunia pada pukul 02.00 WIB tadi. Pihak kedutaan besar (kedubes) yang bersangkutan disebut Yuri sudah mendapatkan informasi ini. "Sekarang sedang dalam proses pengiriman kembali jenazahnya ke negaranya dan selama perawatan didampingi suaminya," timpalnya.

Ia juga membenarkan pasien positif di Indonesia telah bertambah 7 orang. Semua disebut merupakan imported case atau pasien yang terinfeksi dari luar Indonesia. "Semuanya adalah imported case," kata beber Yuri.

Yuri mengatakan 5 dari 7 pasien baru tersebut dalam kondisi tampak sakit ringan-sedang. Sedangkan 2 pasien dalam kondisi sakit sedang. "Ada penambahan sejumlah 7 pasien. Dengan kondisi rata-rata nampak sakit ringan sedang. Kecuali nomor 30 dan 29," ujarnya.

Tujuh pasien baru itu memiliki kode nomor 28 sampai nomor 34.  Jumlah pasien virus Corona di Indonesia menjadi 34, 1 meninggal dunia dan 2 sembuh. Sedangkan 31 lainnya tengah dalam perawatan insentif.

Sedangkan kabar baiknya, dua pasien yang positif Corona telah dinyatakan sembuh. “Yang pertama adalah bahwa pasien 06 dan pasien 14 ini sudah dua kali diperiksa negatif. Artinya kita sekarang sedang mengedukasi mereka untuk persiapan pulang dengan melaksanakan self isolated. Artinya, dia harus melakukan isolasi diri di lingkungan keluarganya," tutur Yuri.

"Meskipun sudah negatif masih kita harapkan mereka berhati-hati. Kondisinya baik, tidak ada keluhan apa pun. Sementara pasien lainnya kondisinya semakin membaik,"  pungkasnya.

KEMATIAN DEKAT BAGI PASIEN YANG LANSIA

Orang-orang yang terinfeksi virus corona yang meninggal umumnya yang sudah lansia atau memiliki riwayat sepsis ataupun pembekuan darah. Kesimpulan ini didapat dari sebuah studi di Cina yang meneliti sekelompok pasien dari mulai mereka didiagnosis positif terinfeksi virus itu hingga sembuh dan diizinkan pulang atau sebaliknya, meninggal.

Di masa awal virus corona jenis baru ini merebak pada Januari lalu, dua rumah sakit di Wuhan, Cina, dijadikan rujukan untuk mengobati orang-orang yang terinfeksi. Kedua rumah sakit itu menjalankan perannya, menerima para pasien virus corona dari rumah sakit lainnya hingga 1 Februari.

Per 31 Januari, kedua rumah sakit tercatat merawat sebanyak 191 orang dewasa. Dari 191 orang itu, 137 bisa diselamatkan dan semuh kembali, tapi tidak dengan 54 orang sisanya yang meninggal.

Data ke-191 pasien itulah yang dimanfaatkan untuk diteliti Wakil Profesor Respirologi dan Penyakit Menular Rumah Sakit Chao-Yang, Bin Cao, dan timya. Mereka mempelajari dan mencari pola dalam karakteristik kasus yang selamat maupun yang tidak dari infeksi virus tersebut.

"Usia rata-rata orang-orang ini adalah 56, dan 62 persen adalah laki-laki. Sekitar setengah dari mereka yang dirawat memiliki masalah medis, paling umum adalah diabetes dan tekanan darah tinggi," ujar Cao, seperti dikutip Newscientist, Senin 9 Maret 2020.

Dari data yang dipelajari diketahui waktu rata-rata pasien selamat sejak awal terinfeksi hingga keluar dari rumah sakit adalah 22 hari. Mereka yang tidak selamat dari virus itu meninggal rata-rata 18,5 hari setelah gejala dimulai.

Kematian juga lebih mungkin terjadi pada orang yang sudah menderita diabetes atau penyakit jantung koroner. Secara keseluruhan, lebih dari setengah jumlah pasien yang dirawat itu memiliki masalah pembekuan darah.

Anggota tim peneliti, Zhibo Liu dari Rumah Sakit Jinyintan di Wuhan, menerangkan, buruknya infeksi pada orang tua mungkin sebagian disebabkan oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh karena usia. Selain melambatnya respons terhadap peradangan.

"Sepsis atau peningkatan peradangan karena infeksi itu akhirnya dapat meningkatkan replikasi virus dan respons yang lebih lama terhadap peradangan menyebabkan kerusakan yang berkelanjutan pada jantung, otak dan organ-organ lain," kata Liu.

Tim juga menemukan bahwa seorang yang terinfeksi COVID-19 (corona virus disease 2019) terus ‘menumpahkan’ virus. Mereka menjadi agen penularan kepada sesamanya selama sekitar 20 hari, atau sampai mereka sendiri tak bertahan atau meninggal.

Cao melanjutkan bahwa pelepasan virus yang diperluas dan dicatat dalam penelitiannya memiliki implikasi penting memandu keputusan seputar tindakan pencegahan isolasi. "Juga pengobatan antivirus pada pasien yang dikonfirmasi terinfeksi,” kata Cao.

Hingga Selasa 11 Maret 2020, virus itu telah menyebabkan 4.090 orang di seluruh dunia meninggal dan 116.558 yang positif terinfeksi. Data dari Johns Hopkins University Center for Systems Science and Engineering, ada 64.391 orang dari yang terinfeksi itu sembuh kembali. Sedang dari mereka yang meninggal, sebanyak 1.000 di antaranya di luar Cina.

SATU ANAK DI BOLTIM DIDUGA SUSPEK CORONA

Virus Corona juga teror publik Sulawesi Utara (Sulut). Seorang warga Bolaang Mongondow Timur (Boltim) diduga terinfeksi virus yang telah menyebabkan 4 ribu lebih orang meregang nyawa.

Pasien yang masih anak-anak itu dikabarkan tengah dalam perawatan intensif di RSUD Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra). Kasus ini menyusul jejak seorang warga Bitung yang juga diindikasi terpapar Convid-19.

Informasi yang dirangkum harian ini, pasien yang masih dirahasiakan identitasnya itu, disebut-sebut sempat kontak dengan Warga Negara Asing (WNA). Tak lama kemudian, anak tersebut mengidap gejala-gejala penyakit yang mirip virus Corona. Sehingga Pemerintah Boltim melalui dinas kesehatan (dinkes) langsung melakukan langkah penanganan.

Hal itu diakui  Kepala Dinkes Boltim, Eko Marsidi.  "Ya, ada satu anak yang kini menjalani perawatan medis. Sebab, diduga terinfeksi atau suspect virus corona. Tapi identitasnya, belum bisa kami publis,” bebernya. “Kini anak itu sedang menjalani perawatan medis di RSUD Ratatotok,” sambungnya.

Lanjut Eko, perawatan medis dilakukan karena, pasien tersebut sebelumnya pernah kontak dengan warga asing asal China. "Berdasarkan informasi dari orang tua pasien dan masyarakat, anak ini (Pasien) dipeluk, dipegang oleh orang asing yang kebetulan singgah di lokasi itu. Dua hari kemudian, pasien itu sakit dengan suhu tubuh mencapai 37 derajat celcius. Indikasi awal baru sebatas ISPA," bebernya.

“Intinya, anak itu masih dalam perawatan medis sekaligus dalam pengawasan intensif. Sebab sempat kontak dengan orang asing sebelum mendapat panas tinggi.  Dan kami masih tunggu hasil pemeriksaannya. Semuanya masih sebatas dugaan (terpapar Corona, red). Jadi belum ada hasil pemeriksaan yang resmi,” timpal Eko.

Pun begitu, Pemkab Boltim disebut telah melalukan antisipasi untuk mencegah virus corona. "Kita lakukan antisipasi melalui seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Jika ada yang terindikasi maka langsung ditangani dengan cepat," jelasnya lagi.

Ia mengimbau warga tidak perlu kuatir akibat dugaan adanya pasien suspect virus corona di Boltim. "Tidak perlu panik berlebihan. Setiap ada indikasi seperti itu, akan langsung ditangani. Kami minta masyarakat untuk melakukan pengobatan di Puskesmas terdekat jika merasa sakit. Agar langsung dideteksi apa penyebabnya," imbuhnya.

PEMPROV TAMPIK STATEMEN KEPALA DINKES BOLTIM

Indikasi adanya warga Boltim yang terinfeksi Covid-19, langsung direspon Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Pemprov melalui Dinkes, menampik dugaan adanya anak di Boltim yang disebut suspek Corona.

"Tidak ada itu. Kadis (Boltim), salah jelaskan," lugas Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ( P2P) Dinkes Sulut, dr Steven Dandel katanya lewat pesan whatsapp, Rabu (11/3) tadi malam.  “Tidak ada istilah suspek dalam penanganan COVID-19 di Indonesia," sambungnya.

Pun begitu, Steven mengakui pasien tersebut dalam pemantauan Dinkes Sulut. "Riwayat pasien sudah sering bolak balik masuk RS (Rumah Sakit). Dia dipantau sebagai orang dalam pemantauan,” tandasnya.

Sebelumnya, Dinkes Sulut telah mengeluarkan surat edaran menyangkut mekanisme publikasi yang berkaitan dengan kasus virus Corona, pasca munculnya dugaan adanya dua pasien di RSUP Kandou yang ditengarai terpapar virus Corona.

“Memang masih ada 2 orang yang dirawat di ruang Isolasi RSUP Prof RD Kandou. Yang bersangkutan masuk dalam kriteria pasien dalam pengawasan karena gejala yang dideritanya, serta adanya riwayat perjalanan ke daerah terjangkit. Dirawat di ruang isolasi tidak bermakna bahwa yang bersangkutan sudah pasti menderita Covid 19, tetapi adalah Standard Operasional Prosedur perawatan penyakit menular," ujar Kepala Dinkes Provinsi Sulut, dr Debbie Kalalo belum lama ini.

Tindakan isolasi menurutnya, dilakukan sebagai bentuk pelayanan publik untuk mencegah penularan penyakit ke masyarakat.  Sampel dari yang bersangkutan telah diambil dan diperiksa di Badan Litbangkes Kemenkes Republik Indonesia dan dalam waktu yang tidak terlalu lama status yang bersangkutan sudah akan diketahui.

"Dinas Kesehatan, maupun Rumah Sakit dan petugas kesehatan yang merawat yang bersangkutan, Dilarang Keras untuk membocorkan identitas maupun alamat dari yang bersangkutan. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat dikenakan sanksi pidana. Media massa yang memberitakan kasus ini dimohon mentaati etika praktek kedokteran ini," timpalnya kala itu.

Himbauan serupa juga datang dari Ketua DPRD Sulut, Andrei Angouw. Ia berharap, publik untuk menunggu terlebih dahulu informasi akurat sebelum memberikan informasi lewat media sosial. "Jangan panik. Corona bisa sembuh, sudah banyak yang sembuh," pungkasnya.

Sementara Ahli Kesehatan Masyarakat Prof dr Debbie Kandou mengingatkan agar tetap  waspada dengan Covid-19 ini. "Perlu diwaspadai karena memenuhi kriteria. Namun kita masyarakat tetap tenang saja, karena penanganan yang diberikan sudah sesuai protap yang ada, sambil menunggu hasil pastinya dari Lab Balitbankes Jakarta," tandas Kandou.

Mantan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sam Ratulangi ini agar selalu menjaga gaya hidup yang sehat. "Himbauan kepada masyarakat, seperti yang sudah disosialisasikan oleh Kemenkes, giatkan Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) dan bilamana ada keluhan yang memenuhi kriteria tentunya segera ke Layanan Kesehatan terdekat. Tentunya kita berharap hasil negatif Covid-19," paparnya.

"Terhadap orang yang dalam pengawasan tersebut, bilamana hasilnya terkonfirmasi kasus Covid-19, maka perlu dilakukan investigasi sebagaimana protap Surveilans Epidemiologi yang berlaku. Namun masyarakat, sekali lagi jangan panik berlebihan tapi tetap waspada, melakukan himbauan seperti yang sudah disampai-sampaikan," himbaunya. (dtc/tmp/tim ms)

 

 


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting