CORONA PANDEMI, JOKOWI BERSIKAP
Jakarta, MS
Virus Corona terus merebak ke berbagai penjuru dunia. Penyebarannya belum bisa dikendalikan. World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia ambil sikap. Wabah Covid-19 telah ditetapkan berstatus pandemi.
Itu menyusul penyebaran virus Corona telah merambah hingga ke 114 negara. Termasuk di Indonesia. Pemerintah pun langsung merespons. Seluruh kementerian serta lembaga pemerintah didorong pro aktif. Perintah itu datang dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Presiden sudah menyampaikan pada saat rapat, menyampaikan ke banyak menteri, kewaspadaan dinaikkan, kehati-hatian dinaikkan tetapi jangan panik," ucap Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan Wabah COVID-19, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/3) kemarin.
Yuri sapaan akrabnya mengatakan pesan Jokowi adalah perintah. Semua kementerian atau lembaga harus meresponsnya. "Ini sudah perintah kepada semua. Barang tentu ini akan ditindaklanjuti oleh semua kementerian dan lembaga untuk merespons ini," jelas Yuri.
Lanjut Yuri, pemerintah juga akan menyediakan sejumlah besar masker dan alat uji laboratorium untuk memeriksa Corona. "Ini (status pandemi) akan memberikan konsekuensi bahwa setiap negara akan bersiap-siap. Mereka akan membutuhkan begitu banyak sarana-prasarana kesehatan untuk kepentingannya," terangnya.
Semua negara kini menyiapkan pelbagai benda kesehatan terkait penanganan Corona, dari masker, kacamata, hingga obat-obatan. Indonesia juga menyiapkan hal serupa.
"Termasuk jumlah kebutuhan kit laboratorium pemeriksaan yang masing-masing akan membutuhkan. Kita sudah menyiapkan 10 ribu kit, dan akan kita tambah lagi," kata Yuri.
Dia mengatakan, BUMN dan BUMD juga memastikan ketersediaan masker untuk warga Indonesia. Meski begitu, pemerintah belum bisa memastikan apakah jumlah masker yang tersedia sudah cukup atau masih kurang.
"Lebih kurang 15 juta masker juga sudah disiapkan semuanya. Tetapi ini bukan suatu jumlah yang kita anggap kurang atau kita anggap cukup, tidak," kata Yuri.
Dia menegaskan, respons utama untuk mencegah penyebaran virus Corona di Indonesia bukan hanya dengan memastikan jumlah stok masker, namun dengan cara melacak kontak (contact tracing) orang yang terjangkit COVID-19.
"Bukan berapa kita punya stok, tapi bagaimana mengendalikan ini lebih keras lagi, salah satunya adalah contact tracing. Contact tracing harus dilakukan lebih kencang lagi," timpalnya.
PEMERINTAH BELUM RENCANAKAN LOCKDOWN
Pemerintah Indonesia memahami cara lockdown dan meliburkan sekolah untuk mencegah penyebaran virus Corona sudah dilakukan
Sejumlah negara yang terdampak virus Corona telah melakukan lockdown dan meliburkan sekolah. Itu untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 tersebut. Namun, pemerintah Indonesia sendiri belum berencana melakukan penguncian suatu kawasan seperti itu.
"Kita masih belum punya opsi untuk kemudian mengambil suatu tempat kita lockdown, belum mengambil opsi itu, bahkan meliburkan sekolah pun belum juga opsinya," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, Achmad Yurianto, di Istana Kepresidenan, Kamis kemarin.
Indonesia mengamati Denmark dan beberapa wilayah di Amerika Serikat (AS) sudah melakukan lockdown kawasannya. Lockdown dilakukan supaya virus tak menyebar ke mana-mana. Namun cara itu ada risikonya, seperti yang dialami kapal pesiar Diamond Princess.
"Meski konsekuensinya dengan lockdown bisa saja kasus di situ naik dengan cepat. Pengalaman kapal Diamond Princess begitu lockdown, naik dengan cepat jumlahnya karena nggak bisa ke mana-mana. Yang sakit dan nggak sakit campur jadi satu," tutur Yuri.
Indonesia tidak memilih lockdown atau meliburkan sekolah, melainkan memilih melacak penularan virus untuk mencegah COVID-19 menyebar lebih luas. Contact tracing seperti itu bakal dilakukan dengan lebih keras. Selain itu, ada opsi yang tengah dimatangkan untuk mencegah masuknya virus dari luar negeri, yakni peninjauan status bebas visa dari negara-negara tertentu yang hendak ke Indonesia.
"Seperti yang kita dengar, beberapa negara meninjau ulang bebas visa. Kami sudah koordinasi dalam waktu dekat akan ada rapat di tingkat menteri, Kemenko PMK, untuk koordinasi bagaimana status bebas visa dan sebagainya untuk membatasi pergerakan orang. Ini karena faktor pembawa penyakit ini manusianya," kata Yuri.
Sementara itu ada perkembangan menggembirakan soal jumlah kasus virus Corona di Indonesia atau terkait warga negara Indonesia (WNI) di mancanegara. Sejumlah orang telah sembuh dari Covid-19. Hingga kini telah ada 5 orang yang sembuh dari Corona di Indonesia. Di Jepang, 9 WNI dari anak buah kapal (ABK) Diamond Princess dinyatakan sudah sembuh semua. Informasi itu diungkap Yuri, Kamis kemarin.
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah merilis dua surat edaran mengenai pencegahan penyebaran virus Corona . Kepala Biro Hukum Kemendikbud, Dian Wahyuni menyebut, dua surat edaran tersebut masing-masing untuk pencegahan penyebaran virus Corona di lingkungan Kemendikbud dan di lingkungan satuan pendidikan.
"Intinya adalah kita membuat surat edaran ini sesuai dengan protokol yang dibuat oleh Presiden seperti itu," kata Dian di Kemendikbud, Jakarta, Rabu (11/3).
Surat edaran tersebut, kata Dian, bukan saja untuk lingkungan sekolah, melainkan pula untuk diaplikasikan dalam lingkungan perguruan tinggi, baik itu formal maupun non-formal.
"Yang penting di surat edaran ini bagaimana mengoptimalkan peran unit kesehatan sekolah atau peran unit kesehatan di perguruan tinggi agar berkoordinasi dengan unit kesehatan setempat untuk melakukan pencegahan Covid-19 ini," terangnya.
Dalam surat edaran itu juga menekankan peran unit pendidikan untuk mempromosikan pentingnya hidup sehat. Bahkan unit pendidikan diminta agar menyediakan alat cuci tangan maupun hand sanitizer di lingkungannya.
"Dan juga di sini kita tekankan jangan sharing makanan atau minuman ke dalam wadah yang sama. Jangan berbagi alat-alat seperti pluit, suling, kita tekankan tidak diperkenankan," tandasnya.
Surat itu juga, kata Dian, menekankan agar alat-alat yang sering kena tangan kerap dibersihkan. Paling tidak satu kali setiap habis pakai.
Dalam surat edaran itu pula, Kemendikbud mengimbau tiap unit satuan pendidikan untuk melaporkan ke Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan ataupun Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi bilamana terjadi ketidakhadiran secara massal para siswa.
"Lalu berkonsultasi dengan dinas pendidikan atau LL Dikti jika tingkat ketidakhadiran mengganggu proses belajar mengajar. Sehingga akan dicari cara penyelesaiannya," tuturnya.
Dian juga mengimbau, bilamana suatu pendidikan menyediakan makanan bagi para siswanya, maka sudah sepatutnya untuk memasaknya secara matang untuk mencegah penyebaran virus Corona dari daging.
"Dan diharapkan suatu pendidikan ini menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang atau kegiatan lain di satuan pendidikan. Seperti melakukan kunjungan atau studi wisata. Dan juga bagaimana membatasi tamu," tutupnya.
WHO YAKIN CORONA MASIH DAPAT DIKENDALIKAN
WHO secara resmi menetapkan dan mengumumkan bahwa virus corona yang tengah ‘menyerang’ dunia saat ini bisa dikategorikan sebagai pandemi global. Pernyataan itu diumumkan Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers.
Tedros mengumandangkan virus corona sebagai pandemi global setelah jumlah infeksi di seluruh dunia mencapai lebih dari 121.000. Selain itu, berdasarkan data dari Universitas Johns Hopkins, terdapat 4.373 korban meninggal, dengan 66.239 lainnya dinyatakan sembuh.
Tedros menyoroti kasus di luar negara asal wabah, China, yang meningkat hingga 13 kali lipat, dengan jumlah negara yang terinfeksi meningkat tiga kali lipat. Seperti diberitakan CNBC, dia menuturkan bahwa peningkatan signifikan virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 itu terjadi dalam waktu dua pekan.
"Dalam beberapa hari atau pekan mendatang, kita akan melihat peningkatan jumlah kasus, kematian, hingga negara terinfeksi yang jauh lebih tinggi," katanya.
Dia mengatakan, sejumlah negara sudah menunjukkan bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk menekan dan mengontrol penyebaran corona. Sementara di sisi lain, pejabat asal Eritrea tersebut mengeluhkan negara lain yang tidak bertindak cukup cepat untuk menangkalnya.
"Kami benar-benar khawatir dengan kecepatan penyebaran, tingkat keparahan, dan ketidak-siapan pemerintah dalam menanganinya," jelasnya.
"Ancaman pandemi menjadi sangat nyata. Kami telah membunyikan bel dengan sangat keras dan jelas," ucap pejabat yang menjadi orang nomor satu di WHO sejak 2017 tersebut.
Tedros menjelaskan, kasus di China dan Korea Selatan mulai mengalami penurunan. Kemudian, 81 negara belum melaporkan adanya kasus positif, dengan 57 negara mengumumkan 10 kasus atau di bawahnya.
Walaupun virus Corona telah dinyatakan sebagai pandemi, WHO menegaskan bahwa pandemi ini masih bisa dikendalikan. Maka ia bersama WHO mengaku tidak akan menyerah. "Tidak ada bendera putih. Kami tidak menyerah (pada pandemi virus Corona)," imbuhnya.
WHO sendiri mendefinisikan pandemi sebagai situasi ketika populasi seluruh dunia ada kemungkinan akan terkena infeksi ini dan berpotensi sebagian dari mereka jatuh sakit. Sedangkan dilansir ABC News, pandemi adalah epidemi global. Epidemi sendiri adalah wabah atau peningkatan kasus penyakit dengan skala yang lebih besar.(dtc/kcm/cnn)















































Komentar