GEREJA SE-SULUT BERSATU REDAM COVID-19


Manado, MS

Wabah virus Corona kian meluas. Rasa cemas membungkus tanah air. Di tengah situasi mengkhawatirkan ini, komitmen untuk bersatu padu mendoakan negeri serta aksi nyata mencegah penyebaran COVID-19, tercetus. Nyiur Melambai jadi penggerak.

Sikap itu diserukan umat beragama di Sulawesi Utara (Sulut). Aksi mendukung pemerintah melakukan upaya pencegahan memutus rantai penyebaran COVID-19 merebak. Selain elemen pemerintah daerah, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri) serta masyarakat, gereja kini tampil mengambil peran menyikapi situasi tersebut.

Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM Pdt Dr Hein Arina mengingatkan kepada seluruh jemaat GMIM agar mendoakan bangsa Indonesia dan Sulut supaya terhindar dari penyebaran virus Corona. GMIM mendukung setiap langkah pemerintah dalam penanganan wabah tersebut. Itu mencakup koordinasi penyemprotan desinfektan di semua fasilitas umum gereja. “Kami mengimani, bahwa Tuhan betul-betul mengajak kita memaknai perjalanan via dolorosa Tuhan Yesus di minggu-minggu sengsara ini dengan beribadah pribadi dan juga bersama keluarga. Marilah kita mengingat semangat jemaat mula-mula agar terus beribadah meski ibadah itu berbentuk ibadah rumah (keluarga). Dan seperti kata rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika, Tetaplah berdoa,” ajak Pdt Arina.

Demikian juga dikatakan Uskup Keuskupan Manado Mgr Benedictus E Rolly Untu MSc. Uskup berpesan kepada umat Katolik untuk berdoa bagi Indonesia supaya terlepas dari virus Corona. Begitu juga untuk Sulut yang sementara giat melakukan upaya –upaya pencegahan COVID-19. “Dalam situasi yang tidak menentu ini, kita menjaga supaya iman kita tetap kuat, harapan tetap teguh dan cinta kasih tetap subur. Mari doakan dunia, negeri bahkan Sulawesi Utara,” imbaunya.

Terpisah, Ketua Majelis Pusat Pdt Johny Weol  meminta seluruh jemaat untuk mendoakan bangsa Indonesia. "Sudah menjadi tugas kita untuk berdoa bagi pemerintah, bangsa, negara serta seluruh rakyat Indonesia. Kita berharap masalah virus Corona ini segera diselesaikan," ujarnya.

Gembala Sidang Gereja Bethany Manado, Pdt dr Lenny Matoke, SpS MA dikutip dari Pengumuman Gereja Manado tertanggal 20 Maret 2020 menjelaskan, sebagai gereja Tuhan sudah sepatutnya mendukung setiap program pemerintah. “Diharapkan pengertian dari seluruh pengerja dan juga jemaat yang ada. Biarlah pada hari-hari ini kita mengalami kehadiran Tuhan yang manis lewat perenungan Firman, doa dan memuji dan menyembah Tuhan di rumah masing-masing. Kesembuhan dan perlindungan kuasa Tuhan yang kuat atas semua jemaat dan keluarga, Kota Manado dan Provinsi sulut,” imbuhnya.

Diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut melalui Gubernur Olly Dondokambey, telah melakukan berbagai upaya penanganan serta pencegahan penyebaran virus Corona. Seperti, membentuk Satgas Pencegahan Covid-19, membuka Posko Kendali, meliburkan sekolah SMA/SMK, PNS kerja dari rumah, mengimbau agar masyarakat untuk menghindari keramaian, mengajak warga untuk doa bersama, serta berbagai terobosan lainnya. Langkah gubernur ini telah diikuti oleh pemerintah kabupaten kota di Sulut.

KEGIATAN MELIBATKAN BANYAK ORANG DIGESER

Gereja mendukung program pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Virus Corona. Langkah yang diambil dengan menunda sementara kegiatan-kegiatan ibadah yang melibatkan banyak jemaat.  

Misalnya di GMIM. Untuk mendukung langkah pemerintah pusat dan daerah, Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) mengeluarkan surat Nomor K.0585 tertanggal 20 Maret 2020, terkait Penggembalaan dan Himbauan Dalam Menghadapi Pandemi COVID-19. Surat tersebut menegaskan bahwa pelaksanaan semua kegiatan bidang Komisi Pelayanan Kategorial (KOMPELKA) yang terdiri dari Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja dan Anak (BIPRA) serta unit pelayanan lainnya di aras jemaat, wilayah dan sinode, ditunda. Untuk pelaksanaan Ibadah Minggu tanggal 22 Maret dan 29 Maret 2020, Ibadah Kolom, Ibadah BIPRA dan Ibadah rutin lainnya dilaksanakan di rumah keluarga masing-masing. Himbauan ini berlaku sampai tanggal 31 Maret 2020. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan pelayanan, agar meningkatkan koordinasi berjenjang dari BPMJ, BPMW dan BPMS.

Dijelaskan Sekretaris Departemen Pelayan Khusus Sinode GMIM Pdt Daud Kaunang STh, jika ibadah Minggu dilaksanakan di rumah jemaat (home church) adalah bentuk antisipasi efektif dalam mencegah sekaligus memutus rantai perkembangan  Corona Virus Deases 19 di Kota Tomohon pada khususnya tetapi di wilayah GMIM pada umumnya.

"Surat Penggembalaan BPMS GMIM yang ditandatangani Ketua Sinode , itu sudah jelas diuraikan dan idealnya pelaksanaan ibadah hanya dilakukan di rumah saja untuk sementara waktu. Berharap seluruh jemaat mematuhi prosedur yang ada karena ini demi kebaikan kita bersama dalam menghadapi Virus Covid 19," terangnya, Minggu (22/3).

Kebijakan tersebut juga, lanjutnya, sebagai respons positif dari kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Tomohon yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Ketua BPMJ GMIM Markus Kinilow Pdt Seska Kaparang MTh mengakuai jika saat ini jemaat dalam kondisi yang mengkhawatirkan akibat virus corona. "Ini adalah kali pertama kita melakukan ibadah Minggu di jemaat, tetapi ini adalah langkah baik yabg harus kita jalani. Dan dari hasil pemantauan di 12 kolom yang ada di GMIM Markua Kinilow, jemaat sangat baik meresponsya," ujarnya seraya mengatakan jika intinya apa yang menjadi himbauan pemerintah.

Langkah serupa dijabal pihak Keuskupan Manado. Uskup Mgr Benedictus E Rolly Untu MSc, juga menerbitkan surat Nomor 109 tentang Pencegahan COVID-19 tanggal 21 Maret 2020. Menyimak perkembangan penyebaran COVID-19 yang semakin meluas serta memperhatikan protokol pemerintah pusat dan daerah, Uskup Manado menerangkan jika terhitung mulai Minggu (22/3) sampai Sabtu (4/4), semua kegiatan yang mengumpulan umat ditiadakan. Para iman tetap merayakan ekaristi secara pribadi untuk kepentingan seluruh umat beriman, baik Misa Harian maupun Misa Minggu Hari Raya. Selanjutnya, mengikuti perayaaan yang disiarkan secara online atau live streaming oleh lembaga lembaga yang dapat dipercaya.

Demikian juga disampaikan Gembala Sidang Gereja Bethany Manado, Pdt dr Lenny Matoke, SpS MA. Melalui Pengumuman Gereja Manado tertanggal 20 Maret 2020, dijelaskan bahwa sebagai gereja Tuhan sudah sepatutnya mendukung setiap program pemerinthah. Salah satunya ‘Social Distancing’ untuk memusutuskan mata rantai penyebaran virus Corona. “Oleh karena itu, selama 2 minggu ke depan terhitung sampai 31 Maret 2020 ada beberapa kegiatan di pusat dan cabang yang ditiadakan yaitu ibadah raya tanggal 22 Maret dan 29 Maret,” ujar Pdt Matoke.

SULUT MASIH AMAN

Gejolak nasional terkait teror virus Corona, belum dominan di Sulut. Hingga saat ini, Nyiur Melambai masih negatif Corona. Meski begitu, langkah pencegahan giat dijabal pemerintah dikarenakan Sulut mengoleksi ratusan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan belasan Pasien Dalam Pemantauan (PDP).

Merujuk data perkembangan Covid-19 yang bisa di akses lewat portal resmi http://corona.sulutprov.go.id yang dikelola oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian dan Statitistik (DKIPS) hingga Minggu (22/3) pukul 14.00 Wita, Sulut memiliki 229 ODP, 11 PDP dan pasien positif sebanyak 1 orang. "Untuk pasien positif COVID-19 adalah pasien yang sama (minggu lalu), dan dan sudah terkonversi negatif sejak 15 Maret 2020," terang Juru Bicara Satgas Pengendalian Covid-19 Sulut dr Steven Dandel, Minggu (22/3) kemarin.

Selain itu, Pemprov Sulut telah menyiapkan Rumah Sakit (RS) khusus untuk menangani pasien. Yaitu, RSUP Prof Dr RD Kandou Manado, RSUD Dr Sam Ratulangi Tondano, RSUP Ratatotok Buyat, RSUD Kotamobagu.

Diketahui, ada tiga tingkatan status sebelum akhirnya seseorang dinyatakan positif Covid-19. Pertama, Orang Dalam Pemantauan yang berarti belum menunjukkan gejala sakit namun sempat bepergian ke negara episentrum COVID-19 sehingga perlu dilakukan pemantauan.

Kemudian, Pasien Dalam Pengawasan (PDP), yakni orang yang sudah menunjukkan gejala terjangkit COVID-19, seperti mengalami demam, batuk, pilek, dan sesak napas. Sementara untuk tingkat ketiga adalah suspect atau terduga COVID-19. Suspect Covid-19 sudah menunjukkan gejala terjangkit virus dan diduga kuat melakukan kontak dengan pasien yang positif COVID-19.(tim ms)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting