SAYONARA KENGKANG


Manado, MS

 

Awan dukacita masih menutup langit Sulawesi Utara (Sulut). Setelah ditemukannya jenazah dua atlit paralayang Petra Mandagi dan Gleen Mononutu, kini tubuh Franky Kowaas didapati dalam keadaan tak bernyawa.  Ungkapan belasungkawa kembali bersahut-sahutan.

Mayat Kengkang sapaan akrab Franky, ditemukan Tim Basarnas, Selasa (2/10), bersama dua rekannya Ardi Kurniawan asal Jawa Timur dan Lauren Kowaas yang adalah ponakannya. Mereka berada di reruntuhan gedung Hotel Roa-Roa, Palu Sulawesi Tengah (Sulteng) yang ambruk akibat gempa dan tsunami, Jumat (28/9). Mereka kemudian diangkat ke posko penampungan jenazah.

Sesuai dengan penjelasan Humas Kantor SAR Basarnas Makassar, pertama kali mereka menemukan jasad satu korban dan dievakuasi dari reruntuhan Hotel Roa-Roa, Palu, siang kemarin. Tidak lama kemudian, Tim Basarnas kembali menemukan dua atlit paralayang di reruntuhan tersebut. Mayat pun lalu digotong setelah dimasukkan ke kantong jenazah.

"Penemuan dua atlit itu di reruntuhan tak jauh dari lokasi korban pertama ditemukan. Korban pertama atlit dari Surabaya. Korban yang dua tadi merupakan atlit paralayang asal Manado," kata Dewi dari Humas Basarnas.

Keluarga korban saat disambangi harian ini di Komplek Stadion Klabat Manado, Selasa kemarin sekitar pukul 17.00 WITA, ikut membenarkan telah ditemukannya Franky Kowaas. Jenazah atlit yang dikenal dengan julukan ‘Manusia Seribu Nyali’ itu, dikabarkan akan dibawa ke Manado, Rabu (2/10) hari ini untuk dimakamkan.

“Kalau dapat pesawat Hercules malam akan dibawa malam ini (tadi malam, red) tapi kalau tidak besok (hari ini, red),” kata Ronny Gosal yang adalah keluarga korban Franky Kowaas, Selasa kemarin.

Ia menjelaskan, kalau Lauren adalah ponakannya Franky Kowaas. Dia sebagai official dari tim paragliding yang berangkat ke Palu. “Dia (Lauren, red) ada basopir pa dorang. Dia sama-sama dengan dia (Franky Kowaas, red) di hotel. Mereka pergi bawa alat-alat terjun payung muat di oto (mobil, red),” jelas Ronny.

Wakil Ketua DPRD Sulut, Wenny Lumentut memastikan, jenazah Franky Kowaas akan didatangkan, Rabu (3/10). “Jenazah akan didatangkan esok (hari ini, red) dengan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara,” tegas Lumentut yang juga sahabat dekat Franky Kowaas, ia diwawancarai sejumlah wartawan, di sela-sela acara pemakaman Glen Mononutu.

 

FRANKY BERITAHU LOKASI PENGINAPAN KE ISTERINYA  

Sebelum gempa dan tsunami melanda Hotel Roa Roa, Franky ternyata  telah memberi kabar kepada isterinya tentang posisinya. Dari situ kemudian keluarga korban mengetahui  tentang lokasi penginapan Franky bersama dengan tim.

Selvie Sekeon yang adalah ibu mertua Franky mengungkapkan, sewaktu kejadian, isterinya sedang berada di Manado. Ketika itu Jumat 28 September, anak mereka yang tua Lauhien Kowaas merayakan Hari Ulang Tahunnya (HUT). “Waktu itu isterinya di sini (Manado, red). Franky yang kasi tau kalo dia (franky, red) tinggal di Hotel Roa Roa tingkat 7. Waktu dengar gempa saya kebetulan masih di Tumpaan di kampung,” ungkap Sekeon.

Setelah mendengar kabar tersebut, isteri Franky kemudian berangkat dari Manado ke Palu, Sabtu (29/9). “Padahal hari minggu  tanggal 7 (Oktober, red) adalah hari ulang tahun anak mereka yang bungsu Lingkan (Kowaas, red). Jadi antara gembira dukacita tapi begitulah apa yang Tuhan berikan,” katanya.

Sosok Franky baginya sangatlah baik. Terutama kepada anak-anaknya sendiri. Kepada siapa saja, Franky dinilainya sangat akrab dan pandai bergaul. “Kalau Franky ke Tumpaan, dia sering urut saya,” jelas Selvie.

 

Prestasi hidup Franky dibeber sahabatnya Inyo Rumondor. Ia menjelaskan, seorang Franky Kowaas adalah atlit yang pertama kali melakukan ‘base jumper’ atau melompat dari gedung tinggi. Selain itu, dia pelopor paragliding di Sulut hingga mendunia. “Karena dia menghadirkan 2 juara dunia akrobatik paralayang di Sulut. Kemudian pelopor arung jeram. Dia termasuk pendaki yang dihromati karena paling banyak mendaki gunung. Kegiatan rescue dia selalu paling terdepan,” jelas Inyo yang adalah sahabat Franky.

Diketahui, pasca ditemukannya mayat Franky Kowaas dan Lauren Kowaas, pengguna media sosial kembali ramai memberikan ucapan turut berduka cita. Sama seperti ketika ditemukannya Petra Mandagi dan Gleen Mononutu, Senin (1/10). Seperti diungkap Joel Sumampouw atas kepergian Lauren Kowaas. “Selamat Jalan Tuama, Torang Makatana Minahasa Walak Tondano, khususnya Wanua Rerewokan sangat merasa kehilangan dengan tuama p kepergian,” ungkap Joel lewat akun facebook.

Andrey Tandiapa salah seorang aktivis di Apostolos UKIT, mengungkapkan dukacita atas berpulangnya Franky Kowaas. “Beristirahatlah dalam damai Senior Apostolos "Ka’Kengkang". Terbanglah terus senior menuju keabadian,” tulisnya Andrey yang sebelumnya juga menyampaikan ungkapan dukacita atas berpulangnya Petra Mandagi, melalui akun facebooknya.

 

GUBERNUR JEMPUT JENAZAH PETRA DAN GLEEN 

Keprihatinan ikut pula dirasakan Gubernur Olly Dondokambey atas peristiwa yang menimpa para atlit paralayang Sulut. Selasa (2/9) kemarin, Sang Nahkoda Bumi Nyiur Melambai ini menyambut jenazah Glen Mononutu dan Petra Mandagi, di Bandra Sam Ratulangi Manado, didampingi Sekretaris Daerah Edwin Silangen.

 

Di hadapan anggota keluarga, Gubernur Olly mengucapkan belasungkawa atas wafatnya kedua putra terbaik Sulut yang saat itu sedang mengikuti ajang kejuaraan paralayang di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kejadian ini menurutnya sebagai pukulan berat bagi daerah Sulut. "Kami secara pribadi sangat kehilangan akan kepergian dari atlit-atlit," ucap gubernur.

 

Para atlit terbaik Sulut ini telah memberikan sumbangsih yang besar bagi daerah Sulut. Tak hanya lewat prestasi tapi juga bagi kemajuan Bumi Nyiur Melambai khususnya pada sektor pariwisata.

 

"Mereka banyak membantu bagi perkembangan pariwisata di Sulawesi Utara, mereka banyak menjadi mentor dalam rangka memberikan pelayanan bagi turis-turis asing yang mau menikmat pemandangan Sulawesi Utara," jelas gubernur seraya menambahkan, akan memberikan santunan kepada keluarga korban sebagai bentuk kepedulian pemerintah atas dedikasi  yang telah diberikan para korban.

 

WAGUB: RENCANA TUHAN PENUH MISTERI 

 

Rumah duka kedua atlit paralayang Petra dan Gleen, banjir pengunjung, Selasa kemarin. Berbondong-bondong orang berdatangan. Kata-kata penguatan ikut pula dibagi Wakil Gubernur (Wagub) Sulut, Steven Kandouw, yang datang melayat ke rumah dari dua korban tersebut.

Kandouw menyempatkan diri untuk hadir langsung ke rumah duka dari almarhum Gleen, di Kelurahan Batu Kota dan almarhum Petra di Desa Tateli. Sebagai bentuk perhatian pemerintah, Wagub Steven secara pribadi menyampaikan belasungkawa atas kepergian dari saudara Gleen dan Petra. Ia berpesan kiranya semua yang hadir bisa memetik hikmahnya dari peristiwa kemanusiaan tersebut. "Jadikan ini untuk kita semakin tahu dan menyadari serta berserah ke Tuhan. Karena rencana Tuhan selalu penuh misteri," pesan orang nomor dua di Bumi Nyiur Melambai.

 

Ia mengungkapkan, atas kepergian para atlit ini maka semuanya turut ditimpa duka. Hanya saja menurutnya, jangan sampai karena peristiwa itu kemudian membuat keluarga berputus asa. "Hidup harus terus berjalan," kuncinya.

Sementara, Sekretaris Provinsi (Sekprov) Edwin Silangen saat memberi ucapan terima kasih dari pihak keluarga mengatakan, sebagai orangtua baptis dari Gleen Mononutu, ia berterimakasih yang tulus dan dalam bagi semua pihak yang membantu. "Ia (Gleen, red) telah mengakhiri pertandingan dan telah capai garis akhir, dan  memelihara imannya selama hidup," katanya.

 

Dia pun menjelaskan, tidak ada kata yang lebih berharga selain mengucap syukur atas semua empati yang datang dari semua kalangan. "Terima kasih karena sudah memberikan empati dan dukungan terhadap keluarga.Terima kasih gubernur Sulut, pak Olly Dondokmabey, Wagub serta Ketua DPRD Sulut Andrei Angouw dan semua yang hadir," tukasnya seraya menambahkan Gleen adalah orang yang mandiri.

 

Usai disemayamkan di rumah duka keluarga Mononutu-Sela, jenazah Gleen Mononutu anak ketiga dari ayahnya Bartholomeus Mononutu dan ibunya Grace D M Sela, langsung dibawa ke Leilem untuk dimakamkan.  

 

Sementara di rumah duka korban Petra Mandagi di Kelurahan Tateli, tampak juga kerumunan manusia satu persatu berdatangan. Ketika disambangi harian ini sekitar pukul 19.30 WITA, Rabu malam, tampak Stevy Rompas isteri Petra menerima tamu yang datang melayat. Saat itu dilaksanakan Ibadah Malam Penghiburan di rumah duka. Sesuai informasi dari pihak keluarga, jenazah Petra akan dikebumikan, Rabu (3/9) hari ini, di samping makam ayahnya Theo Mandagi. “Ibadah pemakaman akan dilaksanakan jam 1 siang (13.00 Wita, red),” ungkap Ai Lotulong yang adalah ipar dari Petra.

 

LEGISLATOR SULUT SAMPAIKAN BELASUNGKAWA

Kepergian Franky Kowaas Cs ikut juga mengundang empati para legislator di Gedung Cengkih. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut menyatakan rasa prihatin atas tragedi yang dialami para atlit paragliding.

Anggota DPRD Sulut, Billy Lombok menyatakan turut berdukacita dengan kejadian yang sudah merenggut ribuan nyawa manusia itu. Terutama para atlit paralayang Sulut yang menjadi korban di dalamnya. "Tentunya saya menyampaikan keprihatinan yang mendalam kepada keluarga yang telah ditimpa musibah yang berat itu. Berharap yang terbaik untuk semua yang di sana (Palu, red). Terlebih para atlit terjun payung dari Sulut," kata politisi Partai Demokrat ini.

Wakil Ketua DPRD Sulut, Wenny Lumentut, menyampaikan rasa sedihnya atas kejadian yang menimpa Franky dan kawan-kawan. Dirinya berharap, keluarga tetap dikuatkan menghadapi cobaan yang dialami. “Kami berdoa semoga Gleen, Petra dan Franky beristirahat dengan tenang,” pinta Ketua DPD Gerindra Sulut ini, di sela-sela ibadah pemakaman Glen Mononutu.

Lumenutut mengaku, kabar telah ditemukannya jenazah Franky Kowaas diketahuinya lewat isteri Franky via telepon. “Saya mendapat telepon dari istri Franky Kowaas. Jenazah Frangky alias Kengkang sudah ditemukan,” kuncinya. (okz/tim ms)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors

Mail Hosting