PDIP-GERINDRA KIAN MESRA


Jakarta, MS

Konstelasi politik di Tanah Air terus menyajikan berbagai dinamika menarik. Salah satu yang jadi sorotan yaitu hubungan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerindra yang kian mesra. Kendati sempat berseteru hebat di ajang pemilu 2014 dan 2019, belakangan ini dua kubu tersebut intens membangun koalisi politik dari pusat hingga daerah.

‘Kemesraan’ keduanya makin terasa di panggung pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun ini. PDIP dan Gerindra kerap berkolaborasi dalam mendukung dan mengusung pasangan calon di sejumlah daerah penyelenggara pilkada. Salah satunya di pemilihan gubernur (pilgub) Sulawesi Utara (Sulut). Kubu Garuda Emas telah menyatakan sikap mendukung ‘jagoan’ Banteng, Olly Dondokambey – Steven Kandouw (ODSK).

"Ya Gerindra Sulut dukung OD (Olly Dondokambey)," beber Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulut, Wenny Warouw, beberapa waktu lalu.

Kolaborasi serupa juga terlihat di sejumlah daerah pelaksana pilkada. Di Kota Medan misalnya. Sinyal penyatuan pasangan calon dari PDIP-Gerindra menguat. Bobby Nasution, calon walikota Medan yang diusung PDIP, bakal disandingkan dengan kader muda Partai Gerindra.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Sumatera Utara (Sumut), Djarot Saiful Hidayat, membenarkan hal itu.  “Untuk Bobby nantinya saya kira, akan didampingi sosok kader muda dari Partai Gerindra,” ujar Djarot, Senin (10/8).

Koalisi PDIP-Gerindra juga tersaji di Pilkada Tangerang Selatan. Sosok Rahayu Saraswati Djojohadikusumo yang notabene keponakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, akan dipasangkan dengan calon usungan PDIP, Muhammad.

Ketua DPC PDIP Tangsel Wanto Sugito mengatakan untuk rekomendasi partai dijadwalkan diumumkan hari ini. “Jadwalnya besok (hari ini, red) akan diumumkan,” kata Sugito, Senin (10/8) kemarin.

Rahayu Saraswati atau yang akrab dipanggil Sara, sebelumnya telah mendapatkan rekomendasi dari Partai Gerindra untuk bakal calon wakil wali kota Tangerang Selatan. Rekomendasi itu disampaikan langsung Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

"Saya dengan demikian sekarang di hadapan media dengan bangga saya menyerahkan rekomendasi ini untuk Drs Haji Muhammad sebagai bakal calon wali kota dan Mbak Rahayu Saraswati sebagai bakal calon wakil wali kota Tangsel," kata Prabowo beberapa waktu lalu.

Hal yang berlaku di Pilkada Solo. Pasangan calon Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa telah resmi mendapat dukungan Partai Gerindra. Gibran sendiri adalah anak Presiden Joko Widodo. Dukungan bagi pasangan Gibran-Teguh tertuang melalui Surat rekomendasi yang ditandatangani Prabowo selaku Ketua Umum DPP Partai Gerindra.

Prabowo yang baru-baru ini kembali terpilih sebagai Ketum Partai Gerindra memang mengaku jika partainya paling banyak berkoalisi dengan PDIP di pilkada serentak tahun ini. "Yang penting PDIP yang paling banyak," katanya belum lama ini.

Ia tidak menjelaskan secara rinci daerah mana saja Gerindra berkoalisi dengan PDIP. Meski demikian, kata Prabowo, Gerindra tetap terbuka untuk membangun koalisi dengan partai lain.

Namun dalam menentukan pasangan calon yang diusung, partainya tetap menyerahkan proses dari Dewan Pimpinan Cabang maupun Dewan Pimpinan Daerah. "Mereka yang godok siapa yang dapat dukungan, siapa yang lolos diseleksi situ. Kita bekerja sama dengan semua," kata pria yang kini menjabat Menteri Pertahanan.

 

SINYAL PRABOWO – PUAN DI PILPRES 2024

Hubungan PDIP dan Gerindra memang mulai harmonis saat Prabowo masuk ke jajaran kabinet pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan. Sejak saat itu, Megawati dan Prabowo kerap terlihat dalam beberapa acara besar.Teranyar, Megawati memberikan sambutan secara virtual pada Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar Partai Gerindra di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/8) lalu.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno, menyebut pertemuan keduanya seakan menghidupkan kembali romantisisme PDI Perjuangan dan Gerindra sebelum Pemilu 2014 lalu. "Tentu saja kemesraan PDIP-Gerindra jadi sinyal menuju jalan panjang 2024. Dua partai ini ibarat pasangan yang CLBK (cinta lama bersemi kembali) setelah sempat berkonfrontasi di dua pilpres," kata Adi Senin (10/8) kemarin.

Kolaborasi politik yang dibangun PDIP dan Gerindra saat ini memang dinilai banyak kalangan kans berlanjut hingga ke pemilihan presiden (pilpres) 2024 nanti . Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menyebut kedua partai ini punya rencana besar untuk berkoalisi demi memajukan Prabowo Subianto dengan Ketua DPR Puan Maharani pada pilpres 2024.

"Nantinya membangun koalisi permanen pada Pilpres 2024 paket Prabowo-Puan. Arahnya dan gelagat politik sudah mulai terbaca ujungnya mengarah ke sana," ujar Pangi.

Pangi menyampaikan, hubungan kedua partai tersebut kian harmonis sejak Prabowo yang notabene Ketua Umum Gerindra bergabung ke pemerintahan. Kemudian, hubungan keduanya semakin mesra dengan adanya koalisi di beberapa pemilihan kepala daerah 2020.

"Sehingga pola pilkada, koalisi juga hampir sama, akan banyak koalisi PDIP dan Gerindra, mengikuti arah koalisi pusat, yang juga diikuti di daerah-daerah," ucap dia.

"Koalisi pilkada, akan beririsan modelnya dengan peta koalisi pusat," katanya.

Dia melanjutkan, koalisi PDIP dengan Gerindra di beberapa daerah akan menjadi strategi awal demi menyongsong Pilpres 2024. "Jadi nampaknya koalisi Gerindra-PDIP di pilkada akan menjadi ajang pemanasan mesin kedua partai tersebut, mulai cek ombak," tutur dia.

Di sisi lain, pengamat politik dari Al-Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin, menyebut Prabowo akan menghadapi banyak hambatan untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2024. Ia menyebut, peluang menang atau tidaknya Prabowo pada Pilpres 2024 tidak dapat ditebak, tetapi dapat diprediksi akan banyak rintangan yang dilaluinya ke depan.

"Banyak ganjalan dihadapi Prabowo, salah satunya dari PA 212 yang dulu pernah mendukungnya dan saat ini kontra terhadap dirinya," ujar Ujang.

Menurut dia, kedekatan politik yang dibangun Gerindra kepada PDIP juga bisa dikaitkan dengan berkurangnya kekuatan dukungan bagi Prabowo. “Bisa saja, karena banyak pendukungnya pada 2019 lalu baik parpol hingga PA 212 kecewa karena Prabowo memutuskan bergabung dalam pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin,” imbuhnya.

"Tapi ini yang sedikit besar akan mempengaruhi suara Prabowo ke depan. Soal suaranya kecil atau turun atau tidak, itu tergantung pada Prabowo apakah mampu meyakinkan kembali pendukungnya dan PA 212 untuk kembali mendukungnya," papar Ujang.

Diketahui, selain dengan Gerindra, PDIP juga menjalin hubungan mesra dengan Partai Demokrat. Bahkan keduanya mengusung 28 pasangan calon kepala daerah dalam pilkada 2020.(dtc/kpc/idn)

 


Komentar