UNGGUL SURVEI LSI, OLLY: JANGAN TAKABUR, SEMUA LAWAN HEBAT


Manado, MS

Dinamika politik jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), kembali menghangat. Itu menyusul hasil survei yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) terhadap bakal pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur di bumi Nyiur Melambai.

Hasilnya, paslon Olly Dondokambey dan Steven Kandouw (OD-SK), disebut masih unggul jauh dari para rivalnya. Pasangan petahana itu leading dengan selisih 40% dari dua pesaingnya. Elektabilitas Olly-Steven berada pada angka 68,1%.

Disusul elektabilitas Christiany Eugenia Paruntu-Sehan Salim Landjar (CEP-SSL) sebesar 16,9% dan Vonnie Aneke Panambunan-Hendry Corneles Mamengko Runtuwene (VAP-HCMR) sebesar 7,2%. Sedangkan yang belum menentukan pilihan tersisa 7,8%.

Demikian rilis LSI lewat survei yang dilakukan pada 22-29 Agustus 2020 di semua kabupaten dan kota di Sulut dengan menggunakan metode multistage random sampling terhadap 800 responden tersebut.

Merespon hasil survei yang positif itu, Olly menyebut hal tersebut merupakan bentuk apresiasi masyarakat atas kinerjanya selama memimpin Sulut.  "Survei yang memperlihatkan tingginya dukungan masyarakat itu merupakan indikasi kalau kerja kita memang diapresiasi oleh warga," katanya.

Ketua DPD PDIP Sulut itu pun kembali menegaskan sejak terpilih menjadi gubernur, prinsip utamanya adalah bekerja untuk rakyat serta membawa Sulut menjadi lebih maju.

"Jadi prinsip saya dan juga Steven adalah kerja, kerja, kerja. Kita bukan mencari popularitas atau elektabilitas. Yang kita inginkan adalah bagaimana membawa Sulut menjadi lebih hebat dan lebih maju," lugas Bendahara Umum DPP PDIP itu.

Meski unggul jauh di hasil survei, Olly enggan sesumbar. Menurutnya, pertarungan belum berakhir. "Jalan masih panjang. Kita tak boleh takabur. Kita anggap semua lawan itu hebat," pungkas mantan Ketua Fraksi PDIP di DPR RI itu.

LSI: PETAHANA DINILAI BERHASIL

Bakal pasangan calon,Olly Dondokambey – Steven Kandouw (OD-SK) masih unggul dari dua pesaingnya Christiany Eugenia Paruntu-Sehan Salim Landjar (CEP-SSL) dan Vonnie Aneke Panambunan-Hendry Corneles Mamengko Runtuwene (VAP-HCMR) di Pilkada Sulut.

Duet petahana itu leading  di 6 kategori pemilih besar di bumi Nyiur Melambai.  Baik dari kantong pemilih perempuan, ibu-ibu, pemilih Protestan, pemilih muslim,  pemilih terpelajar, dan pemilih sesuai etnis terbesar.

Demikian hasil survei yang dirilis LSI baru-baru ini. "Hasil survei kami di enam kantong pemilih besar, yaitu pemilih milenial, emak-emak atau ibu rumah tangga, pemilih muslim, pemilih Protestan, pemilih terpelajar, dan pemilih sesuai etnis terbesar," kata peneliti senior LSI Network, Ikrama Masloman, Senin (14/9) kemarin.

Pasangan Olly-Steven disebut unggul di kantong pemilih emak-emak yang terdiri atas pemilih perempuan dan profesi ibu rumah tangga (IRT). “Yang emak-emak Olly-Steven 69%, Olly-Steven 69%, CEP-Sehan 13% dan VAP-Hendry 10%,” bebernya.

“Sedangkan IRT, Olly-Steven 71%, CEP-Sehan 13,6% dan VAP-Hendry 10%,” sambungnya.

Sedangkan di kantong pemilih Protestan, dukungan terhadap Olly-Steven mencapai 69,5%, CEP-Sehan sebesar 12%, dan VAP-Hendry sebesar 11,2%. “Untuk kantong pemilih muslim, dukungan terhadap Olly-Steven mencapai 67,6%, Cep-Sehan sebesar 19,2% dan VAP-Hendry sebesar 5,5%.,” ujar Ikrama.

Dukungan untuk Olly Steven juga terlihat pada kantong suara milenial yang berumur 29 tahun ke bawah. Dukungan terhadap Olly-Steven pada segmen pemilih ini mencapai 70,3%, CEP-Sehan didukung 15,6%, dan VAP-Hendry sebesar 5,5%.

Sementara pada kantong pemilih terpelajar, dukungan untuk Olly-Steven mencapai 69%. Sedangkan dukungan terhadap CEP-Sehan sebesar 9,9% dan dukungan kepada VAP-Hendry sebesar 9,9%.  Olly Steven juga unggul telak pada kantong etnis dan suku. Dukungan untuk Olly-Steven 68,3%, CEP-SSL 13,7% dan VAP-Hendry 10,3%.

Alhasil, dari hasil survei itu pasangan petahana disebut unggul jauh dengan selisih 40% dari dua pesaingnya tersebut. Elektabilitas Olly-Steven berada pada angka 68,1%, disusul CEP-SSL sebesar 16,9% dan VAP-HCMR 7,2%.  “Sedangkan yang belum menentukan pilihan tersisa 7,8%,” kata Ikrama.

Menurut Ikrama, keunggulan Olly-Steven karena tingkat popularitas dan kesukaan kepada kedua kandidat  tinggi. Olly disebut dikenal 90,8% dan disukai sebesar 90,1%. Sementara CEP-SSL dikenal 71% dengan tingkat kesukaan 68,8%.  Dan (VAP) dikenal 63,7% dengan tingkat kesukaan 68,8%.

Approval tingkat kepuasan terhadap petahana  juga disebut mencapai di atas 80%. “Yang puas dan cukup puas dengan kinerja Olly Dondokambey mencapai 89.5%. Sedangkan yang kurang puas dan tidak puas sama sekali, turun hanya 8,5%,” jelasnya.  

“Selain kepuasan persepsi, keberhasilan petahana juga mendapat apresiasi yang tinggi. Yang menilai petahana sangat berhasil dan cukup berhasil sebesar 85,5%. Sedangkan yang menilai kurang berhasil dan tidak berhasil 8,5%,” terang Ikrama.

Pun begitu, semua kandidat masih berpeluang menarik simpati dan dukungan pemilih. Termasuk yang belum menentukan pilihan. Mengingat tahapan pilkada masih akan berlangsung selama 3 bulan kedepan.  “Kan masih ada masa kampanye lagi. Tapi jika tak terjadi suatu kejadian luar biasa, dukungan ke petahana tidak akan berubah signifikan,” timpalnya.

Lanjut Ikrama, survei ini dilakukan pada 22-29 Agustus 2020 di semua kabupaten dan kota di Sulut. “ Survei menggunakan metode multistage random sampling. Wawancara tatap muka lewat kuesioner. Untuk Margin of error 3,5%,” tandasnya.

TAUFIK : MASIH BISA TERKOREKSI

Hasil survei yang dirilis LSI terhadap para bakal calon yang akan tarung di Pilkada Sulut, sekejap jadi buah bibir di tengah masyarakat. Nada pro dan kontra bersahut-sahutan.

Pemerhati politik pun angkat suara. Salah satunya datang dari Direktur Eksekutif Lembaga Studi Sosial dan Politik Tumbelaka Academic Centre (TAC), Taufik Tumbelaka.

Rilis LSI yang menempatkan pasangan Olly Dondokambey – Steven Kandouw (OD-SK) teratas dalam survei dianggap masih wajar. Mengingat keduanya merupakan petahana yang telah memimpin Sulut hamper 5 tahun.

Sementara pasangan Christiany Eugenia Paruntu-Sehan Salim Landjar (CEP-SSL) dan Vonnie Aneke Panambunan-Hendry Corneles Mamengko Runtuwene (VAP-HCMR), baru dipasangkan.

“Saya kira tidak ada yang aneh dalam hasil survei LSI itu. Normal dan wajar-wajar saja. Kan sang penantangnya baru dipatrikan. Sedangkan petahana sudah lebih 4 tahun  memimpin,” tanggap jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu kepada Media Sulut, Senin (14/9) kemarin.

Malah menurut Bung Taufik, dari hasil survei itu diyakini akan memacu kedua rival OD-SK untuk lebih kerja ekstra. “Ini tentu akan menarik. Pesaing pasti tidak akan tinggal diam. Nanti akan ada perang strategi untuk memperoleh hasil maksimal di Pilgub,” bebernya.

Apalagi para pesaing OD-SK juga merupakan petinggi parpol, tokoh agama serta kepala daerah di tingkat kabupaten. “Jadi umumnya para pesaing Olly sudah biasa bertarung di pesta demokrasi. CEP Ketua Golkar Sulut dan Bupati Minsel 2 periode. Sehan Ketua PAN Sulut dan Bupati Boltim 2 periode. VAP Bupati Minut. Jadi, strategi yang jitu dan tim yang solid akan sangat menentukan nanti,’ ulas Taufik.

“Jadi kedepan, hasil survei ini bisa OD-SK terkoreksi naik atau turun. Begitu pula sebaliknya terhadap CEP-Sehan dan VAP-Hendry,” sambungnya.

Lanjut Taufik, akan ada irisan-irisan politik antara para kandidat. Ia mencontohan OD dan VAP yang sama-sama dari Zona Minut. Kemudian irisan politik di tubuh GMIM antara OD, Henry dan CEP. “Begitu juga dengan irisan politik antara pendukung Muslim OD dengan Sehan.  Itu akan berpengaruh nanti. Jadi pertarungan di Pilgub akan ketat,” paparnya lagi.

Tak hanya itu, para kandidat juga mengantisipasi swing voters atau para pemilih rasional yang dapat berubah pilihan sesuai dengan ide atau gagasan tertentu serta pemilih yang masih mengambang. “Itu perilaku pemilih yang biasanya sangat berpengaruh di H-10 sampai H-7. Terkadang swing voters dan pemilih yang masih mengambang itu menjadi suara yang menentukan. Intinya finishing touch bakaljadi penentu,” imbuhnya.

Ia pun menghormati hasil survei yang dirilis LSI tersebut. Survei dinilai merupakan suatu riset atau kajian akademik yang bisa dipertanggung-jawabkan. “Semua hasil survei harus dihormati. Kan mereka punya kode etik survei opini publik. Dan ada wadahnya. Mereka juga saya yakin tak hanya melakukan survei di pilkada provinsi dan kabupaten kota di Sulut. Tapi di 270 pilkada serentak di Indonesia. Kredibilitas mereka juga ikut dipertaruhkan,” kunci Putra Gubernur pertama Sulut itu.

Diketahui umumnya lembaga survei di Indonesia tergabung dalam Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) maupun Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (Aropi). Dan didalam wadah lembaga survei itu ada dewan etik.(dtc/tim ms)


Komentar